Saya mulai mengikuti serial The World of the Married setelah Trans TV menayangkannya. Mama saya yang sudah menonton drama ini lebih dulu cukup terheran-heran setiap kali melihat saya kesal selama menonton drama tersebut.

Terlepas dari tensi drama di serial tersebut, kondisi rumah tangga Ji Sun-woo dan Tae Oh membuat saya teringat pada salah satu cerita rumah tangga di dalam buku The Second Shift yang merupakan hasil penelitian Arlie Hochschild dan Anne Machung. Buku ini menceritakan kehidupan suami dan istri yang sama-sama bekerja.

Second shift didefinisikan sebagai pekerjaan tambahan di rumah selain pekerjaan formal yang dibayar. Mencuci piring, membersihkan dapur, mengurus anak, dan memasak adalah kegiatan yang dikategorikan sebagai pekerjaan, bukan hanya wujud kewajiban seorang istri.

Penelitian di dalam buku ini menyoroti perilaku suami dan istri dalam menyikapi pembagian tugas di rumah. Dari belasan cerita yang terdapat di buku tersebut, perilaku suami dan istri dalam memandang pembagian tugas pekerjaan rumah sangat dipengaruhi oleh konstruksi peran.

Hochschild membagi kontruksi peran suami dan istri ke dalam tiga jenis, yaitu tradisional, transisional, dan egalitarian. Konstruksi tradisional memandang pekerjaan rumah sepenuhnya dikerjakan oleh perempuan, sedangkan dalam konstruksi egalitarian suami dan istri memiliki tanggung jawab dengan proporsi yang sama. Konstruksi transisional adalah pandangan yang lebih moderat daripada kedua pandangan ekstrem tersebut.

Sebenarnya buku ini menitikberatkan pada permasalahan pembagian tugas dalam rumah tangga dan relatif kontras dengan permasalahan utama di drama The World of the Married. Akan tetapi, serial tersebut memiliki kesamaan dengan salah satu cerita yang terdapat di buku The Second Shift.

Penghasilan Istri Lebih Besar daripada Suami

Tae Oh adalah seorang sutradara film yang kariernya kurang cemerlang dan kebutuhan finansialnya sangat ditopang oleh penghasilan sang istri. Ji Sun-woo mampu menafkahi seluruh kebutuhan rumah tangganya karena ia berprofesi sebagai dokter dan memiliki jabatan sebagai wakil direktur di sebuah rumah sakit.

Pada saat ibunya Tae Oh meninggal, biaya pemakaman sepenuhnya ditanggung oleh Ji Sun-woo. Kondisi finansial antara keduanya akan sangat tergambar di episode ini dan sangat jelas disebut oleh salah seorang rekannya Tae Oh yang melayat kalau ia tidak mampu memenuhi kebutuhan dengan uangnya sendiri. Kondisi finansial dipandang sebagai ukuran kemandirian.

Sudah menjadi anggapan umum kalau penghasilan istri yang lebih tinggi daripada suami akan menjadi sumber cibiran orang-orang di sekitarnya. Suami akan dianggap tidak becus dan pemalas hanya karena istrinya lebih sanggup secara finansial ketimbang dirinya.

Suami tentu akan merasa tertekan dari pandangan miring semacam ini. Perasaan tertekan yang dihadapi suami kerap kali menimbulkan ketegangan rumah tangga, entah dengan perselingkuhan ataupun cekcok karena istri tidak mau berhenti bekerja sesuai permintaan suaminya.

Mereka berselingkuh agar mendapatkan istri yang lebih memiliki ketergantungan pada dirinya. Selain itu, sangat mungkin istri dipaksa untuk berhenti bekerja agar posisi suami sebagai ujung tombak keluarga dapat dikembalikan.

Di dalam buku The Second Shift, kondisi serupa terdapat pada rumah tangga Peter dan Nina Tanagawa. Nina Tanagawa berprofesi sebagai wakil presiden di salah satu perusahaan teknologi, sedangkan Peter hanya berprofesi sebagai pegawai di perusahaan penjualan buku.

Penghasilan Peter lebih kecil daripada istrinya. Nina bahkan masuk ke dalam jajaran eksekutif perempuan Amerika Serikat dengan pendapatan tertinggi pada saat itu (penelitian di dalam buku ini dilakukan pada 1970-an). Jumlah jam kerja Nina yang lebih banyak membuat Peter lebih sering berada di rumah.

Pada saat awal Nina menerima tawaran sebagai petinggi di perusahaannya, ia meminta Peter untuk lebih banyak melakukan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Tentu saja Peter menolak. Posisinya sebagai pencari nafkah sudah tergeser oleh istrinya. Jika ia harus mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak, kepercayaan dirinya dan perasaan bangganya sebagai suami akan makin rendah.

Konflik di antara keduanya tidak terhindarkan. Mereka terus mempermasalahkan pengaturan tugas di rumah. Perseteruan ini terus berlangsung hingga akhirnya sampai pada satu waktu ketika sejumlah kenalan mereka mengalami perceraian, tidak terkecuali bapaknya Peter. Peter dan Nina tidak menginginkan terjadinya perceraian.

Pada akhirnya, mereka melakukan beberapa penyesuaian. Peter bersedia mengerjakan pekerjaan rumah lebih banyak dan Nina tetap menjalani kariernya.

Peter dan Nina juga sepakat kalau Nina seharusnya lebih bersyukur memiliki seorang suami yang menerimanya dengan penghasilan tinggi. Mereka percaya kalau Peter adalah “satu dari seratus pria”. Dengan kata lain, sangat jarang menemukan suami yang mampu mendukung karier istri dan menerima istri dengan penghasilan yang melampaui penghasilan suaminya.

Dari segala upaya untuk mencegah konflik berubah menjadi perceraian, Nina berusaha memenuhi ekspektasi Peter untuk menjadi istri yang lebih bersyukur. Ia juga berusaha mempertahankan kepercayaan diri Peter dengan tidak memberi tahu kepada keluarga dan rekan mereka besaran penghasilan Nina.

Dalam satu kesempatan wawancara dengan Arlie Hochschild, Nina bahkan dengan rendah hati menganggap kalau pendapatannya membantu pendapatan Peter untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia tidak menganggap kalau pendapatannya adalah penopang kebutuhan finansial rumah tangga. Pada akhirnya mereka menyelesaikan permasalahan rumah tangganya dengan berusaha menjaga harga diri seorang suami di diri Peter.

Harga Diri Suami adalah yang Terpenting

Arlie Hochschild di dalam buku The Second Shift menemukan lebih banyak pria yang memiliki konstruksi peran yang tradisional dibandingkan wanita. Pria mungkin saja mendukung adanya pembagian tugas rumah secara egaliter, tapi ia akan tetap memiliki perasaan kalau seorang istri seharusnya lebih memiliki ketergantungan terhadap suaminya.

Dari sekian belas cerita, pembagian tugas di rumah pada akhirnya bergantung pada sikap suami, entah bersedia membantu istrinya atau tidak. Istri berusaha lebih cermat beradaptasi dengan sikap dan pandangan suaminya. Mereka berusaha semaksimal mungkin mencegah perceraian dengan menjaga emosi dan kepercayaan diri suaminya.

Tidak dimungkiri kalau konflik Tae Oh dan Ji Sun-woo terjadi karena Tae Oh memiliki konstruksi peran rumah tangga yang lebih tradisional. Jikalau ia tidak memiliki pandangan yang demikian, teman dan kerabat mereka yang memiliki pandangan seperti itu. Pada akhirnya, Tae Oh merasakan tekanan sosial bagaimana seorang suami itu seharusnya.

Cerita di serial ini pada akhirnya bukan tentang seorang suami yang tidak pandai bersyukur, tapi lebih tentang harga dirinya. Kita seharusnya jangan ikut menghakimi Tae Oh karena pendapatannya, tapi lebih kepada menjadi rekan yang tidak menjatuhkan harga diri sesamanya. 

Selain itu, menjadi pelajaran juga bagi kita agar jangan pernah membiarkan rekan dan kerabat terlibat di dalam urusan rumah tangga.