Masa depan perdamaian dunia kian menjauh. Berbagai upaya untuk menciptakan perdamaian hancur karena kesombongan, keserakahan, keangkuhan, dan tindakan tak beradab dari sebuah negara yang bernama Israel. Sejak menyatakan diri merdeka di tahun 1948, konflik berkepanjangan dengan Palestina terus terjadi hingga detik ini. Israel yang tidak punya wilayah, mengambil satu demi satu wilayah Palestina.

Sejak lima belas tahun terakhir saja, konflik antar keduanya telah mengakibatkan lebih dari 5.500 warga Palestina kehilangan nyawanya. Belum lagi ribuan yang kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan pastinya harapan untuk hidup layak demi kemanusiaan.

Bagi penulis, ini adalah sebuah tantangan besar bagi nurani kemanusiaan dunia. Apakah humanisme akan kalah “pamor” oleh barbarisme, mengingat tidak banyak yang dilakukan komunitas internasional untuk mengatasi hal ini. Di mana peran PBB selama ini? Yang mereka lakukan hanya mengutuk atau memberikan sanksi, yang Israel tidak pernah patuh akannya. Amerika serikat? Sebagai negara yang mengaku polisi dunia, harusnya mereka dapat lebih berperan membawa kedamaian, bukannya berpihak ke salah satu pihak.

Humanisme Poskolonialis

Humanisme secara umum dapat diartikan sebagai istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda, yang fokus pada jalan keluar umum terkait masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Edward Said melihat humanisme sebagai sebuah kajian poskolonialisme, yang penulis rasa tepat untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi pada rakyat Palestina.

Sederhananya, poskolonialisme menurut Said terlihat dari cara pandang dunia Barat terhadap dunia Timur (kajian orientalisme) yang selama ini selalu dalam upaya penguasaan dan penindasan.

Penguasaan dunia Barat terhadap dunia Timur terlihat dari cara pandang yang menganggap Timur sebagai "yang lain", baik itu karena bahasa, budaya, tradisi, dan segala hal yang berkaitan dengan dunia Timur. Kemudian tidak berhenti sampai situ, dunia Barat menganggap "lainnya" Timur sebagai sesuatu yang bermutu lebih rendah, sehingga perlu dijadikan sama dengan Barat yang "lebih maju". Bahkan, Barat merasa dirinya “lebih beradab” daripada Timur dengan melupakan local genius tiap-tiap kebudayaan.

Perspektif humanisme poskolonialis yang dikembangkan Said bisa dijadikan alat untuk membongkar hegemoni dan dominasi paradigma positivis-logis gaya Barat dalam membangun sebuah paradigma terhadap dunia Timur. Tidak sampai di situ saja, humanisme poskolonialis Said sebenarnya ingin menegaskan bahwa konsep humanis harus mampu melihat manusia sebagai manusia.

Selama ini, kajian orientalis versi Samuel Huntington menganggap gaya Barat yang berbasiskan positivisme-logis selalu melihat dunia Timur sebagai objek atau kelompok manusia yang berbeda dari konsep manusia yang tertanam dalam pikiran mereka.

Gelombang pemikiran ini telah memberikan andil besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap Timur, terutama dunia Islam. Caranya ialah dengan mengungkapkan kemunduran pola pikir dunia Islam dalam rangka pertarungan peradaban antara Timur dengan Barat.

Said ingin menegaskan warga negara dunia oriental adalah subjek pengetahuan juga, mereka adalah manusia yang sama memiliki rasio, sehingga oposisi biner gaya strukturalisme dan perspektif ketergantungan karya pemikir-pemikir macam Raul Prebisch dan Paul Baran, yang menyatu dengan positivisme-logis sudah selayaknya ditinggalkan.

Barbarisme Israel

Israel bisa kita kategorikan negara Barat, walau domisilinya adalah di timur, karena tingkah polahnya mencerminkan teori Clash of Civilizations-nya Huntington. Aneksasinya terhadap Palestina dapat kita "amini" sebagai sebuah pelestarian terhadap gaya berpikir strukturalis dan dependensi yang seharusnya sudah jauh-jauh dikubur apabila kita mau menjadi warga dunia yang toleran.

Barbarisme sendiri adalah sebuah kondisi di mana keadaan perabadan dalam sebuah masyarakat menurun atau peradaban dalam masyarakat sedang mengalami proses kehancurannya. Tindakan barbar dapat diartikan juga sebagai sebuah tindakan keji, di luar batas-batas kemanusiaan.

Dua terminologi ini sebetulnya pas menggambarkan Israel, pertama masyarakat Israel sebenarnya adalah sebuah masyarakat yang peradabannya sedang mengalami kehancuran kedua setelah peristiwa Holocaust. Hal ini disebabkan kecaman terhadap Israel sudah mendunia sehingga Israel terancam kehilangan kedaulatannya sebagai negara, walaupun sejak berdirinya tidak semua negara di dunia mengakui Israel.

Kedua, tindakan Israel selama ini yang terus menerus melakukan aneksasi terhadap wilayah-wilayah di Palestina dapat dikatakan sebagai sebuah tindakan barbar, karena hanya bangsa barbarlah yang mengesampingkan aspek-aspek kemanusiaan demi kepentingan pribadi semata. Ditambah lagi, selama ini penderitaan rakyat Palestina terhadap kekejaman yang dilakukan Israel, terutama di Gaza, telah mencapai titik nadir sehingga harus ada tindakan tegas dan berani terhadap Israel.

Peran PBB

Menyikapi hal ini, PBB sebagai sebuah badan dunia yang netral haruslah dapat bertindak secara tegas dan tentunya netral untuk menghentikan aksi kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Israel ini, yang telah terjadi selama 68 tahun. Karena membiarkannya hanya akan menggoyang stabilitas Timur Tengah, bahkan kemungkinan juga akan terjadi perang besar apabila tingkah Israel ini merembet ke negara-negara lain yang punya “masalah” dengan Israel, seperti Suriah atau Iran.

Turki, yang dulu dianggap sekutu Israel, bahkan sempat menarik duta besarnya dari Israel dan Presiden Erdogan pun secara langsung pernah bersikap konfrontatif terhadap Israel. Sebuah kehilangan besar bagi Israel, karena Turki dulu diangap sebagai sekutu terdekat Israel di sekitar Timur Tengah.

Tindakan Israel ini melampaui batas dan tidak bisa dibenarkan secara moral dan tentunya secara hukum. Perilakunya melanggar batas naluri bangsa berperikemanusiaan. Ini adalah sebuah ketidakadilan dan dunia harus bertindak menghentikan kekerasan ini serta juga melawan kekejaman Israel ini yang penulis analogikan sebagai sebuah tindakan savage atau tak beradab. Tidak bisa ada sekelompok manusia dengan alasan apapun membunuhi kelompok manusia lainnya di dunia ini.

Sudah selayaknya agresi Israel ini menyatukan umat manusia di dunia untuk bersama mengecam Israel dan mendukung rakyat Palestina agar bisa terbebas dari tindakan keji Israel ini. PBB harus menjadi instrumen yang menyatukan dunia dan rakyatnya, untuk bersama-sama menentang aksi barbar Israel. PBB yang didirikan untuk membawa kedamaian di muka bumi ini harus sadar bahwa tidak ada satu pun persoalan yang dapat diselesaikan dengan cara kekerasan.

Setiap kekerasan hanya akan melahirkan penindasan dan penganiayaan. Untuk itu, organisasi terbesar di dunia ini harus bersikap lebih keras terhadap Iseral, kalau perlu melakukan intervensi dengan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian (peacekeeping forces) ke Palestina.

Apa pun alasannya, Israel telah melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan yang paling dalam. Sudah waktunya dunia memaksa Israel tunduk pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang berlaku universal. Sekarang sudah bukan jamannya lagi berselisih hanya karena suku, agama, kelompok, ataupun warna kulit. Marilah kita bersatu untuk mewujudkan sebuah dunia yang mana di dalamnya hanya ada kedamaian. 

#LombaEsaiKemanusiaan