Suasana makan malam keluarga Broto yang tadinya hangat, ceria dan tidak sabar menunggu ikan goreng sambal kecombrang Mbak Pur (Putri Marino), tiba-tiba berubah menjadi duka. Anton (Darius Sinathriya), kekasih Mbak Pur, dikabarkan meninggal akibat kecelakaan. Adegan pembuka tersebut menjadi salah satu simpul konflik dalam Losmen Bu Broto.

Penonton lalu diajak menyaksikan kehidupan di losmen setahun setelah peristiwa tersebut. Mbak Pur, yang masih muram dan sensitif, adalah kepala juru masak andal losmen. Sri (Maudy Ayunda), tampak sibuk mengarahkan pegawai losmen hingga detail. Seperti jenis lampion yang sesuai dengan tamu, misalnya.

Sri tampak berbakat menjadi chief operating officer losmen. Di samping itu, Sri tetap menyanyi lagu-lagu populer di kafe. Aktivitas penyaluran bakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Bu Broto (Maudy KusnaedI). Menyanyi di kafe dianggap tidak sesuai dengan citra ideal losmen.

Bu Broto (Maudy Kusnaedi) adalah perempuan yang menjadi pusat kehidupan keluarga dan losmen tersebut. Dengan memegang teguh nilai-nilai tradisional, ia tegas mengatur detail apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari para pegawai serta ketiga anaknya.

Sementara Pak Broto (Mathias Muchus), figur kebapakan yang sabar dan bijak. Teman mengobrol yang hangat dan penasihat yang mampu meluluhkan hati. Tarjo (Baskara Mahendra) adalah anak bungsu yang malas kuliah tapi pemandu wisata andal dan teman yang menyenangkan bagi para tamu.

Harmoni keluarga yang dijaga oleh Bu Broto dengan keras ternyata menyimpan bara dalam sekam berupa persaingan saudara antara Mbak Pur dan Sri. Mereka berdua punya kecemburuan terhadap satu sama lain.

Ketenteraman dan keajekan keluarga Broto meledak hancur berantakan saat Sri mengumumkan kehamilan di luar kawinnya. Kehamilan Sri di luar kawin, tentu seperti menampar muka Bu Broto.  Jarot (Marthino Lio) adalah laki-laki yang menghamili Sri.

Masalahnya, Jarot dipersepsikan sebagai seniman yang tidak dapat bertanggung jawab dan tidak punya masa depan oleh Bu Broto, Pak Broto dan Mbak Pur. Boleh dibilang, Jarot gambaran sempurna dari bad boy yang tidak layak menjadi suami.

Apakah konflik tersebut mencerai beraikan keluarga Broto? Ketika dihadapkan pada prinsip dan kasih sayang terhadap anak, mana yang dipilih Bu Broto dan Pak Broto? Bagaimana keluarga Broto menemukan resolusi konflik mereka?

Losmen Bu Broto menceritakan konflik nilai konservatif tradisional dengan kebebasan dan modernitas. Perselisihan tersebut dibingkai dalam konteks keluarga dan bagaimana mereka menyelesaikannya dengan kehangatan serta empati.

Perspektif gender terasa mulus disampaikan dalam film ini. Tidak ada khotbah tentang isu penindasan terhadap perempuan. Tidak ada ceramah tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan perempuan dan laki-laki. 

Bu Broto mengingatkan kita pada tipologi mbok mase perempuan di Laweyan. Perempuan yang memegang peran cukup penting terhadap akses, kontrol dan manfaat ekonomi keluarga. Bu Broto dan kedua putrinya menjadi tulang punggung ekonomi. Pengambilan keputusan domestik pun ditentukan oleh Bu Broto.

Pak Broto digambarkan sebagai laki-laki yang merasa aman dan nyaman atas kepemimpinan istrinya. Ia membantu menjamu tamu tanpa mempunyai hasrat maskulin untuk mengintervensi kebijakan Bu Broto terhadap losmen. Tentu akan lebih lengkap bila Pak Broto diberi porsi peran mengerjakan pekerjaan domestik juga.

Sikap Sri yang berusaha menegaskan otentisitas diri pada ibunya serta siap bertanggung jawab sendiri atas kehamilannya juga menegaskan kemandirian perempuan. Sri tidak lantas digambarkan menjadi budak cinta yang mengemis tanggung jawab Jarot.

Konflik interior Mba Pur juga menjadi daya tarik yang kuat di  film ini. Putri Marino menyuguhkan akting sesuai standar pemenang Pemeran Utama Wanita Terbaik 2017. Pergulatan batin Mbak Pur menyembuhkan luka masa lalunya cukup subtil tapi kuat tersaji.

Peran ketiga perempuan yang menjadi sorotan dalam film ini sangat kuat memikat. Maudy Koesnaedi menunjukkan kematangan aktingnya sebagai aktris senior. Tiada memori Zaenab (Si Doel) yang lugu. Sosok Bu Broto yang matriark konservatif, teguh pendirian tapi juga memendam kerapuhan berhasil ditampilkannya.

Maudy Ayunda juga meyakinkan dalam menampilkan sosok perempuan muda modern. Figur Sri sebagai perempuan muda yang berusaha menegaskan jati diri, berorientasi pada detail, disiplin, mandiri dan terpesona pada kebebasan sangat kuat terasa disajikan Maudy Ayunda

Bila Mbak Pur banyak lebih tenggelam dalam konflik interior, Sri lebih banyak berkutat pada pertentangan eksterior. Sri mendobrak nilai dan stabilitas keluarga Bu Broto serta menghadapi sikap Jarot.

Departemen kamera dan busana berhasil memanjakan mata penonton. Nuansa tradisional dari bangunan, perabot, kostum karyawan hingga keputusan menampilkan keragaman warna benar-benar memikat. Batik keluarga Broto pun terlihat berkelas.

Sekalipun demikian, terdapat beberapa kekurangan dalam alur cerita film ini. Konflik batin Mbak Pur tidak terlalu jelas penyelesaiannya. Tiba-tiba saja ia menemukan gairah hidup yang baru. Konflik utama pun terselesaikan dengan cukup terburu-buru.

Bu Broto yang digambarkan sebagai penjaga tradisi yang teguh ternyata masih kurang didukung oleh cerita tentang tradisi apa yang sedang dipertahankannya. Dari latar belakang film, kita memang bisa menangkap Bu Broto berlatar belakang kelas priyayi Jawa.

Namun, misalnya, tidak tampak dialog Bu Broto dalam bahasa Jawa kromo inggil. Pengucapan filosofi Jawa sebenarnya bisa melengkapi pesan Bu Broto sebagai penjaga tradisi yang teguh, tetapi sayang sepanjang dialog semacam itu.

Tarjo juga tidak mendapatkan porsi peran yang sesuai. Ia tampak hanya memiliki problem minor sendiri. Problem yang digambarkan terpisah dari dan tidak berhubungan dengan konflik utama. Tarjo pun tidak dilibatkan dalam konflik utama. Walaupun ia cukup sering mendapat porsi kamera.

Losmen Bu Broto (2021) memang terinspirasi dari serial televisi Losmen karya Tatiek Malyati dan Wahyu Sihombing yang ditayangkan TVRI lebih dari tiga dekade silam. Namun tampaknya, Losmen Bu Broto merekonstruksi ulang beberapa karakter.

Bu Broto dalam serial Losmen memang berkarakter tegas. Namun ia tetap luwes dan bahkan bersikap terbuka. Pada episode “Merobek Lembaran Hitam”, misalnya, Bu Broto menepis kekhawatiran Pak Broto (Mang Udel) yang khawatir Tarjo (Mathias Muchus) jatuh cinta dengan Dewi (Marissa Hauque).

Sedangkan dalam Losmen Bu Broto, Bu Broto digambarkan sebagai matriark konservatif, serius dan tegas. Pak Broto dilukiskan sebagai bapak yang lebih sabar, luwes, terbuka dan welas asih. Pak Atmo (Sutopo HS) yang dideskripsikan sebagai asisten keluarga Broto yang santun tetapi lugu sehingga menimbulkan kelucuan direkonstruksi dalam Losmen Bu Broto menjadi karakter yang lebih aktif, konyol dan komikal oleh Erick Estrada.

Nampaknya, Losmen Bu Broto memang ingin berbicara pada generasi penonton baru yang lebih muda. Generasi yang tidak menonton serial Losmen di TVRI. Usaha membangun ulang karakter tersebut tentu inisiatif yang sah dan dalam hal ini cukup berhasil.

Konflik pola pikir dan budaya dalam Losmen Bu Broto mengingatkan penonton pada tema yang relatif sama dengan Ini Kisah Tiga Dara (2016). Film yang juga terinspirasi dari warisan klasik sinema Indonesia, Tiga Dara (1956) karya Usmar Ismail. Isu perempuan yang dianggap telat menikah dan hamil di luar ikatan perkawinan menjadi titik temu dua film tersebut.       

Serial Losmen yang ditayangkan TVRI pada dekade 1980an tampaknya sudah pantas menyandang status warisan klasik sinema Indonesia. Serial televisi Losmen, setidaknya, telah menginspirasi film Penginapan Bu Broto (1987).

Bahkan setelah lebih dari tiga dekade, serial Losmen masih menginspirasi serial Guest House: Losmen Reborn (2020) dan film Losmen Bu Broto (2021). Padahal, sangat mungkin generasi penonton tahun 2020 dan 2021 tidak pernah menonton serial Losmen 1980an.  

Kehangatan keluarga dalam menyelesaikan konflik tampaknya menjadi memori mengesankan di alam bawah sadar penonton Indonesia. Di situlah daya pikat serial Losmen.