Setiap makhluk hidup di atas dunia ini terkecuali tumbuhan dan hewan pasti pernah terlibat dengan konflik dalam menjalankan aktivitas sosialnya, karena memang sudah menjadi kodrati seorang manusia tidak terlepas dari khilaf dan salah.

Kapalo nan samo itam, pamikiran beda-beda, beginilah pola pikir dan pandangan sebagian besar masyarakat Minang dalam menanggapi sebuah konflik. Seakan-akan  konflik hanyalah sesuatu yang wajar dan biasa terjadi, sehingga dengan mudahnya  memaafkan dan memaklumi setiap kejahatan dari perilaku menyimpang yang telah dilakukan oleh orang-orang yang memang terbukti bersalah.

Dalam media sosial, baik media cetak maupun elektronik acapkali menayangkan hal-hal bersifat kontroversi yang diwarnai penuh konflik. Seakan-akan konflik merupakan satu-satunya berita yang dijadikan isu terhangat bagi penikmat dan pembaca berita di dunia maya maupun dunia nyata.

Secara tidak langsung dengan adanya pemberitaan yang tidak sesuai dengan fenomena sebenarnya, hal ini dapat mengundang opini masyarakat yang dapat menimbulkan adanya pro dan kontra dalam pemikiran, serta menjadikan masyarakat merasa “terkotakkan” karena telah terbagi menjadi dua kubu dan dua bagian pemikiran, sehingga terciptanya haters dan lovers yang seringkali menjadi pemicu berawalnya suatu konflik.

Apabila ditinjau dari aspek adat istiadat, masyarakat Minangkabau dipisahkan oleh dua kubu adat yang tegas, yakni adanya dua kelarasan yang berkembang di Minangkabau, yakni Laras (Lareh) Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago, masing-masing kelarasan memiliki pemimpin yang diyakini sebagai pimpinan tertinggi dalam adat.

Lareh Koto Piliang berada di bawah pimpinan Datuk Ketumanggungan, sedangkan Lareh Bodi Caniago di bawah pimpinan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Lareh Koto Piliang cenderung menjalankan sistem adat agak konservatif. Sementara itu, Lareh Bodi Caniago lebih demokratis, sehingga tak bisa dipungkiri bahwa kedua kelarasan adat ini lahir akibat konflik dalam dinamika keadatan dan keagamaan dalam masyarakat Minangkabau.

Walaupun demikian, kedua kubu ini tetap dalam satu dalam kesatuan masyarakat Minangkabau, Namun, politik kepentingan dan kekuasaan dalam kedua kelarasan ini sering kali berakhir dengan konflik yang tak dapat dihindari.

Sejatinya konflik telah merambah seluruh kalangan dari setiap aspek kehidupan manusia, dimulai dari kaum elit politik, kaum adat, kaum terpelajar, hingga rakya biasa sekalipun, tidak peduli laki-laki maupun perempuan pasti pernah terlibat konflik. Walaupun konflik yang dialami memiliki tingkatan yang berbeda, ada yang namanya konflik ringan, dan ada pula konflik berat yang bisa merugikan kehidupan orang lain bahkan bangsa dan negara.

Apabila konflik seperti ini masih tetap terpelihara, tidak peduli konflik ringan maupun konflik berat, tetap saja yang namanya konflik dapat memberikan dampak yang tidak baik bagi siapa saja yang terlibat dalam konflik tersebut.  hal yang patut dipertanyakan adalah di mana budaya orang Minang yang identik dengan sikap ramah tamah dan perilaku yang eloknya terhadap sesama.

Apakah memang karena sudah kemajuan zaman dan modernisasi semua kalangan cenderung menjadi individualistis dan tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitarnya.

Terbukti dengan adanya berbagai macam peristiwa atau fenomena  yang terjadi pada saat ini. Seperti, pejabat yang korupsi bukanlah suatu hal yang tabu lagi, remaja yang terlena dininabobokkan dengan hirupan heroin dan ganja, pelecehan seksual yang terjadi dimana-mana tanpa memandang usia. 

Berbagai macam kejadian yang tidak sesuai dengan akal sehat manusia normal sudah dianggap biasa terjadi, bahkan diperparah dengan karakter masyarakat yang mudah memaklumi dan menerima, padahal apa yang dilakukan telah jauh dari tahap kewajaran. Tentu semua kejadian ini dapat menimbulkan sebuah konflik yang akibatnya bisa merugikan diri sendiri, orang lain harkat dan martabat keluarga, agama, bahkan bangsa dan negara.

Patut kita sadari bahwa apabila konflik ini tetap terjaga dan terus berlangsung di tengah kehidupan bermasyarakat, menjadi pertanda bahwa konflik telah berubah wujud sebagai produk kebudayaan yang mesti terus dilanjutkan, karena sesuai pengertian kebudayaan, yakni suatu kebudayaan dapat diartikan sebagai sebuah hasil karya dan karsa manusia yang dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini terbukti dengan akar permasalahan yang tak menemui titik temu sehingga terjadilah suatu konflik yang tak kunjung usai. Konflik tetap saja dipertahankan dan dilestarikan dalam aktifitas sosial kemasyarakatan, sehingga dapat ditafsirkan bahwa konflik dianggap sebagai bagian dari hasil kebudayaan menyimpang yang terjadi dalam sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau yang dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

Terkadang dunia seakan terbalik, sesuatu yang salah bisa menjadi benar, yang benar sekalipun bisa menjadi salah. Inilah yang namanya sandiwara kehidupan, kita yang masih tinggal di negara yang sama, bahasa yang sama, bahkan satu suku yang sama, bisa saja dipecah belah oleh perebutan kekuasaan dan kepentingan. Seakan-akan perebutan kekuasaan dan kepentingan tersebut telah menjadi produk kebudayaan yang mesti dilestarikan.

Sebagaimana juga budaya, konflik telah menjelma menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan manusia. Sejatinya konflik telah ada ribuan tahun silam, fakta sejarah menjelaskan bahwa, diusirnya nabi Adam dari surganya Allah swt untuk pergi ke bumi akibat dari sebuah kesalahan yang dilakukannya sendiri.

Namun, serumit apa pun masalah, seberat apa pun konflik pasti akan menemui jalan penyelesaiannya, apabila konflik tersebut diselesaikan dengan kesadaran untuk tidak mengulanginya secara berkelanjutan dan terus berusaha secepat mungkin menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.

Mediasi atau sistem musyawarah dalam masyarakat Minangkabau adalah sebuah jalan untuk penyelesaian suatu konflik. Sehingga, konflik tidak menjelma menjadi sebuah produk kebudayaan yang  selalu diwariskan dan tidak selalu terjadi secara berkepanjangan seperti sebuah kebudayaan yang patut dilestarikan.

#LombaEsaiPolitik