Mahasiswa
3 bulan lalu · 69 view · 3 menit baca · Hukum 34713_19723.jpg

Konflik Hoaks dalam Kehidupan Masyarakat

Dalam dunia sekarang, terdapat dampak positif dan negatif di dalam perkembangan teknologi dan komunikasi di era globalisasi. 

Faktor pendukung utama yang dilakukan oleh penyebar hoaks karena dengan serba internet, dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab tersebut. Sebuah mobilitas yang tinggi, kecepatan dalam mendapatkan informasi, kemudahan berkomunikasi, pola hidup yang serba instan, dan multitasking, dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, kapan  pun, dimana saja dengan adanya koneksi Internet. 

Tentunya setiap masyarakat pada zaman sekarang mempunyai gawai masing-masing. Informasi dapat begitu cepat diterima setiap masyarakat. Keberadaan media cetak dan elektronik semakin tergeser.

Hal ini sebuah media-media massa tersebut telah menjadi sebuah bagian rutinitas kebiasaan. Yang pada sebelumnya koran, radio, televisi, kemudian dimanfaatkan oleh setiap masyarakat. Dan kini adanya blog, twitter, facebook, instagram, line, dan lain-lain. 

Para warganet (sebutan untuk orang yang berinteraksi atau ada di dalam dunia maya/internet) langsung percaya dan akhirnya meneruskan kembali, meneruskan kepada kenalannya, atau mengomentari segala info yang didapat sehingga menjadi viral (terkenal).

Hoaks sendiri sudah beredar sejak tahun 1943, dari sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak. Unsur dari hoaks merupakan hal yang sama dengan unsur "penipuan", akan tetapi tidak terdapat perpindahan fisik yang terjadi.

Sebuah hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Kemudian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebuah berita bohong (KBBI, 2017). 

Sedangkan dalam menurut Oxford English Dictionary, hoax diartikan sebagai “Malicious Deception” (Oxford English Dictionary, 2017) atau sebuah kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat, baik itu demi keuntungan seseorang atau di sini adalah sang si penyebar hoaks atau dapat juga untuk menyebarkan kebencian.

Sementara media sosial adalah sebuah media online yang dimanfaatkan sebagai sarana pergaulan antara sesama secara online di internet. Seperti youtube, facebook, twitter, blog, dll. 

Selain dari media sosial, penyebaran berita hoaks bisa juga dilakukan dengan gosip antara sesama dalam menyebarkan berita palsu (hoaks). Gosip adalah suatu informasi/berita yang sumbernya belum jelas yang dibagikan kepada orang lain dari satu orang ke yang lain.  

Dalam konteks agama (Islam) menganggap hal ini tentunya dapat memicu masalah seperti rasisme, perselisihan, pertentangan. Konteks agama sering kali menjadi sebuah objek hoaks yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab tersebut.  

Dalam sejarah agama Islam pada tahun 41 Hijriyah, berita bohong atas nama Nabi diproduksi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan pada era tersebut. Berita bohong/hoaks itu dianggap sebagai penyebab pertama dan berdampak guncangan besar bagi sebuah tatanan bagian keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu Alaihi Wasallam.

Kemudian dalam hukum penyebar berita hoaks ini ada terdapat sanksi hukum yang tegas, dan dengan kemudian diatur dalam kitab UU hoaks. 

Berdasarkan UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), bahwa ada 3 jenis konten hoaks yang dapat dipidana penjara 4-6 tahun dan dengan denda maksimal Rp750 juta hingga Rp1 miliar berdasarkan UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008.

Seiring berkembangnya teknologi, yang ditunjang pada penggunaan internet dalam media sosial menjadi sebuah wadah dalam melakukan aktivitas yang menjadi bagian pokok dan penting bagi banyak orang.

Para pelaku oknum-oknum tidak bertanggung jawab melakukan aksi menyebarkan berita palsu/hoaks untuk memperoleh keuntungan bagi pribadinya tetapi merugikan orang lain. Penegakan sanksi hukum yang tegas harus ditingkatkan dan dijalankan dengan baik agar bisa memberikan dampak

Dalam menyikapi akan hal ini, memang Internet dapat digunakan karena ada dampak positif juga. Tetapi ada negatifnya, tentunya tidak menghilangkan akan kebiasaan yang lama dan beralih ke media digital sepenuhnya. 

Sehingga tidak akan terjadi salah informasi/berita tidak benar yang telah didapat. Jika Internet digunakan dengan baik dan bijak, maka tidak akan terjadi hal-hal negatif yang merugikan banyak orang yaitu hoaks.