Akhir-akhir ini dunia global dihebohkan dengan konflik ketegangan Israel-Palestina dalam kepemilikan Masjid Al-Aqsa. Konflik tersebut bukanlah konflik yang baru santer diperdengarkan oleh media sosial namun konflik Israel-Palestina telah macet sejak lebih dari satu dasawarsa lamanya. Langkah Israel melakukan penutupan kemudian memasang detektor logam di pintu masuk Masjid Al-Aqsa menimbulkan kontroversi yang menjadi puncak ketegangan Israel-Palestina. Ironi terjadi bila kita merambah mesin pencari Google. 

Ketika kata 'Masjid Al Aqsa' diketik, jutaan warta yang muncul adalah seputar konflik antara warga Palestina dan Israel. Saat mengalihkan kursor ke menu gambar, kebanyakan yang tampil adalah foto-foto para pemuda yang melemparkan batu ke arah tentara Israel yang bersenjata lengkap. Tindakan tersebut menggambarkan perilaku tidak terima dan menentang kuat bila hak asasi beragama Islam untuk melangkahkan kaki ke masjid yang begitu dimuliakan oleh umat muslim di dunia ini dicabut begitu saja oleh negara yang tak punya malu, yang menjadikan masjid kebanggaan Islam menjadi masjid golongan tertentu. Miris sekali tentunya, banyak hak asasi manusia yang dilanggar habis-habisan dalam kasus ini. Kasus yang tak bermoral, yang berani membangunkan kutukan negara – negara islam lainnya untuk membela tanah Palestina yang telah dijarah penjajah Israel selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Puncak bentrokan di area Al-Aqsa terjadi menjelang shalat Jumat pada 21 Juli 2017 (Baca Disini). Polisi Israel membatasi orang-orang yang masuk ke dalam kompleks Kota Tua di bagian Yerusalem Timur. Mereka melarang orang-orang di usia di bawah 50 tahun, masuk ke dalam masjid. Di hari yang sama, seorang Palestina mendobrak masuk ke sebuah rumah Yahudi di Neve Tsuf di Tepi Barat dan menikam 4 orang Israel. Konflik antara Israel-Palestina di wilayah kompleks Masjid Al-Aqsa bukan baru kali ini saja terjadi. 

Bila kita membuka lembaran lama, ketegangan antara Israel-Palestina terlihat dari aksi pembakaran masjid Al-Aqsa pada 21 Agustus 1969. Masjid suci umat Islam itu dibakar oleh zionis asal Australia, Denis Michael Rohan. Saat kebakaran, tidak ada petugas pemadam kebakaran yang dengan segera memadamkan api. Jemaah masjid dan warga muslim saling membantu untuk memadamkan api. Insiden kebakaran itu menimbulkan dugaan konspirasi dengan keterlibatan pihak Israel. Rohan ditangkap dua hari kemudian kemudian dibebaskan. 

Pemerintah Israel menyebut Rohan tidak waras dalam melakukan aksi itu. Semakin menelisik lebih dalam lagi konflik Israel – Palestina juga terjadi pada tahun 1982, seorang mahasiswa bersenjata menyerang Masjid Al-Aqsa melalui Gerbang Chain (Chain Gate). Aksi itu diawali dengan penyerangan terhadap dua orang penjaga masjid. Kemudian pada 15 Januari 1988, pasukan Israel menembakkan gas air mata ke jemaah di Masjid Al-Aqsa dan Dome of The Rock. Selain itu, pasukan juga menembakkan peluru baja berlapis karet. Kejadian itu melukai 40 orang.

Untuk pertama kalinya, pada 30 Oktober 2014, Israel menutup masjid Al-Aqsa. Penutupan dilakukan sebagai reaksi atas penembakan rabi Yehuda Glick. Besoknya, Israel mengumumkan membuka Masjid Al-Aqsa untuk umat Islam setelah adanya seruan dari Arab dan Amerika Serikat. Bentrok seolah tak berujung, pasukan Israel kembali menyerang warga Palestina. Pada 26 Juli 2015, sebanyak 19 penjaga Masjid Al-Aqsa bentrok dengan pasukan Israel. Mereka menyerbu masuk ke dalam masjid saat bentrok dengan warga Palestina. 

Umat Muslim marah lantaran dibuka akses masjid bagi Yahudi untuk merayakan Tisha B'av. Begitu banyak rentetan konflik yang menguji kerukunan beragama Israel-Palestina yang tak bisa diredam oleh pihak manapun, upaya-upaya bahkan kecaman dari dunia global tidak mampu meruntuhkan niat Israel untuk mengusik tanah Palestina. Banyak penyebab timbulnya konflik yang telah dimulai setelah perang dunia kedua ini, ketika masyarakat Israel (yahudi) berpikir untuk memiliki negara sendiri.

Menurut sejarah mereka keluar dari tanah Israel setelah Perang Salib karena dituduh pro-Kristen oleh tentara Islam, yang kemudian ditinggali oleh orang-orang Filistin atau Palestine. Pikiran berbentuk zionisme yang didorong oleh genosida oleh Nazi pada perang dunia kedua. Pilihan letak negara itu tentu saja adalah tanah leluhur mereka yang pada saat itu merupakan tanah jajahan Inggris karena secara leluhur mereka memilikinya tapi juga secara religius beberapa tempat keagamaan Yahudi ada disana.

Meskipun tidak secara terbuka, negara-negara barat setuju dan mendukung (alasannya karena sebelum orang Palestina tinggal disana, tanah itu adalah milik Israel). sebaliknya negara-negara Arab berargumen bahwa adalah karena Jerman yang melakukan genosida maka tanah Jerman lah yang harus disisihkan untuk dijadikan negara Yahudi. Dibalik semua intrik politik dan keuntungan dan kerugian politik serta rencana strategis bernegara. Inggris secara sukarela mundur dari negara yang telah diperebutkan kepemilikannya tersebut dan memberikan siapa saja untuk mengklaimnya, berhubung Israel lebih siap maka mereka lebih dahulu memproklamirkan negara. 

Sebaliknya orang-orang palestina yang telah tinggal dan besar disana tidak mau terima mejadi bagian negara Yahudi (dalam literatur doktrin Islam pemimpin negara harus seorang Muslim), sehingga bangsa Israel kemudian melihat orang Palestina sebagai ancaman dalam negeri, begitu juga dengan bangsa Palestina yang menganggap Israel sebagai penjajah baru. 

Hasilnya bisa ditebak, perang dan konflik yang telah berbelit-belit. yang sebenarnya adalah urusan antara dua negara/bangsa menjadi konflik antara agama (Yahudi vs Islam) belum lagi stabilitas kawasan timur tengah dan ikut campur Amerika dengan kebijakan Minyak mereka. Jadi sebenarnya dilihat dari sejarah tanah penjajahan Israel – Palestina, masalah dasar penyebab konflik Israel – Palestina yang menimbulkan ribuan darah menetes dan jutaan nyawa melayang tidak ada hubungannya dengan orang Palestina itu beragama Islam atau orang Israel itu beragama Yahudi, tapi masalahnya adalah "Tanah dan Kekuasaan".

Alasan Dasar Perebutan Kota Suci Jerusalem yakni pertama dapat dilihat dari segi ekonomi. Presiden Bill Clinton sudah menjelaskan hal ini di Gedung Putih dalam wawancaranya dengan koran Otto Citizen Canada pada tanggal 1 Desember 2000, bahwasanya “kota Jerusalem akan menjadi tempat tujuan utama para turis internasional dan para pelancong dunia dalam sejarah keparawisataan” dan karenanya pula ia berusaha merayu Presiden Yasir Arafat agar mau memindahkan masjid Al-Aqsho dari sana. 

Pada realitasnya, sesungguhnya musuh Israel dengan usaha keras mereka untuk menguasai kota Jerusalem dan kota Jerusalem yang lama dengan seluruh mesjid dan gereja yang ada di dalamnya. Mereka ingin menguasai dan menjadi koordinator tunggal untuk mengurusi para Haji dan Kristiani ke sana dan mereka pula yang mengurusi kunjungan umat Islam untuk menyempurnakan Hajinya.

Dan ini akan mendatangkan pendapatan devisa yang sangat besar yang mereka dapat dari kunjungan umat Kristiani dan umat Islam, bukan kunjungan para turis internasional seperti yang diungkapkan Bill Clinton pada wawancara dengan Koran Otto. Alasan penyebab konflik dapat dilihat dari segi politik. Alasan ini terealisasikan lewat program mereka untuk menjadikan kota Jerusalem lama yang memiliki posisi yang strategis dan sejarah panjang menjadi “Ibu Kota Negara yang Abadi” menurut keyakinan mereka), yang dari sanalah mereka akan menguasai seluruh wilayah sekitarnya.

Bariz, seorang politisi Lebanon pernah bercerita ketika ada pertemuan di PBB setelah Zionis Israel mencaplok Libanon pada tahun 1982, ketika Perdana Menteri Israel pada waktu itu Manahen Begin, mengundang mantan Perdana Mentri Libanon Kamil Syam`un untuk mengunjungi kota suci Jerusalem. Seperti diceritakan oleh Kamil Syam`un dalam otobiografinya dalam bahasa Prancis, manahen Begin berprilaku seolah-olah ia “Raja Sulaiman” sedangkan Kamil Syam`un diberlakukan seolah-olah salah satu raja “Al-guwaiyiim” ( buta huruf /bodoh) di masa mendatang. Yang datang dari kota “Shuur” untuk menyembahkan rasa tunduk dan loyal kepada raja “Israel” yang baru. 

Penggalan cerita ini sudah cukup sebagai simulasi untuk menjelaskan alasan yang sangat esensi yang terwujud lewat aturan yang ada di Timur Tengah. Sebuah aturan dan undang-undang yang ingin diberlakukan secara paksa oleh Amerika Serikat kepada seluruh wilayah itu, dengan kerja keras untuk menyamakan aturan bagi warga Arab bagaimanapun caranya. Penyebab konflik Israel-Palestina dapat ditelisik dari segi historis yang melibatkan kedua negara yangtengah berkonflik tersebut. 

Dengan alasan perang budaya, maka merebut kota suci Jerusalem dan menguasai seluruh barang bersejarah umat Islam dan Kristen di kota itu merupakan kemenangan budaya Barat atas budaya Arab Islam. Dengan keunggulan dan hegemoni politik Barat mengajak sekutunya untuk mengusik “dendam sejarah masa lalu” yang berkobar dalam jiwa dan dada mereka atas budaya Arab Islam yang mengalahkan mereka dalam perang orang-orang Barat delapan abad yang lalu.

Problematik Israel versus Palestina sejatinya tidaklah se-complicated Arab spring dan konflik Suriah. Pasalnya, pelaku dan aligator konfliknya sangat jelas. Inilah bentuk ketidakadilan global yang mencederai kemanusiaan. Inilah sebetulnya terorisme dalam bentuknya yang nyata. Selama ketidakadilan ini masih dipertontonkan, selama itu pula bangunan kemanusiaan akan terusik. Deradikalisasi dan kontraradikalisme yang sangat fasih kita lantunkan dalam banyak forum kita dihadapkan dengan hegemoni Israel mendadak fals.

Itulah sebabnya sampai hari ini PBB belum dapat merumuskan definisi 'terorisme' karena dari semua variable of terrorism, Israel selalu masuk di dalamnya. Kita sibuk menangani hilir hingga lupa hulu masalahnya. Sejatinya yang diharapkan Palestina ialah keadilan dan hak kemerdekaan. Hadirnya negara Israel adalah jelmaan ideologi rasialisme dalam tatanan ketertiban dunia. Bagaimana tidak, kehadirannya harus meniadakan entitas bangsa Palestina. Bahkan geografi tanah leluhurnya tiap waktu berkurang. 

Tanggal 14 Juli 2017 ialah bukti kejahatan kemanusiaan Israel terhadap Palestina. Mereka tidak hanya membunuh fisik Rakyat Palestina, tapi juga mencoba membunuh 'Tuhannya'. Masjid Al-Aqsa ditutup, adzan dilarang, orang salat ditendang, dan diancam dengan moncong senapan mematikan. Dunia tidak boleh diam. Banyak negara seperti Mesir, Swedia, dan Prancis memelopori PBB untuk mengambil langkah konkret kebiadaban ini.

Dua cara yang bisa meredam konflik ini adalah Palestina akan menerima perdamaian dan menjadi bangsa yang merdeka dengan syarat tanah yang sudah dirampas Israel sejak 1967 harus dikembalikan ke Palestina serta cara kedua adalah Israel membebaskan Masjid Al-aqsa untuk dijadikan tempat ibadah oleh umat muslim dunia.