Suami atau pacarmu wartawan? Sesekali, cobalah periksa isi tas ranselnya.

Jangan terkejut jika kamu menemukan sebungkus kondom. Bisa jadi malah satu kotak. Seperti yang saya temukan sore kemarin. Saat tengah beberes rumah dan merapikan apa saja yang tampak berantakan. Termasuk ransel si uda.

Hati istri mana coba yang tidak hancur menemukan kondom di tas suaminya? Sedang ia tahu sejak awal mereka tidak pernah menggunakan alat bantu itu dalam berhubungan.

Sebagian istri mungkin akan marah besar dan mengajak duel suami walau ujung-ujungnya dia juga yang akan menangis histeris. Sebagian yang lain barangkali hanya merasakan badan lemas, wajah pias, dan otak kebas. Mengurut dada seakan marah dan kecewa bisa turun karena urutan itu.

Saya, kebetulan atau bukan, tidak termasuk keduanya. Apakah saya marah? Ya pasti. Tapi saya memilih diam dan duduk tenang lalu mengambil handphone dan mulai mengetik pesan.

“Aku menemukan kondom di tasmu.”

Terkirim. Beberapa menit kemudian, dua centang berubah biru. Ah, dia sudah membacanya.

“Oh itu,” balasnya.

Segitu saja? Hmmm, dia rupanya sedang menguji kesabaran seorang mamak muda.

Tak lama, bunyi pesan masuk lagi.

“Kan memang sengaja untuk jaga-jaga.”

“Jaga-jaga apa? Kamu main dengan perempuan lain?”

“Sondeeeee,” jawabnya lagi.

Lalu tak ada lagi pesan masuk. Saya pun malas bertengkar di WA. Biar saya tunggu saja ia pulang.

Tak berapa lama, terdengar bunyi vespa masuk halaman. Tanpa menawarkan minum atau layanan di kasur untuk suami yang baru pulang seperti dianjurkan ustaz-ustaz sotoy di YouTube, saya memberondong suami dengan tanya.

Lalu terjadilah percakapan yang membuat saya malu kutu. Percakapan yang membawa satu pengetahuan baru tentang fungsi out of the box kondom selain yang selama ini diketahui pasutri karena jamak diiklankan media. Tapi yang dimaksud dalam percakapan kami tentu adalah kondom standar, bukan yang pakai getar, dot, atau ditambahi aneka rasa buah-buahan. Ahay.

Menurut si uda, bagi jurnalis, kondom adalah properti wajib yang harus dibawa. Terlebih bagi para jurnalis investigasi. Gunanya? Untuk pengamanan. Pengamanan apa? begini ceritanya.

Dalam memburu berita, ada kalanya wartawan investigasi berhadapan dengan medan yang sulit. Pekerjaan yang penuh risiko dan unpredictable adalah bahan bakar yang mengharuskan mereka selalu dalam kondisi siaga. Antisipatif. Pengamanan terhadap keselamatan diri sendiri dan peralatan berburu berita harus jadi standar laku sehari-hari.

Nah, biasanya akan ada kondisi eksternal di mana selain mereka harus melindungi diri juga peralatan seperti kamera, handphone, tape recorder, chip data atau note block yang berisi informasi penting. Contoh ketika mereka berada di lautan atau sungai yang rentan menyebabkan tenggelam. Masuk hutan berhari-hari dalam guyuran hujan dan atau ancaman binatang buas.

Kondom adalah senjata pamungkas ketika tidak lagi tersedia alat lain yang bisa dipakai untuk melindungi properti berita. Teksturnya yang tahan air, lentur dan fleksibel, sangat efisien untuk meringkus barang-barang.

Dalam kondisi terdesak di perairan, kondom juga bisa digunakan sebagai pelampung. Caranya seperti mengembangkan balon. Kita harus meniupnya sampai ukuran maksimal, lalu diikat ujungnya. Dalam kondisi ini kita membutuhkan dua lembar kondom, masing-masing untuk dikepit di bawah ketiak kanan dan kiri. Sejak itu saya jadi tahu kalau kondom dicipta seperti rahim perempuan. Bisa melar sampai ukuran tertentu.

Tentu ada juga jurnalis yang membekali dirinya dengan perlengkapan beli jadi yang banyak dijual online, seperti raincoat protector, ransel kanvas atau kantong bahan mika. Ada juga jurnalis yang tidak mengantisipasi apa pun. Yang terakhir ini biasanya punya kesaktian tertentu seperti kemampuan mengusir hujan atau ajian penolak bala. Tapi bagi jurnalis yang bekalnya hanyalah cita-cita dan harapan, keberadaan kondom di tasnya tentu akan sangat berguna.

Saya manggut-manggut mendengar penjelasan suami.  Saya jadi punya ide norak untuk meluaskan pengetahuan yang bagi saya baru. Maka jadilah tulisan yang sedang Anda baca ini.

Selain itu, saya juga berencana meluaskannya pada rekan-rekan kerja saya di salah satu NGO lingkungan. Seringkali pekerjaan mengharuskan kami berhari-hari menjelajahi hutan, sungai, dan alam terkembang untuk memeriksa keadaaan. Saya sendiri berkali-kali berperahu membelah sungai dan rawa sampai kuyup. Kerap di hulunya yang berarus deras dan berbatu, perahu oleng dan terbalik.

Bayangkan berapa rupiah yang bisa dihemat dalam pekerjaan kami nantinya. Juga bawaan berkelana yang jadi lebih enteng.

Sebelumnya saya terbiasa membawa peralatan yang sudah jadi, seperti tas kamera tahan air yang tebal, ransel kanvas, kantong mika juga pelampung standar bencana yang dikempeskan. Harga barang-barang itu jangan ditanya karena fungsi tambahannya. Jelas jauh lebih mahal dari kondom yang berkisar Rp5000 saja per lembarnya

Nah, mengingat kondom punya fungsi penyelamatan saat kepepet, mungkin ada baiknya bagi Anda juga menyediakan minimal selembar kondom dalam kantung celana atau dompet untuk berjaga-jaga. Selain bisa digunakan untuk fungsi yang sudah disebutkan, siapa tahu di tengah situasi pandemi yang belum lagi berakhir ini, Anda juga bisa menggunakannya sebagai  ganti sarung tangan plastik iika tidak tersedia sabun pencuci tangan.

Pokoknya, the power of kepepet-lah. Selain tentu saja Anda tetap bisa menggunakan dalam fungsi aslinya di mana pun Anda dan pasangan tengah mengembara.

Akhir kata, tulisan ini tidak disponsori oleh perusahaan kondom mana pun.