Mahasiswa
2 bulan lalu · 50 view · 5 min baca menit baca · Media 34600_64141.jpg

Konatif Kertas dan Plastik

Ketika kita dihadapkan pertanyaan tentang keunggulan dan kekurangan antara kertas dan plastik, maka itulah diskursus. Beberapa jawaban menyebut kertas lebih baik. Begitupun sebaliknya, beberapa jawaban menyebut plastik lebih baik. Saat itulah terjadi sebuah diskursus hingga menghasilkan sebuah keputusan dan sikap.

Baik kertas ataupun plastik sama-sama anorganik dan recycleable. Sampahnya sama-sama mempunyai nilai ekonomis. Walaupun ada perbedaan durasi pengolahannya. Diskursus semakin tajam ketika menyinggung bab bahan bakunya. Kemudian memanas saat dihubungkan dengan lingkungan hidup. Begitu seterusnya.

Salah satu cara efektif untuk mengelolah diskursus permasalahan kertas dan plastik adalah lewat gerakan literasi. Penyadaran dengan empat kekuatan aspek literasi yang berupa menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Hingga literasi dalam artian luas seperti kemampuan orasi. Inovasi ini berbentuk penyadaran-penyadaran massal.

Secara umum penyadaran lewat literasi tidak selalu terlihat sebagai produk hardware. Ataupun tidak selalu mempunyai output berupa rumus-rumus mekanik dan kimiawi bahkan mesin. Namun perlu diketahui bahwa kekuatan literasi dalam diskursus permasalahan kertas dan plastik adalah sangat besar.

Inovasi ini memerlukan teknik cepat dan tepat dalam usaha penggiringan opini masyarakat. Agar kenyataan yang ada tersampaikan. Hingga chaos atau hal lain yang tak diinginkan dapat dibendung. Bentuk chaos tidak selalu identik dengan kerusuhan fisik. Sikap antipati terhadap permasalahan adalah chaos terkecil.

Literasi sebagai inovasi yang dimaksud yang bermakna luas. Bukan saja hanya dipahami sekadar membaca dan menulis. Tetapi lebih pada memanfaatkan informasi dan bahan lainnya untuk menjawab diskursus permasalahan kertas dan plastik hingga menghasilkan ide-ide baru sebagai sebuah solusi.

Maka muncul apa yang disebut dengan literasi media. Literasi dengan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Adapun misinya ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media menjadi sadar tentang cara media dikonstruksi dan diakses serta seluk beluk permasalahannya.


Media seringkali dianggap sebagi sumber kebenaran. Padahal ada sisi lain yang harus diwaspadai yaitu media memiliki kekuasaan secara intelektual di tengah publik dan menjadi media propaganda untuk pihak yang berkepentingan dalam memonopoli makna yang akan dilempar ke publik.

Disinilah terlihat media bebas untuk merekonstruksikan fakta dan data untuk penggiringan sebuah opini publik. Literasi media merupakan bagian dalam kebebasan pers. Sangat diharapkan netral berdiri. Agar sebuah diskursus dapat dipecahkan menjadi sebuah sikap positif.

Baik opini publik ataupun kebebasan pers adalah bentuk afektif. Sikap yang berhubungan dengan perasaan. Sedang prilaku atau konatifnya masih belum bisa terbentuk. Perlu sebuah kognitif yang lurus. Misal dalam kasus ini menjelaskan bagaimana kertas dan plastik itu sebenarnya.

Setelah proses kognitif yang lurus maka lahirlah apa yang disebut dengan literasi konatif. Genre literasi perlawanan yang kritis dan mempunyai daya gempur serta pertahanan yang tangguh. Kemampuan ini sangat dibutuhkan dalam memahami diskursus kertas dan plastik. Jelas beda antara kognitif dan konatif.

Literasi konatif bertolak dari perspektif pedagogi kritikal. Literasi konatif dapat digunakan untuk mengupas teks surat kabar, berita televisi, film, media sosial. Atau apapun itu yang kita dengar dan kita lihat di sekitar kita. Literasi konatif mengutamakan prilaku. Tidak sekedar sebuah formalitas aksara.

Sedang UNESCO mendedah literasi cukup sempit. Sebagai seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.   

Literasi konatif menitikberatkan pada kritikal teks. Hingga menghasilkan sebuah keputusan prilaku atau konatif. Kemampuan untuk mendorong para pembaca agar bisa aktif menganalisis teks dan juga mengungkapkan pesan yang menjadi dasar argumentasi teks serta mengambil sikap tegas dalam bentuk keputusan prilaku.

Ada juga yang telah memasukkan unsur kemampuan akses informasi dan pengetahuan ke dalam definisi sebuah literasi. Menitikberatkan dan berbasis pada keahlian dan skill. 

Literasi konatif bisa juga disebut sebagai sesuatu yang diterapkan. Seberapapun kadarnya. Yang pasti sudah berbentuk prilaku nyata dalam kehidupana. Literasi konatif juga merupakan sesuatu yang disituasikan. Sesuatu yang dapat dikontrol dan diamati.

Literasi konatif dibangun dengan makna mendalam dan holistik. Menyentuh sisi-sisi kesadaran individual dan kolektif. Juga merupakan proses belajar yang bertujuan melahirkan kesadaran kritis pada individual atau kelompok yang bersifat otonom, memanusiakan, dan memerdekakan.

Propaganda tentang kertas dan plastik bisa berdampak luas ke masyarakat. Dan juga  memiliki pengaruh jika ada peran media. Dalam hal ini berhubungan penyebarluasan atau publikasi sebuah karya. Bentuknya variatif baik cetak atau melalui media online.


Karya yang dipublikasikan bertujuan untuk memberi dampak positif dan memiliki pengaruh bagi perkembangan wawasan bagi masyarakat. Ragam karya yang diciptakan dapat mempengaruhi para pembaca. Pengaruh inilah yang dapat menjadi sebuah kebiasaan atau karakter. Disinlah literasi konatif berperan.

Pengembangan kekuatan literasi konatif seperti yang dilakukan Asia Pulp & Paper Sinar Mas bersama Qureta, media komunitas dan pengembangan kemampuan menulis yang telah sukses menyelenggarakan pelatihan penulis yang menghasilkan forum penulis bertajuk “Cerita Kertas”.

Upaya tersebut merupakan bentuk nyata sebuah konatif atau prilaku. Berguna untuk meningkatkan ketajaman mata literasi. Juga memberikan stimulasi diskursus isu kertas kepada masyarakat. Misinya untuk menegaskan pentingnya membangun narasi yang positif tentang kertas.

Kertas dan plastik telah berjasa bagi kehidupan manusia. Kertas dan plastik memainkan peran penting di kehidupan modern. Melalui pelatihan menulis yang diselenggarakan APP Sinar Mas dan Qureta akan membekali bagaimana memahami sebuah diskursus tentang plastik dan kertas yang lahir di masyarakat.

Donasi buku juga salah satu hasil spirit literasi konatif. Seperti yang dilakukan oleh Harian Kompas dan Asia Pulp & Paper (APP)-Sinar Mas dalam donasi buku-buku favorit untuk disalurkan ke daerah yang membutuhkan. Termasuk juga yang telah dilakukan oleh PBI, Pustaka Bergerak Indonesia.

Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) adalah jaringan masyarakat madani yang secara sukarela bekerjasama untuk membangun kekuatan dan kemandirian masyarakat lokal dalam menyebarkan bacaan bermutu dan membangun budaya ilmiah, khususnya di wilayah yang sarana perhubungannya masih kurang berkembang.

Masyarakat bisa mengirim buku gratis sebanyak-banyaknya lewat PT Pos setiap tanggal 17 setiap bulan. Program kirim buku gratis melalui PT Pos ini sangat bermanfaat bagi peningkatan literasi anak bangsa. Khususnya bagi anak di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T).

Karakter yang terus menerus dibiasakan akan menjadi sebuah budaya. Budaya pada umumnya sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada individu atau kelompok. Kekuatan literasi konatif dapat menjadikan seseorang kaya akan wawasan dan pengetahuan. Budaya menghemat kertas. Budaya mendaur ulang plastik.

Kekuatan literasi konatif menjadikan seseorang terampil dalam mengolah wawasan dan pengetahuan yang dibuktikan melalui karya. Karya yang dipublikasikan menjadi ukuran bahwa literasi konatif sebagai budaya mampu hadir dan berkembang dalam sebuah diskursus.

Literasi konatif adalah ladang persemaian nalar kritis. Penganutnya diupayakan hidup dalam gelimang cinta yang besar terhadap budaya diskursus. Berguna untuk menghadapi masyarakat yang dibanjiri informasi sampah, berita bohong, berita palsu, perundungan atau bahkan fitnah keji.

Literasi konatif akan mendorong keharusan seseorang untuk ikut bertanggungjawab dan bersikap terhadap situasi yang terjadi di lingkungan. Budaya literasi konatif pada dasarnya tidak mempraktikkan perilaku dogmatis yang kaku dan otoriter.


Literasi konatif bukanlah sebuah sikap pasif terhadap sebuah bacaan, wacana ataupun kejadian yang tak boleh dibantah dan hanya perlu didengar, dilihat serta diikuti saja. Namun pada dasarnya meminta kita untuk membaca, mendengar, melihat dan berdialog dengan bacaan, peristiwa ataupun kasus yang terjadi.

Literasi konatif menggugah pikiran secara aktif hingga pada akhirnya dirangsang untuk mengungkapkan pikiran kita sendiri. Bisa melalui lisan, tulisan atau apapun bentuknya. Sehingga menghasilkan sebuah sikap, keputusan dan prilaku positif.

Artikel Terkait