7 bulan lalu · 164 view · 5 menit baca · Pendidikan 29590_80532.jpg
designby.vitaelenology.net

Komunitas Interfaith dan Literasi Damai

Belakangan ini, situasi negeri semakin panas. Tidak hanya cuaca atmosfer, namun juga kondisi keamanan, kenyamanan, dan keharmonisan masyarakat Indonesia yang multikultural pun cenderung mendekati titik didihnya—dengan ditandai maraknya konflik-konflik, diskriminasi, dan perbenturan antar-perorangan maupun antar-golongan.

Hal tersebut dapat teramati, umpamanya, pada momentum terdekat beberapa waktu silam. Ajang pilkada serentak tidak dapat dielakkan telah memicu banyak perdebatan di kalangan atas dan sampai merambah ke pertikaian antarwarga di tataran bawah—masyarakat pendukung masing-masing pasangan calon di desa-desa.

Kemudian, jika menengok lebih jauh ke belakang, fenomena ‘pemanasan-sosial’ tersebut diperkuat dengan tragedi memilukan, yaitu pengeboman 4 titik di Surabaya 13 Mei 2018. Terjadi tepat di saat penyelenggaraan Istighosah Akbar di Polda Jatim pada malam harinya sehingga acaranya pun tidak berjalan lancar akibat pengeboman ke-5 di Sidoarjo.

Aksi teror di atas agaknya menunjukkan suatu kabar penting. Bahwa bukan karangan fiktif belaka jika para elite-intelektual di Eropa mengatakan zaman sekarang adalah the era of disruption dan orde post-truth. Masa penuh kekacauan dan kebenaran pun bertransformasi menjadi bentuk yang lain.

Fase peradaban yang dipenuhi dengan pencapaian-pencapaian artifisial, kecanggihan teknologi mutakhir, tetapi sekaligus diwarnai pusparagam kerusuhan. 

Sementara wajah dunia terlihat kering akan kebahagiaan dan krisis keharmonisan. Kebahagiaan yang sering dipertontonkan pun itu tidak lebih dari sekadar pseudo-happiness (baca: kebahagiaan semu).

Dari sinilah diperlukan adanya tindakan dan campur-tangan semua pihak untuk segera mengatasi aneka perpecahan dan pertikaian. Paling tidak, ikut mencegah pecahnya konflik-konflik baru dalam rupa yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Maka, komunitas interfaith—sebagai salah satu wujud realisasi dari pertemuan antar-sesama manusia dengan latar belakang yang variatif—turut diharapkan pula kontribusinya. Terutama dalam menumbuhkan kembali anasir-anasir keharmonisan demi tercapainya perdamaian di tengah situasi zaman yang makin runyam dan memiriskan hati.

Upaya Deradikalisasi di Kampus dan Tindakan Preventif atas Violent Extremism

BBC News Indonesia pernah mempublikasikan informasi bahwa Badan Intelijen Nasional (BIN) telah menemukan 39% mahasiswa Indonesia berideologi radikal. Jejak ini sesuai dengan angka statistik yang diperoleh BNPT tahun 2017 tentang 39% mahasiswa di 15 provinsi tertarik pada paham radikal.

Kemudian data bulan Agustus 2017 dari Wahid Institute menyebutkan 11 juta orang “bersedia” melakukan aksi radikal, 0,4% penduduk Indonesia “pernah” bertindak radikal, dan 7,7% mau bertindak radikal “jika memungkinkan”.

Hasil valid dari serangkaian survei di atas cukup mengagetkan. Data tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia, terutama generasi muda di kampus-kampus, sedang dijangkit “fase radikalisasi”. Itu berarti kita tengah mengalami “krisis toleransi” dan “darurat radikalisme”.

Otomatis dibutuhkan serangkaian usaha penangkalan, pencegahan dini, sekaligus upaya “deradikalisasi” secara ideologis dan sistematis, khususnya kepada generasi milenial, untuk meng-counter penularan ‘paham berbahaya’ bernama radikalisme—yang kelak dapat berkembang menjadi violent extremism.

Terhadap persoalan tersebut, maka peran komunitas interfaith dianggap penting untuk membendung penyebaran radikalisme dan mencegah maraknya aksi kekerasan sedini mungkin. Ini tentu demi mewujudkan tanah air yang damai, indah, dan layak dihuni oleh generasi penerus bangsa.

Tanah air adalah tempat penindasan diperangi, tempat perang diubah menjadi kedamaian. - Y.B. Mangunwijaya

Barangkali misi tersebut dapat direalisasikan, seperti yang diselenggarakan oleh beberapa komunitas perdamaian di masa yang sudah-sudah. Misalnya melalui peace-camp, rekonsiliasi, craft for peace, splash the peace, boardgame for peace, dan yang lainnya. Boleh juga lewat sarana-sarana atau pendekatan lain yang sama efektif: pendidikan literasi damai di kampus-kampus.

Komunitas Interfaith: Penyemai Literasi Damai

Tanggal 8 September yang lalu adalah perayaan Hari Literasi sedunia. Namun sepertinya literasi sering kali mengalami “peyorasi” atau disempit-artikan hanya sebagai kemampuan baca-tulis seseorang. Kenyataannya tidak demikian.

Literasi dalam KBBI memiliki arti kemampuan menulis dan membaca; pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Kalimat terakhir inilah yang kurang disorot sehingga mengalami pembiasan makna. Padahal itulah inti dari “literasi” yang justru pada masa kini kian dibutuhkan untuk mengurangi gempuran hoax.

Lebih luas lagi, literasi pada hakikatnya tidak saja mencakup kemampuan baca-tulis semata. World Economic Forum (WEF) di tahun 2015 telah merumuskan dan bersepakat bahwa ada “6 Literasi Dasar” yang harus dimiliki oleh masyarakat dunia.

Keenam dasar penting tersebut, yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya-kewargaan. Dari sini, kita pun akan paham dan menyadari kenapa dalam bahasa Inggris “masyarakat terpelajar” disebut dengan “literate-society”.

Atas dasar tersebut, maka komunitas yang menyuarakan perdamaian perlu menyisipkan aspek-aspek penting mengenai literasi. Demikian pula sebaliknya, para penggiat komunitas literasi pun sudah semestinya mendalami enam dasar tersebut untuk kemudian menaruhnya ke dalam “frame perdamaian”.

Dengan begitu, kampanye perdamaian di kampus-kampus pun akan mencapai akselerasi yang stabil, bahkan boleh jadi semakin menanjak cepat dan benih-benih perdamaian pun tersemai pesat. Apalagi hal ini akan sekaligus menjadi jawaban (soft-solution) bagi krisis-altruisme. 

Orang akan menjadi tertarik dan menemukan kenikmatan dalam mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Generasi muda juga akan lebih bijak dalam bersosial-media dan menyikapi hoax.

Pertanyaan dasarnya adalah, ‘Sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para pemimpin bangsa kita?’ Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan. - KH. Abdurrahman Wahid

Meski terkesan manis dibayangkan, namun efektivitas dalam menyemai perdamaian—yang mulai surut di bumi Zamrud Khatulistiwa ini—hanya akan berjalan sepanjang komunitas interfaith benar-benar menjadi wadah share to care. Ruang saling berbagi untuk kepedulian umat manusia.

Komunitas interfaith yang berperan sebagai ruang dialog lintas-etnis, budaya, dan agama, juga mesti memberikan cara pandang baru yang tidak linier-parsialistik. Sebab pandangan yang tidak lengkap dan terpotong-potong itu akan mengantarkan seseorang menuju kebencian.

Maka penting untuk menyuguhkan lingkar-pandang yang siklikal-komprehensif beserta kelengkapan dimensi-dimensi antarumat beragama—yang tidak menuju ke arah sinkretisme agama—demi tersemainya benih-benih kedamaian di hati masing-masing.

Namun, dalam kenyataannya, semua aspek itu telah hampir dimiliki secara keseluruhan oleh komunitas interfaith. Semisal pengajaran untuk menghargai perbedaan dan tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk membenci, tetapi justru untuk saling menghargai satu sama lain. Nilai sederhana yang sekarang seakan menjadi barang langka.

Dan pada akhirnya, komunitas interfaith sebagai penyemai literasi damai di kampus-kampus, yang merupakan laboratorium pencetak generasi baru, perlu menguatkan diri dalam kontinuitas perjuangan tersebut. Bahwa bukan sumber daya alam saja yang membutuhkan “pelestarian berkelanjutan” (sustainable), sumber daya manusia pun memerlukan ketahanan dalam perjuangan yang terus harus berlanjut. 

Maka, di akhir tulisan ini, perlu bagi saya untuk menanamkan kalimat yang akan menjadi pengingat bagi kita agar senantiasa menyemai perdamaian di negeri tercinta ini:

Hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri. Sedang hal yang paling layak untuk dibenci adalah kebencian itu sendiri. - Badiuzzaman Said Nursi