1 tahun lalu · 261 view · 5 min baca · Politik 89904_96808.jpg
@MualiminMelawan

Komunitas Ampera Bukan Geng Pemberontak

Kami dicap liar. Kurang etika, tak punya sopan santun. Secara politik pun, banyak yang tuduh oposisi, pembangkang. Tidak jelas apa tujuannya, tudingan semacam itu hanya memicu resistensi. Harusnya tak perlu takut, kami bukan berandal yang mengancam stabilitas keamanan HMI.

Perkumpulan nonformal ini tidak pernah dibentuk. Ia hadir spontan, tidak direncanakan, tidak terformat, bahkan tidak layak disebut komunitas. Sahabat Ampera hanya akumulasi keresahan anak manusia yang bosan kemunafikan. Tidak punya agenda, selain kerinduan pada kejujuran.

Dulu, saat HMI Cabang Jakarta Selatan sedang rusak-rusaknya, orang-orang melarikan diri dari dunianya. Rajiv, Fizi, kami bertiga intens membahas masa depan masing-masing. Tiga serangkai berkoalisi, merencana strategi, menghabiskan malam-malam, hingga terpisah karena berbeda pilihan.

Aku sendiri tidak pernah sesali apa yang terjadi. Fizi tersingkir karena terlilit polemik internal komisariat. Rajiv pergi, karena merasa tidak kubela saat tulisannya timbulkan kontroversi. Semua hanya dugaan, tidak pernah ada yang tahu motif sebenarnya.

Jujur saja. Terkait wacana pembubaran senior course 2017, ide itu muncul dari Ampera. Bukan untuk mengacau, gerakan waktu itu benar-benar didasari pertimbangan terbaik menurut aturan. Kami punya slogan, ’’Anda benar, kami dukung. Salah, kami ingatkan. Tidak berubah, kami lawan’’.

Ampera bukan organisasi. Bukan perkumpulan resmi. Ia hanya nama imajiner, tidak berbentuk. Isinya mewakili emosi manusia yang tidak terima hidup dalam kebobrokan. Aku percaya, orang tidak seharusnya diamkan kebohongan. Jika semua orang bisu karena perut kenyang, lalu siapa yang peduli pada kebenaran?

Sepihak, aku yang tertua dan mengkomandoi agar Ampera eksis. Tidak peduli mereka suku apa, kampus mana, agamis atau tidak. Asal ingin bersahabat, ku jadikan teman. Masa lalu anda boleh jadi kelam dan berlumur dosa, tapi aku tidak peduli. Di mana di dunia ini ada orang suci? Semua orang pernah salah.

Tidak peduli anak petani, yatim, atau ditinggal pergi orangtua karena cerai. Tidak, aku sama sekali tidak peduli kekuranganmu. Asal kau tahu, aku lebih peduli masa depan kalian daripada kuburan masa lalumu. Menyesali masa lalu hanya sia-sia, kini saatnya bangkit dan rebut hari esok.

Aku percaya, kebenaran itu omong kosong kalau tidak ada subjek. Diam karena perut kenyang, apa bedanya dengan kambing? Hidup andalkan rupa, apa bedanya dengan pelacur? Cari kehormatan dengan jualan nama besar senior, apa bedanya dengan pengecut?

Mungkin kita tidak bisa larang orangtua cangkul tanah di sawah. Karena pendidikan rendah, akhirnya tempatkan mereka pada posisi itu. Dalam hidup ini, betapa banyak cita-cita orangtua digantung, untuk diteruskan oleh anaknya. Peluh tetes keringat orangtua di desa, jadi bukti kezaliman manakala anak malas-malasan di tanah rantau.

Orang boleh bangga pada mobilnya, tapi kalau masih milik orangtua, apa hebatnya? Kita tidak bisa pesan apakah punya wajah cantik atau tidak. Tapi kita bisa ubah apakah otak bekerja maksimal atau ala kadarnya. Semua yang tidak mungkin diubah, lupakan. Apa yang mungkin diubah, lakukan.

Aku percaya, segala bentuk penindasan. Tuan-budak, senior-junior, kaya-miskin, menjajah-dijajah, bukan perbuatan Tuhan. Semua itu rekayasa, bentukan sosial. Bisa diubah dan tergantung tangan kita sendiri. Aku memilih merdeka dan menang. Persetan ditindas dan terkungkung.

Di dalam persahabatan Ampera, aku lebih percaya fakta empirik ketimbang ritus dogmatikal. Anda boleh rajin beribadah, tapi selama kelakuanmu cerminkan kebusukan, aku tidak tertarik bersahabat denganmu. Sebaliknya, tidak penting sholat tidak, asal anda jujur, kau saudaraku.

Ampera itu perkawanan sosial. Berjilbab atau tidak, anak yatim atau bukan, sholat atau tidak, itu urusan dapur internal dirimu. Asal hubungan sosial tidak kau cemari dengan kebohongan dan perbuatan merugikan, kau layak diakui teman. Seorang sahabat, pantas dibela mati-matian saat oranglain coba goreskan luka.

Sebagai perantau yang datang dari Tuban, aku telah kehilangan banyak kawan. Sebagian masa lalu telah dikubur kejam oleh jarak dan waktu. Aku tak punya apa-apa, selain orang-orang yang hari ini masih terlihat pelupuk mata. Aku butuh sahabat, tapi itu tidak mutlak.

Kau boleh mampir kapan saja, tapi kau berhak untuk pergi tiap saat. Tidak ada ikatan, tidak ada kewajiban. Aku percaya, tidak selayaknya manusia dipaksa untuk mencintai atau membenci sesuatu. Manusia pasti akan tingggal, bila merasa nyaman. Manusia akan berontak, tatkala merasa tidak tenang.

Di Ampera, tidak ada senior junior. Tidak ada orientasi untuk masuk jadi keluarga. Tidak ada pendaftaran, syarat, maupun formulir. Semua orang, dari negara, bangsa manapun, mahasiswa atau bukan, silahkan masuk. Di sini, segalanya menjadi milik umat manusia.

Aku percaya, kebenaran itu harta karunnya umat manusia. Siapapun yang kehilangannya, harus merasa berkewajiban mencarinya. Jika berlian kebenaran itu ternyata ada dalam diri, tiap orang harus menumbuhkannya. Bukan melalui retorika omong kosong, tapi perbuatan nyata.

Komunitas sahabat Ampera bukan faksi organisasi. Ia bukan sempalan yang muncul dalam HMI. Ia hanyalah jiwa-jiwa tulus pembuang sampah politik yang sebelumnya mencemari pergaulan manusia. Hidup terlalu melelahkan jika dijalani dengan curiga dan prasangka negatif.

Tiap orang boleh berpendapat, berbeda, yakin pada opini masing-masing, boleh berdebat pertahankan pemahaman. Tapi asal tahu, kebenaran jadi barang bekas jika rusak persahabatan. Semua orang yang berniat baik perjuangkan kebenaran, tak layak bermusuhan.

Sebelum orang kenyang, pertama-tama ia harus tekad bahwa hidupnya untuk tegakkan kebenaran. Benar berarti seimbang, kewajaran menjadi nalar dasar kehidupan. Aku percaya, kedudukan tidak untuk diperebutkan. Ketika kepemimpinan terbentuk, yang lain cukup ikuti, asal berdiri di rel kebenaran.

Bukan tentang nomor satu, tapi apakah bermanfaat atau tidak. Siapapun silahkan jadi ketua, asal mampu ciptakan kemajuan. Jika kemampuan rendah, nafsu kuasa tinggi, lalu ketika menjabat ciptakan kerusakan, orang model begitu tidak layak jadi anutan. Ingatkan, jika abai, lawan.

Kebenaran akan busuk tanpa disuntik dengan ilmu. Anda boleh hidup jujur, tapi selama anda berhenti belajar, kehancuran tinggal menunggu waktu. Dalam dunia yang berjalan tidak fair, untuk tegakkan kebenaran, terkadang perlu sedikit kompromi dengan kemunafikan.

Orang-orang Ampera bukan ekstremis, tapi moralis. Tidak ada pendapat mutlak benar di sini, semua orang berhak ajukan kritik dan tidak wajib ikut perkataan orang. Hidup apa kata orang haram hukumnya. Tidak ada guru, tidak ada ustad. Tiap individu tidak layak jadi pengikut manusia lain.

Kami percaya, segala ucapan yang keluar dari mulut manusia, bukan kebenaran final. Apapun embel dan bungkusnya, agama, narasi mayoritas, data empirik, semua relatif, hanya dugaan dan perkiraan, bukan garansi Tuhan. Jadi, di Ampera tidak ada pengikut dan yang diikuti, kecuali nalar warasnya sendiri.

Biarlah tiap individu bercinta dengan Tuhannya secara sendiri dan cara masing-masing. Tidak boleh orang kurang kerjaan, ikut campuri urusan orang sedang diri sendiri belum selesai menata prinsip hidup. Selama apa yang dilakuakn seorang tidak merampas hak yang lain, hidupnya benar.

Anda salah besar jika anggap Ampera ancaman. Kami bukan begundal, yang mengacau merusak kemapanan. Jika kritik terlontar, menurut kami ada yang tidak tepat. Jika Ampera bersuara, berarti ada yang tidak beres di HMI. Kritik itu kewabijan moralis, tidak ada hubungannya dengan geng.

Pada awalnya manusia bebas. Kenapa dikekang? Tiap orang berhak atas kenyataan, kenapa disembunyikan? Tiap pasang mata berhak lihat kebenaran, kenapa ditutupi kepalsuan? Protes hanyalah tindakan merebut sesuatu yang harusnya jadi milik semua orang.

Ketika segerombol orang mengetuk, pintu malah dikunci. Saat didobrak, palang kau tambah. Mereka bukan pengacau, tapi perebut hak yang kau cap pemberontak, lalu dengan curang kau sembunyikan harta karun mereka; kebenaran.

Artikel Terkait