Ketika komunisme menjadi begitu menakutkan untuk disebut, dibaca, bahkan ketika didengar di Indonesia, maka bagaimana komunisme diperlakukan di dunia? 

Mungkin untuk dipraktikkan ideologinya dalam dinamika politik keseharian, komunisme tidak lagi menarik. Hal itu misalnya diukur dengan betapa sedikitnya negara-bangsa yang menerapkan ideologi komunis sebagai ideologi nasionalnya saat ini. 

Praktik Komunisme di Dunia

Jika dicek dengan google search engine dengan: "negara dengan ideologi komunis", maka akan ketemu negara-negara ini: Tiongkok, Transnistia, Kuba, Korea Utara, Laos, dan Vietnam.

Sedangkan beberapa negara komunis yang pernah ada di dunia adalah: (1) Uni Soviet (1922-1991), (2) Jerman Timur (1949-1990), (3) Republik Rakyat Hongaria (1949-1989), (4) Republik Rakyat Bulgaria (1946-1990), (5) Republik Rakyat Polandia (1944-1989), (6) Republik Sosialis Rumania (1947-1989), (7) Republik Sosialis Rakyat Albania (1944-1992), (8) Republik Federal Sosialis Yugoslavia (1943-1992), (9) Republik Sosialis Cekoslowakia (1948-1989), 

(10) Republik Rakyat Angola (1975–1992), (11) Republik Rakyat Benin (1972–1990), (12) Republik Rakyat Kongo (1970–1992), (13) Republik Demokratik Rakyat Ethiopia (1987-1991) dan Derg (1974-1987), (14) Republik Rakyat Mozambik (1975–1990), (15) Yaman Selatan (1969–1990), (16) Republik Demokratik Afganistan (1978–1992), (17) Republik Rakyat Kamboja (1979-1989), dan (18) Republik Demokratik Kamboja (1975-1979). Hanya ada 18 negara yang pernah komunis di seluruh dunia. 

Lalu, mengapa di Indonesia masih ditakuti bagaikan hantu sampai sekarang? Jawabannya sederhana: politisasi setiap menjelang pemilihan umum (pemilu) baik pemilihan presiden (pilpres) maupun pemilihan legislatif (pileg).

Untuk parta komunis yang berkuasa di negaranya, maka tentu ada di negara-negara Sosialis seperti (1) Korea Utara, yaitu Partai Buruh Korea; (2) Kuba, yaitu  Partai Komunis Kuba; (3) Laos, yaitu Partai Revolusioner Rakyat Lao; (4) Republik Rakyat Tiongkok, yaitu Partai Komunis Tiongkok; dan (5) Vietnam, yaitu Partai Komunis Vietnam. Tapi tidak dihitung di Transnistia atau yang juga disebut Transdniestria merupakan negara yang entitas politiknya memisahkan diri dari Moldova. 

Untuk kalangan internasional, negara ini masih dianggap bagian dari negara Moldova, yang dahulu merupakan bagian dari SSR Moldavia. Baru pada tahun 1990, Transnistria memproklamasikan kemerdekaannya dengan nama resmi negara Pridnestrovskaia Moldavskaia Respublika, dengan membuat Tiraspol sebagai ibu kotanya.

Sedangkan yang pernah berkuasa yaitu di (1) Republik Federal Sosialis Yugoslavia - Liga Komunis Yugoslavia, (2) Afganistan -Partai Demokrat Rakyat Afghanistan, (3) Albania - Partai Buruh Albania, (4) Bulgaria - Partai Komunis Bulgaria (dari 1938 hingga 1948 dikenal sebagai Partai Buruh Bulgaria), (5) Cekoslowakia - Partai Komunis Cekoslowakia, Partai Komunis Slowakia, (6) Ethiopia - Partai Buruh Ethiopia, (7) Hongaria - Partai Buruh Hongaria, Partai Buruh Sosialis Hongaria, 

(8) Jerman (Timur) - Partai Kesatuan Sosialis Jerman, (9) Kamboja - Partai Komunis Kamboja (Khmer Merah), (10) Polandia - Partai Buruh Bersatu Polandia, (11) Republik Demokratik Rakyat Yaman - Partai Sosialis Yemen, (12) Republik Soviet Hongaria (1919) - Partai Komunis Hongaria, (13) Rumania - Partai Komunis Rumania (Partai Buruh Rumania hingga 1965), (14) Uni Soviet - Partai Komunis Uni Soviet (sebelum 1918, faksi Bolshevik dari Partai Demokrat Sosial dan Buruh Rusia).

Mungkin masih ada orang-orang di dunia ini yang terus mencoba mempraktikkan komunisme menjadi ideologi. Setidaknya ditandai dengan keberadaan partai-partai komunis di dunia yang masih ada sampai sekarang. Dan itu masih banyak sekali, harus bersabar untuk menghitungnya termasuk dalam kepentingan untuk kajian akademik. 

Komunisme Abad 21  

Sebagai sebuah kajian, komunisme tetap menjadi menarik dan bukan lagi seperti hantu yang terus menerus harus ditakuti. Sebab secara akademik, komunisme hanyalah sebuah objek kajian. Sebuah buku berjudul Communism in the 21st Century, diterbitkan pada tahun 2014 dan dieditori oleh Shannon Brincat. Seorang peneliti pascadoktoral di Universitas Queensland. Fokus penelitiannya adalah di Mahzab Frankfurt dan Teori Hubungan Internasional Kritis. 

Dia telah menerbitkan tentang bidang-bidang ini dalam European Journal of International Relations, Review of International Studies and Constellations, dan sebagainya. Dia telah bersama-sama mengeditori Critical Theory in International Studies and Security Studies: Interviews and Reflections (Routledge, 2012), dan merupakan co-founder dan co-editor jurnal Global Discourse. 

Di dalam buku Communism in the 21st Century yang diterbitkan dalam tiga jilid itu pada Volume 1 berfokus Bapak Komunisme: Menemukan kembali Gagasan Marx. Pada Volume 2 berfokus pada Ke Mana Komunisme? Tantangan Masa Lalu dan Masa Kini. Pada Volume 3 berfokus pada Masa Depan Komunisme: Gerakan Sosial, Krisis Ekonomi, dan Re-imajinasi Komunisme. Ketiga jilid buku ini jika disatukan jumlah total halamannya termasuk halaman sampul mencapai 889 halaman.

Para penulis yang berkontribusi pada buku ini adalah para ilmuwan ternama yang cukup dikenal di dunia: Terry Eagleton, Sean Sayers, Paresh Chattopadhyay, Bertell Ollman, Michael A. Lebowitz, Shannon Brincat, Roger Paden, Silvia Federici, Paul Burkett, Michael Löwy, Robert Graham, Paul Blackledge, Catherine Samary, Alexander L. Vuving, Bruce Cumings, Thaveeporn Vasavakul, Bruno Bosteels, Sandra Rein, Dario Azzellini, David Camfield, Massimo De Angelis, Teivo Teivainen, Firas Massouh, David Eden, Jodi Dean, Nina Power, Werner Bonefeld, Rodrigo Nunes, Keir Milburn, dan John Holloway. Ada 30 orang penulis, dan tidak satupun penulis yang berasal dari Indonesia. 

Dalam buku ini sesungguhnya tidak hanya membahas tentang komunisme saja. Atau membahas komunisme sebagai sesuatu yang sudah baku, atau dengan kata lain sebagai "barang jadi" yang bisa dipelajari apalagi dipraktikkan. Buku ini sebenarnya justru mengajak untuk memamahi dengan menemukan kembali gagasan-gagasan Karl Marx, yang tidak hanya tentang komunisme belaka. Kemudian, mengajak memahami  apa yang terjadi pada komunisme di dunia   pada masa lalu yang kemudian diabstraksikan sebagai tantangan, dan juga tantangannya di masa kini. 

Terakhir, apakah komunisme itu memang akan bangkit jika imajinasinya dimunculkan dari berbagai permasalahan sosial khususnya krisis ekonomi yang tidak bisa diatasi dan diselesaikan? Namun, sekali lagi, tidak sesederhana itu. Sebaiknya, membaca -sendiri- itu lebih penting ketimbang menyita dan membakar buku, dan apalagi menakut-nakuti siapapun dengan apapun yang tidak pasti dan tidak jelas.