Fenomena virus corona seperti hantu yang trending belakangan ini. Eksistensinya melahirkan kecemasan, karena banyak nyawa yang berjatuhan. Tidak heran apabila banyak manusia menerapkan social distancing dan menjaga kebersihan. 

Selain itu, sejumlah daerah di Indonesia telah mengetatkan penjagaan jalan masuk. Semua tindakan ini diperkuat dengan kewaspadaan akibat virus corona.

Tidak hanya melahirkan kecemasan, orang-orang percaya bahwa virus corona telah mengancam perekonomian. Ekspor dan impor mulai ditutup demi menekan penyebaran virus ini. 

Pembatasan waktu aktivitas ekonomi di malam hari juga diberlakukan untuk pedagang menengah ke bawah dan menengah ke atas. Pariwisata dan seni pertunjukan pun dilarang untuk sementara. Fenomena ini seolah-olah ingin merobohkan peradaban manusia.

Virus corona tidak selamanya bisa memojokan umat manusia. Jika kita kembali melihat sejarah, kita akan menemukan fakta bahwa manusia berkali-kali menghadapi berbagai penyakit dan virus. 

Ebola dan virus cacar adalah sekian fenomena pandemi yang pernah dihadapi umat manusia. Melalui ilmu pengetahuan, manusia dapat memenangkan pertarungan melawan virus-virus tersebut. Oleh karena itu, saya yakin umat manusia tidak akan punah, karena ilmu pengetahuan akan terus berevolusi, sampai virus corona terkalahkan.

Tetapi, kita akan sampai pada beberapa pertanyaan. Sebelum manusia menemukan obatnya, bagaimana cara kita meminimalisasi korban virus corona di Indonesia? Apa yang bisa terapkan untuk menghentikan penyebaran virus ini? Pertanyaan ini akan saya coba jawab, walaupun bersifat utopis.

Sebelumnya, kita harus tahu bahwa kapitalisme membuat kita kesulitan menghadapi virus corona. Tidak semua manusia bisa menjaga diri dari covid-19, karena kelas sosial yang dibentuk kapitalisme. Mereka yang tidak bisa menjaga diri dari covid-19 adalah manusia yang sering barada di luar ruangan, untuk memenuhi kebutuhan pangan dan lupa bahwa virus corona dapat mangakhiri nyawa.

Di baliknya, terdapat pemilik modal yang mempunyai tabungan, sehingga karantina bisa dilakukan di rumahnya sendiri. Ada pula pegawai negeri sipil dan pejabat yang tetap mendapatkan gaji, walapun dirumahkan. Kontradiksi ini membuat karantina massal tidak bisa dilakukan, sehingga potensi penyebaran covid-19 terus berlanjut.

Kapitalisme juga menumbuhkan individualisme dan prinsip untuk memperkecil aktivitas belanja yang tidak produktif. Hal ini menyebabkan para pejabat tidak ingin gajinya dihentikan untuk sementara, walaupun untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan seluruh masyarakat. 

Selain itu, ada pula pemilik modal yang tidak rela memberikan kekayaannya secara sukarela, karena melawan covid-19 tidaklah produktif. Dengan kata lain, kapitalisme menumbuhkan kecintaan pada uang dan memperkecil kemanusiaan.

Jika kita ingin segera mengakhiri fenomena virus corona, kapitalisme harus diakhiri terlebih dahulu. Kepemilikan pribadi atau swasta sebagai fondasi kapitalisme harus dihentikan. Artinya, perusahaan dan sumber daya produksi harus dimiliki bersama, supaya hasilnya dapat diproduksi secara merata.

Selain itu, gaji untuk PNS, pejabat, dan presiden juga harus dihentikan sementara. Semua modal yang sudah dikumpulkan negera harus dikelola untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Singkatnya, karantina akan lebih efektif apabila menerapkan komunisme terlebih dahulu.

Komunisme yang saya maksud adalah komunisme yang menjunjung cinta dan kemanusiaan. Bukan komunisme yang melahirkan kerja rodi dan pertumpahan darah. Bukan pula komunisme yang membungkam pandapat dan masukan, apabila untuk kepentingan bersama. 

Artinya, komunisme yang saya maksud adalah masyarakat yang suka rela dalam bekerja sama, serta memiliki sosial yang penuh cinta dan kehangatan. Masyarakat semacam ini sangat mendukung untuk melawan covid-19.

Tak hanya itu, komunisme yang saya maksud adalah komunisme yang didukung dengan nilai ketuhanan. Apabila kita percaya Tuhan yang menciptakan seluruh alam, berarti tidak masalah jika kita memiliki, serta mengolah sumber daya alam dan alat produksi bersama-sama. Apalagi penggunaan dan distribusi hasilnya, sesuai dengan perintah Tuhan. Perjuangan ini bisa kita anggap ibadah.

Setelah komunisme seperti itu terbentuk, seluruh modal (alat, SDA, dan uang) yang terkumpul bisa kita gunakan untuk menghadapi virus corona. Sebagiannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan selama karantina massal. Rakyat dan pemerintah tidak ada yang kelaparan maupun kekenyangan. Porsi makan mereka relatif sama, dengan gizi yang sepadan pula.

Sebagainya lagi, digunakan untuk produksi dan pembelian alat medis. Selama kegiatan produksi, tidak dengan kerja rodi. Tempat produksinya pun harus selalu disterilkan dengan disinfektan. Artinya, penggunaan modal dan kegiatan produksi diarahkan untuk kebutuhan pangan dan untuk kebutuhan medis, tanpa melupakan keselamatan kerja.

Selama karantina berlangsung, para petugas medis dapat lebih leluasa untuk bekerja. Rapid tes tanpa harus menyuruh masyarakat keluar rumah dapat diterapkan. Mereka yang diketahui terjangkit virus corona harus di bawah ke ruang isolasi dan perawatan. 

Jika rumah sakit tidak bisa lagi memuat pasien, gedung pemerintahan dan hotel dapat digunakan. Karena yang kita terapkan adalah komunisme, berarti kita tidak perlu sewa gedung-gedung tersebut. Karantina dan rapid tes harus terus dilakukan supaya mereka yang terjangkit virus corona dan mereka yang tidak terjangkit bisa dipisahkan.

Petugas medis serta mereka yang terlibat dalam produksi alat medis dan pangan tentu saja adalah orang yang dalam keadaan sehat. Sementara itu, pemerintah memastikan bahwa kegiatan ini berjalan dengan efektif. Jumlah mereka bisa bertambah ketika orang yang terindikasi sehat dapat diketahui salama masa karantina dan rapid tes.

Penyiraman disinfektan juga harus dilakukan selama masa karantina berlangsung. Upaya ini masih menjajikan karena dapat mematikan virus yang hinggap di suatu benda. Kegiatan ini mendukung dalam memutus penyebaran covid-19.

Karantina dan rapid tes bisa diberhentikan apabila mereka yang terjangkit virus corona dan mereka yang tidak terjangkit sudah terpisahkan. Kegiatan medis kemudian difokuskan pada mereka yang terjangkit virus corona. Sekali lagi, mereka yang terindikasi bebas dari covid-19, dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pangan dan medis.

Begitulah utopia saya dalam menghadapi virus corona. Kapitalisme akan mempersulit kita menghadapi virus corona, karena melahirkan kelas sosial dan individualisme. Oleh karena itu, kapitalisme harus digantikan dengan kerja sama, tanpa mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

Tetapi apakah harus komunisme? Bagaimana jika perusahaan mau mengeluarkan seluruh uangnya, serta meminjamkan alat dan gedung? Dan bagaimana jika PNS dan para pejabat setuju untuk tidak digaji sementara, dan semua anggaran digunakan untuk melawan virus corona? Bahkan menerapkan kerja sama tanpa kelas sosial, walaupun sistem komunisme tidak dterapkan? Mungkin itu juga bisa.

Di samping itu, menerapakan komunisme tidak seindah yang saya bayangkan. Pasti terdapat kontra dari pemiliki modal dan pegawai negeri sipil yang sudah terbiasa dengan pola hidup yang sedang berlangsung. Apalagi terdapat perusahaan asing di Indonesia.

Komunisme yang saya harapakan adalah komunisme yang menjunjung cinta dan kemanusiaan, sehingga perlu kesadaran yang tinggi dan sikap heroik dalam diri mereka.