Sebagai mahasiswa baru, saya cukup senang saat seorang dosen agama memberikan sebuah buku saku yang terdiri dari 12 halaman. Saya senang karena diberikan secara cuma-cuma baca:GRATIS kepada lebih dari 500 mahasiswa baru. Awalnya saya berpikir itu adalah buku kumpulan do’a, surat, atau hadist karena pada saat itu sedang berlangsung mata perkuliahan agama.

Namun setelah buku itu berada ditangan saya, dan saya membaca judulnya barulah saya tahu bahwa buku saku itu berisi bahaya Ideologi Komunisme. Buku kecil itu berjudul  “KOMUNIS LEBIH EKSTRIM DARIPADA IBLIS”  setelah saya membaca buku itu, saya tahu mengapa komunisme lebih ekstrim daripada iblis hal ini dikarenakan komunisme tak beriman kepada Tuhan baca: ALLAH, hal yang bahkan tak dilakukan oleh iblis sekalipun begitulah menurut buku tersebut. Saya bertanya apa hubungannya Komunisme dan tak beriman kepada Tuhan?

Membaca buku ini mengusik rasa ingin tahu saya untuk memahi tentang Idelogi Komusnisme, yang membawa saya menemui nama Karl Marx dan Lenin serta sebuah gagasan mulia untuk memakmurkan rakyat secara merata. Menghilangkan kesenjangan kelas antara porletar dan kaum borjuis.

Saya juga mendapatkan jawaban, apa hubungan Komunisme dan tak beriman kepada Tuhan?. Mengutip dari situs Wikipedia Komunisme secara umum berlandaskan pada teori Materialisme Dialetika dan Materialisme historis oleh karena tidak berdasarkan mitos, takhayul dan agama dengan demikian tidak ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa “agama dianggap candu” yang berangan-angan yang membatasai rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

Hal ini membuat Orba atau siapapun itu melakukan propaganda bahwa Komunis berarti tak beriman dan hal itu berlangsung sampai sekarang iya sampai sekarang L. Padahal tak semua negara komunis adalah ateis walau ada kecenderungan demikian, contohnya Tiongkok yang masih mengizinkan warganya untuk memeluk agam prostesan walau mendapatkan aturan khusus.

Tapi seperti yang kita tahu agama di Indonesia adalah salah satu yang sensintive dan selalu mendapatkan perhatian khusus. Mendapatkan simpatik dari orang beriman BACA: teis adalah suatu keuntungan guna melawan PKI yang kala itu memiliki basis pendukung yang banyak.

Namun kali ini ancaman bagi Pancasila tak datang dari mereka yang dianggap ateis itu, kini ancaman itu malah muncul dari teis. HTI atau Hizbuts Tahir Indonesia adalah sebuah organisasi yang mengusung negara Khilafah di mana digadang-gadang merupakan jawaban atas semua masalah di negara ini.

Jujur hal ini membuat saya bertanya apakah Pancasila dapat bertahan dari gempuran organisasi ini mengingat masyarakat Indonesia begitu senang terhadap hal berbau agama. Khususnya bagi pemeluk Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia. Bahkan kini abg labil menggunakan kata ganti anthum, ukhti dan  afkhum agar terlihat lebih islami, mungkin?

Di buku yang sama yang diberikan secara cuma-cuma itu saya membaca sebuah kalimat di halaman delapan no empat, tertulis “ Walau Republik Indonesia belum menjadi negara Islam, namun haram hukumnya bagi umat Islam mengangkat/memilih kepala negara berideologi komunisme” baca dengan seksama. Hal ini mebuat saya bergidik apa makna belum menjadi negara islam di sana?

Harapan, keinginan, rencana you name it pun kini tak hanya sekedar hisapan jempol belaka karena kini saya sering menemukan buletin di mesjid yang sekali lagi menawarkan khilafah atau merubah ideologi menjadi berlandaskan Al-Quran dan hadist sebagai solusi, jangan lupakan libur Isra Mi’raj yang dipakai untuk kegiatan kampanye penegakan negara Khilafah. 

Di akhir mungkin mudah bagi saya untuk mengetahui PKI atau bukan, tapi HTI adalah persolan lain bagaimana jika pengajian, buletin-buletin di mesjid, ceramah serta dakwah itu adalah propanda untuk menyebarkan paham Khilafah. Apalagi jika proganda ini diberikan dari seseorang yang dianggap sesepuh, suci, dan pintar? Saya harap buku kecil ini hanya diberikan di kampus saya, atau juga diberikan di kampus lain?