Saya adalah seorang ibu yang bekerja kantoran. Ketika saya selalu memasak dan membuat camilan untuk anak-anak saya, banyak yang mengatakan bahwa saya hebat. Wanita karir, tetapi masih sempat membuatkan makanan untuk anak-anak. Mungkin terdengar seperti pujian, tetapi bagi saya, Ibu baru yang galau dan masih berkutat dengan persoalan eksistensi diri, tidak bisa begitu saja merasakan pujian itu sebagai penghiburan. 

Saya justru bertanya-tanya, apakah jika seorang ibu bekerja, anak-anaknya serta merta kurang terurus atau kurang perhatian? Sehingga ketika saya berusaha untuk perhatian terhadap  anak-anak saya, perlu dipuji sebagai ibu yang hebat. Alih-alih merasa senang, saya lebih merasa bersalah. Meskipun saya berusaha, saya yakin saya akan lebih optimal mengurus anak-anak kalau saya tidak bekerja. Di sisi lain, eksistensi di kantor saya rasakan semakin memudar, tertutup kabut keterbatasan. Saya merasa produktivitas dan kinerja saya terjun bebas.  

Di kemudian hari saya baru mengetahui bahwa saya mengalami yang disebut work-family conflict. Sudah banyak penelitian tentang hal ini dalam disiplin ilmu psikologi. Mengacu pada konflik dalam diri sendiri karena mengalami tuntutan yang tidak sesuai antara pekerjaan dan keluarga, sehingga menyebabkan kesulitan dalam menjalani kedua peran tersebut.  Konflik ini tidak hanya terjadi pada ibu yang baru memiliki bayi. Tetapi yang saya rasakan, pada saat itulah puncaknya.

Mempunyai 2 anak dalam waktu berdekatan sehingga ada 2 Balita di rumah, membuat dunia saya terasa jungkir balik. Bukan tidak bersyukur, sama sekali bukan tentang itu. Tentu saja saya bersyukur untuk anak-anak yang sehat dan ceria, juga dukungan suami dan orang tua. Namun, seringkali terbersit dalam pikiran saya, masa-masa ketika masih lajang dan penuh energi ketika bekerja. Karena benar-benar menyukai dan ingin diakui dalam bidang pekerjaan saya, membuat kegalauan itu semakin menjadi-jadi.

Ada yang bilang seorang ibu bekerja itu beruntung, masih bisa punya me time, tidak melulu urus bayi. Masih bisa refreshing ketemu dengan orang lain selain anak dan suami. Masih bisa berdandan dan memakai baju kantor yang cantik, bukan hanya daster longgar yang itu-itu saja. Bayangkan ibu rumah tangga yang setiap hari berkutat dengan mengurus bayi, memasak dan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya. Tentu saja saya juga tidak sedang membanding-bandingkan. Semua punya permasalahan masing-masing. 

Terkadang saya iri kepada rekan kerja laki-laki saya yang sepertinya dunianya baik-baik saja meskipun baru punya bayi juga. Karena mereka tidak mengalami yang saya alami sebagai perempuan yang hamil, melahirkan dan menyusui. Pekerja perempuan memang mendapatkan hak cuti melahirkan 3 bulan. Tepatnya, 1 bulan sebelum Hari Perkiraaan Lahir (HPL) dan 2 bulan setelah HPL. Masalahnya, ASI eksklusif idealnya  sampai bayi berusai 6 bulan. Drama dimulai ketika harus masuk kantor tetapi juga harus mengumpulkan stok ASI perah. Bagaimana repotnya memompa ASI di kantor, tidak akan habis jika diceritakan. Menanggung beban kangen anak, itu jelas hal yang paling berat. 

Dalam kondisi itu, yang paling berbahaya adalah ketika saya sendiri merasa bahwa saya tidak melakukan peran dengan baik sebagai ibu dan sebagai pekerja. Datang ke kantor tepat waktu menjadi prestasi yang luar biasa bagi saya. Sampai kantor dalam kondisi ngantuk, sudah biasa.  Kaarenanya, saya tidak maksimal dalam bekerja. Ketika di kantor, pikiran seperti tertinggal di rumah. Ketika di rumah, pekerjaan kantor masih terbawa dalam angan-angan. Saya merasa tidak eksis di kantor maupun di rumah. Saya mengkhawatirkan karir dan pekerjaan saya di kantor, dan saya juga sangat khawatir tidak bisa menjadi ibu yang baik. 

Saya masih beruntung, karena tidak mengalami komentar-komentar dari orang-orang di sekitar saya. Tetapi sekali lagi, karena konfliknya ada di dalam diri sendiri, komentar positif saja bisa terasa sebaliknya. 

Dalam sebuah studi fenomenologi tentang work-family conflict pada ibu bekerja ditemukan bahwa ada masanya ketika ibu bekerja mampu mengatasi konflik tersebut dan masuk dalam zona work-family balanced. Disebutkan dalam penelitian tersebut, ketika proses penyesuaian sudah berhasil. Tetapi, prosesnya berbeda-beda pada setiap individu. Tidak ada rumus atau patokan yang pasti. 

Tidak ada piihan lain selain berdamai dengan dengan diri sendiri dengan cara berkompromi. Berkompromi memang bukan solusi, karena tidak lantas membuat kinerja jadi meningkat sekaligus menjadi ibu yang lebih hebat. Namun setidaknya,  kompromi akan menjadikan kita tetap waras. 

Bahwa performa kerja turun, akui dan terima saja. Tidak perlulah merasa tertinggal, karena situasi setiap orang tidak selalu sama. Pada kondisi ini, apresiasi kita kepada diri sendiri justru harus kita berikan lebih. Berterima kasih kepada diri sendiri, bukan selalu menuntut, apalagi membebaninya dengan perasaan bersalah dan merasa tidak produktif. 

Dalam perjalanan karir seorang perempuan bekerja, masa-masa ketika kita seperti berhenti atau jalan di tempat untuk sesuatu yang sangat berharga yaitu anak dan keluarga, ibarat intermezzo dalam sebuah pertunjukan. Intermezzo dibutuhkan sebagai jeda atau selingan. Pada masa intermezzo ini, kita perlu tetap waras sembari mempersiapkan pertunjukan selanjutnya yang lebih menarik.