Belakangan publik dibuat ramai dengan adanya rekrutmen Komponen Cadangan. Banyak yang mengaitkan itu dengan wajib militer, demikian juga banyak yang menentang hal tersebut karena menganggap terlalu mendesak untuk melakukan perekrutan Komponen Cadangan. Tulisan ini akan memberikan sedikit pandangan tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi adanya Komponen Cadangan dan kampanye  Bela Negara yang belakangan juga ramai diperdengarkan.

Hadirnya komponen cadangan sebenarnya merupakan salah satu amanat yang tertuang dalam Undang-Undang no. 23 tahun 2019 tentang pengelolaan sumber daya nasional untuk pertahanan negara. Di dalam Undang-Undang tersebut membagi komponen pertahanan menjadi tiga macam, yakni Komponen Utama, Cadangan, dan Pendukung.

Komponen utama pertahanan adalah TNI sebagai dinas tentara satu-satunya di Indonesia, kemudian komponen cadangan adalah sumber daya nasional (salah satunya manusia) yang telah disiapkan dan dilatih dalam rangka mendukung memperkuat dan memperbesar kemampuan dari komponen utama. Sedangkan, komponen pendukung adalah sumber daya lain yang dapat meningkatkan kemampuan dan kekuatan komponen utama dan pendukung.

Secara umum, sebenarnya tidak terdapat permasalahan apabila mencermati beberapa hal pokok terkait komponen Cadangan dan komponen lainnya tersebut. Namun, polemik mulai muncul ketika membahas tentang adanya glorifikasi bahwa Komponen Cadangan adalah satu-satunya cara untuk ikut serta dalam melakukan upaya Bela Negara. Menurut penulis di sinilah letak awal dari ramainya komentar miring terkait dengan Komponen Cadangan.

KOMPONEN CADANGAN HANYA SALAH SATU UPAYA BELA NEGARA 

Keterkaitan antara Bela Negara dan Komponen Cadangan sebenarnya dapat dibenarkan dan seharusnya tidak terlalu dipusingkan. Bela negara sendiri merupakan konsep yang belakangan menjadi sebuah gerakan nasional dengan Kementerian Pertahanan sebagai pionir utama. Konsep Bela Negara sendiri merupakan konsep yang tumbuh untuk menciptakan kecintaan kepada tanah air.

Dasar hukum atas konsep Bela Negara terdapat pada Undang-Undang no. 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara. Di dalam pasal 9 disebutkan beberapa cara untuk menyelenggarakan upaya bela negara di antaranya adalah pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela atau secara wajib, dan pengabdian sesuai dengan profesi. Sebagai salah satu turunan dari Bela Negara, Komcad yang merupakan konsep baru masih sering disalah artikan sebagai sarana wajib militer dan sebagainya.

Komponen Cadangan hanyalah salah satu dari sekian banyak upaya Bela Negara yang dapat dilakukan. Perlu dicatat juga bahwa tidak semua orang dapat mengikuti program ini. Merujuk dari edaran yang dikeluarkan oleh Kemhan, setidaknya terdapat beberapa kualifikasi untuk menjadi Komcad, di antaranya adalah berusia minimal 18 tahun dan maksimal 35 tahun, sehat jasmani dan rohani, serta tidak memiliki catatan kriminalitas yang dikeluarkan secara tertulis oleh Polri. Selanjutnya calon Komcad harus mengikuti seleksi administrasi dan kompetensi. Setelah dinyatakan lulus dalam seleksi, calon Komcad wajib mengikuti pelatihan dasar kemiliteran selama tiga bulan.

Jika merujuk pada beberapa catatan tentang upaya Bela Negara, dasarnya komponen cadangan sah-sah saja apabila dianggap sebagai salah satu upaya Bela Negara. Namun, berbeda ceritanya apabila muncul anggapan bahwa upaya Bela Negara hanya dapat diwujudkan melalui keikutsertaan dalam program Komponen cadangan. Adanya anggapan bahwa mengikuti komponen cadangan adalah satu-satunya cara untuk mengimplementasikan Bela Negara adalah upaya pengkerdilan makna atas Bela Negara itu sendiri. Bela Negara harus dikembalikan pada konsepnya yang luas dan tidak munculkan satu sentimen atas siapa yang lebih memahami Bela Negara. Hal ini dikarenakan, upaya Bela Negara tidak terbatas hanya dengan mengangkat senjata dan mengikuti program wajib militer atau Komponen Cadangan dalam hal ini.

Bijaksana Memaknai Bela Negara

Bela Negara yang pada dasarnya merupakan konsep holistik atas kecintaan pada tanah air, tidak boleh dikecilkan dan hanya mengakomodir satu atau dua golongan saja. Hal ini yang perlu dikembangkan sehingga tidak akan ada lagi komentar miring dan antipati atas gerakan Bela Negara. Selama ini, Bela Negara agaknya juga masih belum terlalu didengar di tengah masyarakat sehingga perlu adanya evaluasi yang cukup untuk mewujudkan tujuan utama Bela Negara.

Diperlukan pengertian yang lebih mengedepankan pemahaman kontekstual ketimbang hanya bermain di tataran tekstual. Kita tidak boleh kaku dengan hanya melihat Bela Negara sebatas hanya pemahaman tentang kewarganegaraan dan wajib militer. Bahwa benar kedua hal tersebut penting, namun esensi bahwa jiwa kesadaran Bela Negara itu lebih penting lagi untuk dimiliki setiap komponen bangsa.

Memberikan pemahaman bahwa setiap profesi dan aktivitas dapat menjadi cara aktualisasi Bela Negara bisa menjadi awalan yang cukup baik. Hal ini juga dapat membuat gerakan Bela Negara menjadi lebih produktif daripada cuma berputar pada tekstual yang membuat Bela Negara semakin banyak mengundang pro-kontra.

Terakhir, bahwa Komponen Cadangan merupakan salah satu upaya Bela Negara adalah hal yang tidak salah. Namun Bela Negara tidak boleh hanya dimaknai sempit dengan menjadikan Komponen Cadangan satu-satunya Upaya Bela Negara. Upaya Bela Negara adalah upaya yang bisa dilakukan oleh setiap unsur Bangsa Indonesia dengan beraga profesi dan latar belakang. Serta tidak boleh ada satu pihak pun yang mengklaim lebih memahami Bela Negara daripada yang lainnya.