Fetish mempunyai artian bentuk hasrat seksual di mana kepuasan seksual berkaitan dengan objek tertentu, seperti pakaian, bagian dari tubuh, dan lain sebagainya. Sementara fetisisme ialah bentuk perilaku seksual yang berkaitan dengan kepuasan seksual terhadap objek tertentu(1).

Fetisisme merupakan sebuah perilaku yang dapat dianggap menyimpang jika perilaku tersebut memanipulasi orang lain dalam pengaplikasiannya. Secara moral, fetisisme merupakan hal yang dianggap sebagai salah satu kelainan kejiwaan dalam perilaku seks.

Fetish berasal dari kata latin "Factisus" yang berarti buatan manusia/tiruan (artificial). Fetish digunakan sebagai sebuah kata dalam kolonialisme yang diartikan sebagai primitif dan orang-orang barbar, dan kata ini berasal dari bahasa portugis yaitu "Feitiço". 

Pada awalnya kata ini dimaknakan kepada praktik religius orang Afrika, yang kemudian kata tersebut tersubtitusi ke dalam simbol kolonialisme (Iacono,2016). Hal ini dimaksudkan bahwa kekuasaan kolonial yang ada di Afrika dibuat "meniru" terhadap bentuk kekuasaan negara asal.

Lebih lanjut kata fetish dan fetisisme merupakan sebuah konsep yang mengalami kesalahpahaman atau pergeseran makna dari bentuk kolonialisasi ke pada bentuk penghambaan manusia kepada barang (Marx dalam commodity fetishism), dan bentuk substitusi akan sesuatu (Psikoanalisis Freud).

Baca Juga: Gilang Bungkus

Terkait dengan ranah kesehatan, mengutip Logan (Logan, 2009), perilaku fetisisme seksual muncul pada abad 1819, ketika Jean Étienne Esquirol di Prancis memperkenalkan dalam bukunya, l’aliénation mentale, pertama kali diteorikan sebagai Monomania, salah satu bentuk tipe kegilaan (madness).

Dalam buku ini dikatakan pula bahwa para pengidap monomania mempunyai kesehatan mental yang normal bahkan berfungsi normal dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal yang membahayakan ialah pengidap monomania memiliki potensi patologis dalam melakukan keinginannya terutama dalam hal seksualitas.

Terdapat beberapa jenis kelainan seksualitas yang perlu diwaspadai, berdasar kepada ilmu kejiwaan, di antaranya: Voyeurism, Frotterism, Pedophilia, Masochism, Sadism, transvestic Fetishm (Cross-Dressing). Berbagai bentuk penyimpangan tersebut eksis dan hidup di setiap kebudayaan di dunia.

Freud berargumen fenomena fetisisme berdasarkan kepada substitusi objek seksual oleh sesuatu hal. Dalam observasinya dikatakan; kenormalan objek seksual tergantikan oleh hal yang serupa, objek seksual yang tersubstitusi tersebut kemudian menjadi kenormalan (Krips, 1999).

Dengan adanya kenyataan keeksisan perilaku tersebut, tentunya kita berpikir mengapa Jarik (kain) yang menjadi objek pelaku fetish untuk menstimulasi pemikiran seksualnya? Apakah kain jarik juga menjadi objek bagi orang-orang yang ada di luar Indonesia?

Tentu saja tidak, perspektif fetish akan mengikuti atau sejalan dengan perspektif kebudayaan sosial yang ada di dalam pelaku fetish. Hal ini dapat dikaitkan dengan budaya fetish yang muncul di Inggris pada masa Victoria abad ke-18, di mana kesukaan akan style dan mode pakaian menjadikan perspektif manusia yang ada pada masa tersebut memiliki "fantasi" fetish terhadap jenis model/style pakaian.

Fetisisme berdiri dan terbentuk dari kebudayaan yang diserap oleh individu tersebut. Dengan kata lain, terdapat perilaku fetish lain yang mempunyai keanehan tersendiri bagi manusia yang ada di dalam kenormalan. Dalam bahasa psikoanalisis Freud, dikatakan sebagai Sexual Perversion.

Perilaku fetish mempunyai kompleksitas tersendiri. Hal ini dikarenakan pengertian fetish mempunyai pengertian yang sangat luas. Tidak hanya sekadar pengertian mengenai penyimpangan hasrat seksualitas seseorang terhadap sebuah objek, namun juga mempunyai pengertian yang beririsan dengan pengertian sejarah kolonialisme, religiusitas, dan juga ekonomi.

Dalam ranah sosial, perilaku fetish juga dapat dilihat dari munculnya hasrat yang tinggi terhadap sebuah objek yang, jika dilogikakan, objek tersebut merupakan objek yang biasa, seperti contoh, pengidolaan The Beatles di Inggris, ketika rumput yang diinjak idola dijadikan sebagai cendera mata, atau terjualnya memorabilia tokoh dengan harga yang sangat tinggi.

Fetisisme dalam ranah ekonomi, maka kita akan mengenal mengenai fetisisme komoditas. Hal ini merupakan buah pikiran Karl Marx yang melahirkan konseptualisasi akan kesadaran palsu. Konsep ini berkisar tentang perilaku masyarakat kapital yang mensubstitusi perasaan akan cinta terhadap makhluk teralihkan dengan benda.

Logika yang hampir sama mengenai fetisisme, yaitu adanya fantasi akan sesuatu objek yang mendatangkan sensasi tertentu dalam pemuasan kebutuhannya. Kebutuhan itu sendiri yang nantinya akan mempunyai materialisasi tertentu, tergantung dari perspektif dan preferensi individu tersebut.

Kewaspadaan terhadap perilaku fetisisme sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan pengidap fetisisme akan mengekspolitasi fantasi seksualitasnya terhadap seseorang tanpa orang tersebut sadari bahwa dia adalah objek dari perilaku fetish. Dan lebih jauh dikatakan perilaku tersebut memungkinkan penggunaan instrumen kekerasan (Capable of Violance)(Logan,2009). 

Daftar Pustaka

  • Iacono, Alfonso M (2016). Theories of Fetishism : the philosophical and historical problem of an “immense misunderstanding”. Palgrave Macmillan.
  • Krips, Henry (1999). Fetish: an Erotic of Culture. Cornell University Press
  • Logan, Peter Melville (2009). Victorian Fetishism : intellectuals and primitives. State University of New York Press