Foto seekor komodo menghadang sebuah truk proyek di Pulau Rinca, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, viral diperbincangkan di media sosial. Apa gerangan kadal raksasa ini berambisi keluar dari persembunyiaannya dan berani melawan orang-orang yang mengklaim diri sebagai tim bedah rumah? 

Mulai 2019 kemarin, upaya proyek bedah habitat komodo masuk agenda prioritas Pemerintahan Jokowi-Maruf. Desain yang digodok sangat elegan: “Wisata Super Premium”. Apakah habitat komodo perlu direhab?

Mencontohi Bali

Pada periode pemimpin-pemimpin sebelumnya, Labuan Bajo dan aset-aset lain sekitarnya hampir tak dilirik. Sorotan mata dunia dan juga bangsa Indonesia hanya berhenti di Bali. Alhasil, Bali pun selalu menjadi sasaran destinasi wisata. 

Arah imajinasi masyarakat, baik global maupun nasional, selalu menuju ke Bali. Tak lengkap rasanya jika Bali belum pernah dijajaki. Komodo Labuan Bajo hanya tujuan alternatif.

Ketika Bali mendunia dan dilirik terus, upaya-upaya lanjutan seperti pembenahan sarana dan pra-sarana, infrastruktur jalan, dan pusat-pusat bisnis lainnya mulai bergerak. Banyak investor asing mulai menanam pagu bisnis di sekitar Bali. Dari objek tujuan destinasi wisata, Bali pun berubah dan semakin berkembang menuju pusat bisnis dan lahan kerja. 

Semua orang lari ke Bali untuk mengais rezeki – tak sedikit orang-orang NTT mencari suaka di Bali. Bahkan, hampir separuh dari penduduk Bali adalah mayoritas pendatang yang ingin mencari suaka. Bali, boleh jadi, cukup terlambat untuk berkembang dan siap menjadi seperti sekarang. 

Pembangunan aset-aset lain (lapangan kerja, kerajinan, pusat bisnis) di luar kerangka wisata semata, akhirnya mau tak mau menjulang pelan-pelan. Bali pun tak sekadar lokasi bidik berwisata. Bali menjadi pusat kemajuan.

Di era Jokowi, visi pemerataan pembangunan mulai dilirik. Skema cita-cita Indonesia Maju mulai didaratkan dengan upaya pembenahan sektor-sektor yang dianggap potensial dan mungkin dilupakan selama ini. Salah satunya adalah Labuan Bajo. 

Kita bisa menyadari bahwa dari penyematan Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, ada berapa banyak wisatawan yang berminat menjangkau komodo. 

Hampir tak sebanding dengan Bali. Jika disejajarkan dengan Bali, objek wisata Taman Nasional Komodo (TNK) hanya mampu menggaet ratusan ribu wisatawan per tahun. Padahal, TNK sudah lama disemat gelar keajaiban dunia. Begitu juga dengan aset lain yang masuk keajabian dunia, seperti Taman Nasional Kelimutu, Ende.

Aset-aset Indonesia dari dulu sudah lama dipajang di etalase pasar dunia. Kita bangga bahwa Indonesia mampu menyumbang banyak keindahan, warisan kekayaan alam, situs-situs sejarah, dan keajaiban-keajaiban lainnya. Akan tetapi, seberapa besar pengaruh aset-aset ini menyentuh perhatian dunia? 

Seberapa besar aset-aset ini menghidupkan masyarakat sekitar? Hemat saya, era Jokowi, sungguh memberikan “angin segar” bagi potensi-potensi bangsa ini yang belum terekspos. Di beranda etalase memang sudah terpajang, akan tetapi adakah yang mau berkunjung dan menyentuh apa yang sudah dipajang dan dipromosi?

Persoalan utama yang mungkin menjadi kedala selama ini justru terletak pada kemasan branding. Dari segi aset (isi destinasi wisata), Indonesia memang kaya dan mendunia. Akan tetapi, semua kekayaan ini tak dibarengi dengan ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana. 

Akses menuju tempat wisata, bahkan masih belum memadai dan terakomodasi. Infrastruktur jalan, sarana transportasi, dan pusat-pusat kreativitas lainnya belum sepenuhnya menopang keberadaan dan promosi aset wisata yang ada. 

Contoh kecilnya, soal akses bandara Komodo, yang sebelumnya hanya bisa dijangkau pesawat-pesawat kecil, sekarang justru diperbaiki dan memudahkan setiap pengunjung untuk berkunjung. Efeknya pun merembes ke sekitar. Dengan banyaknya pengunjung, masyarakat sekitar merasa terbantu untuk mejajakan usaha dan bekerja.

Kemasan Wisata

Langkah Jokowi mendesain Labuan Bajo menjadi wisata super premium adalah salah satu dari upaya mengemas produk wisata. Jokowi paham bahwa kendala utama dari semua produk wisata di negeri ini ada pada kemasan. Maka, opsi yang diambil adalah bagaimana mendesain brand kemasan wisata menjadi lebih menarik dan berdampak masif bagi pembangunan dan ekonomi masyarakat. 

Selama ini, pijakan kaki warga dunia mungkin hanya sampai di Bali dan Jawa. Di era Jokowi-Maruf, paradigma ini pelan-pelan ditata dan dikelola secara merata. Tujuannya agar Indonesia dikenal seluruhnya, bukan sejauh Bali dan Jawa.

Untuk desain Labuan Bajo, Jokowi pertama-tama memulai proyek desain dari pojok infrastruktur. Pada periode 2014-2019, sesuai dengan kabinet yang disemat – Kabinet Kerja – Jokowi memulainya dengan pembenahan area bandara Komodo. 

Langkah ini diambil mengingat, bandara menjadi gerbang masuk bagi setiap pengunjung dalam menilai kenyamanan dan kesiapan sebuah objek tujuan wisata. Jika pintu masuk sudah memberi kesan menarik, tentunya kesan-pesan yang baik juga ikut mengapiti animo pengungujung untuk berkunjung.

Setelah pintu masuk (bandara dan pelabuhan untuk akses berkunjung), Jokowi kemudian bertanggung jawab untuk menata lokasi wisata dan sekitarnya menjadi lebih menarik. Ini artinya, Jokowi tidak bekerja setengah-setengah. 

Totalitas pengabdian dengan upaya membangun dan mendesain lokasi wisata TN Komodo dan sekitarnya adalah potret keseriusan Jokowi. Jokowi bekerja untuk semua dan mengarah ke depan. Ia tak sekadar memberi janji dan bekerja setengah-setengah untuk pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Jokowi bekerja dengan bukti yang nyata.

Lalu bagaimana dengan desain Labuan Bajo dalam proyek super premium? Apakah proyek ini mengganggu ekosistem alam habitat komodo? Hemat saya, desain super premium justru memperpanjang usia hidup komodo. Dengan desain super premium, Komodo yang sejak awal hanya menjadi lokasi tujuan wisata, kini justru dipugar dan dikonservasi. 

Desain super premium membuat upaya pemburuan liar selama ini bisa teratasi. Dari cerita warga, komodo terancam punah pertama-tama karena ada sebagian orang yang gemar berburu binatang liar yang menjadi penyeimbang ekosistem habitat komodo. 

Ada banyak orang datang ke pulau komodo melalui jalur tak legal dan memburu hewan liar, seperti babi huta dan rusa. Padahal binatang-binatang ini menjadi bekal komodo untuk bisa survive. Ketika keseimbangan ekosistem ini (saling memakan) tak dijaga, masa depan komodo memang terancam.

Desain wisata super premium tentunya dilengkapi dengan banyak fasilitas menunjang. Mulai dari sarana transportasi, infrastruktur jalan, lapak-lapak pusat kreativitas-kerajinan, hingga sistem keamanan yang serius membuat TNK lebih terawasi dengan baik. Prospek terbesar dari proyek ini justru ada pada semangat merawat habitat komodo – pengawasan, kemanan, konservasi, penataan, hingga orientasi promosi yang menarik. 

Hemat saya, komodo selama ini hanya menjadi tempat tujuan wisata semata tanpa sebuah sistem pengawasan yang baik dan terorganisir. Dengan adanya perhatian khusus dari pemerintah, kawasan TNK bisa dikelola secara keseluruhan dan dirawat.

Maka, upaya merehap habitat komodo, hemat saya perlu diapresiasi. Selama ini, komodo memang dilupakan dari agenda pantuan pemerintah Indonesia. Padahal, komodo sudah lama dipajang di etalase dunia.

Dengan adanya keseriusan pemerintah dalam mengawasi, menertibkan, mendesain, mengelola, dan memperbaiki kawasan TNK, keberlangsungan hidup komodo, hemat saya, dipastikan tetap terjaga.