Presiden Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia maju. Upaya tersebut bukan pekerjaan mudah mengingat Indonesia sedang mengalami sejumlah tantangan global. Untuk mewujudkan visi dan tekad tersebut, Jokowi-Maruf dibantu oleh orang-orang berprestasi sebagai menteri dalam kabinetnya.

Presiden terpilih Joko Widodo bersama dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, memenuhi janjinya untuk membentuk kabinet yang berasal dari kalangan profesional. Dari 38 anggota Kabinet Indonesia Maju yang dilantik pada Oktober lalu, tercatat sebanyak 58 persen atau 22 orang menteri terpilih adalah kalangan profesional dan 42 persen atau 16 orang dari partai politik.

Komposisi tersebut tidak berselisih terlampau jauh dari janji yang disampaikan Jokowi pada Agustus lalu, atau 2 bulan sebelum dirinya dilantik. Kala itu Presiden Jokowi berjanji akan mengisi kabinetnya dengan komposisi 45 persen dari kalangan partai politik dan 55 persen dari kalangan profesional.

Di sektor pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menunjukkan keyakinan. Senyum yang selalu mengembang lebar, tatapan matanya menunjukkan rasa optimistis ke depan.

Meski sebelumnya ia adalah mantan CEO Gojek, namun sikap yang ditujukan Nadiem di awal kepemimpinan bukan berarti tidak memiliki persiapan, dirinya mengaku hanya perlu waktu.

Tentu ada alasan khusus kenapa presiden Jokowi mempercayakan posisi menteri pendidikan di tangan anak muda tersebut. Sebagai kepala negara, Jokowi percaya bahwa kemampuan Nadiem di bidang teknologi, dapat mempermudah beragam hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Sehingga bisa mewujudkan visi-misi presiden di bidang pendidikan.

Disamping itu, Jokowi mengaku bahwa Nadiem telah bercerita banyak tentang apa saja yang akan dikerjakan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karenanya, Nadiem mendapatkan amanah untuk mengisi pos Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain wajah baru, ada juga wajah lama yang kembali mengisi posisi kementerian, hal tersebut juga berhasil mencuri perhatian dunia, salah satunya adalah Sri Mulyani, dimana dirinya kembali terpilih menjabat sebagai menteri keuangan dalam kabinet pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin periode 2019-2024.

Salah satu media BNN Bloomberg, menuliskan berita bahwa menteri keuangan terbaik Asia pada 2006 tersebut kembali terpilih sebagai menteri keuangan di Kabinet Indonesia Kerja Jilid II.

Alasan dirinya menerima jabatan sebagai Menteri keuangan tersebut adalah, ia ingin berkontribusi yang nyata bagi kemajuan Indonesia.

Kita tentu paham bahwa keinginan Presiden Jokowi dan Wapres Ma’ruf Amin yaitu menginginkan Indonesia Maju, berpendapatan tinggi, dan bermartabat yang diwujudkan dalam Visi Indonesia 2045. Agar dapat menuju ke arah tersebut, instrumen keuangan negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan kekayaan negara tentu berperan sangat penting.

Sejalan dengan Visi Presiden Jokowi, Sri Mulyanin ingin agar seluruh jajaran kementerian keuangan untuk terus berpikir dan mencari alternatif kebijakan agar momentum pembangunan tetap diperkuat, sehingga siklus pelemahan ekonomi global tidak terlalu berdampak di dalam negeri.

Sementara itu, di posisi Menteri Dalam Negeri, ada sosok Tito Karnavian, dimana setelah purna dari jabatannya sebagai Kapolri, Jokowi memilihnya untuk menjabat sebagai Mendagri.

Keterpilihan Tito tentu bukan tanpa alasan, Jokowi mengaktu menunjuk Tito karena pengalaman serta hubungannya yang baik dengan kepala daerah.

Dengan modal tersebut, Presiden Jokowi berharap agar Tito dapat berkoordinasi dengan baik ke seluruh kepala daerah untuk mengawal penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan investasi di setiap wilayah.

Caranya, dengan memastikan tiap kepala daerah dapat menciptakan pelayanan publik serta tata kelola dunia usaha yang ramah dan cepat.

Sementara itu, ada hal yang cukup menarik yang dalam Kabinet Indonesia Maju, dimana menteri Agama dipilih dari latar belakang militer, yakni Fachrul Razi. Tentu banyak yang tidak menyangka sebelumnya dimana kementrian yang membidangi keagamaan di Indonesia dipimpin dari kalangan sipil baik tokoh publik, partai politik dan profesional. Seperti Abdul Malik Fajar, Quraish Shihab, Suryadarma Ali, Lukman Hakim dan lain-lain.

Pensiunan militer tersebut mendapatkan mandat dari Jokowi untuk mengatasi perihal radikalisme yang memang menjadi perhatian pemerintah dan memerlukan pendekatan yang kreatif untuk menanggulanginya.

Meski ia menjabat sebagai menteri Agama, namun karena dirinya berasal dari kalangan partai politik. Ia lebih memilih mewakili dari kalangan profesional di kabinet.

Pos kementerian telah diisi oleh orang-orang yang dianggap mampu mewujudkan apa yang menjadi visi Indonesia Maju pada kabinet Indonesia Maju, keterpilihana tersebut tentu saja menjadi harapan besar bagi kita semua agar Program Prioritas Pemerintah mendapatkan daya dukung dari segala elemen di pemerintahannya.