Riuh di pagi hari. Segerombolan orang dari ujung jalan sana terburu-buru dalam berjalan seraya berteriak-teriak. Bertambah dekat, semakin jelas teriakan itu menyatakan kehilangan. 

Barangkali semalam telah terjadi pencurian di kampung ini. Malam lengang kadang-kadang begitu menakutkan. Membahayakan. Di samping memberikan ketenangan saat berperadu bersama mimpi-mimpi. Ya, pencuri akan bergerak dengan bebas, leluasa mengambil apa saja saat malam hanyut dalam sepi dan kesamaran. Akan tetapi, kenapa begitu banyak orang yang berteriak tentang kehilangan yang menyimpulkan telah terjadi banyak pencurian. Sebanyak jumlah mereka.

Matahari mekar membias kemerahan di ambang pintu langit. Membelah lapisan-lapisan awan yang tak begitu tebal. Pagi merambat semakin cerah dan hangat. Udara terasa segar, mengipasi pucuk-pucuk daun melambai pelan. Suara kokokan ayam yang sejak subuh tadi membangunkan pagi, kini sudah tak riuh lagi, tertelan oleh teriakan-teriakan segerombolan orang itu.

Mereka masih berjalan terburu-buru. Dari dalam beberapa rumah yang mereka lewati, sejumlah orang membuka pintu, keluar, dan bergabung dalam segerombolan orang itu. Kemudian berteriak-teriak sehingga semakin banyak jumlah mereka. Semakin keras teriakan-teriakan mereka. Semakin bertambah jumlah kehilangan yang terjadi.

Setelah mencapai ruas jalan di depan balai desa, mereka berbelok, memasuki halaman balai desa yang cukup luas. Balai desa tampak masih sepi. Pintu dan jendelanya masih dalam keadaan tertutup. Belum ada aktifitas kerja di sana. Ya, mereka tiba kepagian. Hanya ada Midin, lelaki tiga puluhan tahun yang ditugaskan oleh petinggi desa sebagai petugas kebersihan balai desa, dan kini baru saja terbangun oleh teriakan-teriakan itu.

Midin terkejut ketika mendapati segerombolan orang berteriak-teriak mengepungnya. Menanyakan di mana Pak Lurah berada. Akan tetapi, Midin malah terdiam kebingungan. Kejadian itu begitu tiba-tiba dan membuatnya tak bisa menggerakkan lidahnya. Kemudian seseorang berkumis tebal bergerak maju, mencengkeram baju dan sarung Midin yang bergelayut di pundak.

“Di mana Pak Lurah? Kami mencari Pak Lurah. Kami ditimpa musibah. Kami telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga milik kami.” 

“Ya, ada yang mencurinya dari kami!” kata yang lain. 

Midin bertambah bingung dan ketakutan. Ia merasa segerombolan orang itu akan menghajarnya. Memukul dan menendangnya. Ia ingin sekali mengelak dengan berkata : “tak tahu”. Akan tetapi, lidahnya menjadi begitu padat dan kelu. Mulutnya terkatup diam. Suaranya tiba-tiba hilang, entah ke mana. Sementara cengkeraman orang berkumis di depannya itu semakin kuat. Midin sangat ketakutan hingga tak mampu menguasai dirinya lagi. Tak mampu menahan air kencing yang memerihkan kemaluannya dan kemudian membasahi celana hitamnya yang sebatas lutut.

Seketika Midin jatuh ke tanah setelah tangan kekar orang berkumis itu menghempaskannya. Sementara segerombolan orang itu masih berteriak-teriak, mencari Pak Lurah. 

“Diam, kawan-kawan. Diam!?” kata orang berkumis itu. Midin dengan pelan-pelan mundur diam-diam. kabur. Lalu : “Sekarang ada yang mencari Pak Lurah. Menyusul ke rumahnya. Ke mana saja. Asalkan Pak Lurah bisa kita datangkan ke sini. Kita tidak perlu menunggu hingga kantor balai desa ini buka, sebab itu terlalu lama”.

“Ya, harus ada yang mencari Pak Lurah,” teriak yang lain.

“Pardi, kamu ke rumah pak lurah. Bawa Pak Lurah kemari, ke balai desa. Ajak beberapa orang, ke sana!” kata orang berkumis itu. Pardi kemudian bergegas pergi ke rumah Pak Lurah diikuti beberapa orang laki-laki.

“Hasan, kamu juga. Kamu pergilah ke sawah Pak Lurah yang ada di sebelah  dekat bendungan. Bawa juga beberapa orang bersamamu.”

“Kimin, bawa beberapa orang ke mana saja, mencari Pak Lurah.” Pardi, Hasan, dan Kimin berangkat mencari tujuannya masing-masing diikuti oleh beberapa orang temannya. Sementara segerombolan orang, sisa dari mereka berteriak-teriak tentang kehilangan. Berteriak mencari Pak Lurah. 

Tak lama kemudian, dari ujung jalan Pak Lurah bersama beberapa orang berpakaian pejabat desa, serta Midin, terlihat berjalan menuju balai desa, dan ketika hendak memasuki halaman balai desa, segerombolan orang yang itu langsung merubunginya. Saling berteriak tentang kehilangan. Berteriak menuntut agar Pak Lurah bersama para pejabat desa segera mengatasi masalah yang melanda sebagian besar warga desa itu. Mencari sesuatu yang berharga milik mereka yang hilang. Mungkin dicuri atau lenyap begitu saja.

“Tenang kawan-kawan,” teriak orang berkumis itu menenangkan mereka. Pak Lurah sudah berdiri di balai desa menghadap mereka bersama para pejabatnya kini. Ia langsung menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi di desa ini sebenarnya. Kemudian orang berkumis itu berkata :

“Maaf, Pak Lurah kami telah mengganggu ketenangan bapak. Akan tetapi, bapak adalah pemimpin kami. Pemimpin yang kami harapkan mampu memimpin di dalam mewujudkan keadaan yang aman-tentram, makmur-sentosa bagi desa kita ini. Bagi semua warga desa ini.” 

Orang berkumis itu diam sejenak, menoleh menoleh ke belakang. Segerombolan orang itu tampak diam, memperhatikan dengan seksama.

“Dan kini, suatu musibah telah menimpa diri kami. Hidup kami. Beberapa di antara warga desa ini telah kehilangan. Ya, kami telah terceraikan dari milik kami. Sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kami. Untuk itu, kami memohon kepada Pak Lurah bersama pejabat desa yang lain, atau siapa saja untuk membantu kami. Menemukan kembali sesuatu yang berharga milik kami yang hilang itu,” lanjut orang berkumis itu. Sementara itu, Pardi, Hasan, dan kimin beserta beberapa orang datang, memasuki halaman balai desa. Mereka bertiga langsung maju ke depan berdiri di belakang orang berkumis itu.

“Baiklah. Saya dan semua pejabat desa akan membantu semaksimal mungkin untuk menemukan dan mengembalikannya kepada saudara-saudara sekalian. Akan tetapi, kami tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus bekerjasama. Ya, saling membantu,” kata Pak Lurah yang seketika disambut dengan yel-yel “hidup Pak Lurah, hidup pejabat desa” dari segerombolan orang itu. Warga desa yang kehilangan. 

“Saya akan membentuk Komisi Pencarian Kehilangan yang akan dipimpin oleh pak carik. Di samping itu, untuk memudahkan di dalam pengorganisasian, kami memerlukan laporan tentang sesuatu yang berharga milik saudara-saudara yang hilang itu. Kemudian, kita akan mencarinya bersama-sama,” lanjut Pak Lurah. Kembali segerombolan orang itu meneriakkan yel-yel.

“Tenang. Tenang, saudara-saudara,” kata Pak Lurah menenangkan mereka.

“Dan selama proses pencarian, saya harap saudara-saudara bersikap tenang, tidak anarkis, tidak terpancing emosi, sambil berdoa agar sesuatu yang berharga milik saudara-saudara yang hilang itu dapat ditemukan dalam keadaan utuh.”

Tidak lama setelah itu, segerombolan orang yang berteriak-teriak itu terlihat antri melaporkan sesuatu yang berharga milik mereka yang hilang. Ada yang kehilangan mainan, uang, sawah, kambing, televisi, perabot rumah tangga, dan harta benda lainnya. Ada juga yang kehilangan kasih sayang, cinta, persaudaraan, kedamaian dan perasaan yang lainnya. Ada juga yang kehilangan anak, istri, orang tuanya, adik-kakaknya, mertuanya, guru-gurunya, dan diri sendiri. Bahkan ada beberapa juga yang kehilangan Tuhan-nya. 

Antrian orang-orang yang kehilangan bertambah panjang dan hingga malam tiba, kegiatan itu masih belum selesai juga. Sementara orang-orang yang sudah melaporkan kehilangannya, langsung melakukan pencarian, dengan dibantu oleh seorang pejabat desa dan beberapa warga desa lainnya. 

***

Dua hari kemudian. Saat itu subuh, Midin berlari dari balai desa ke rumah pak sembari berteriak-teriak memanggil Pak Lurah. Ia terus berteriak hingga akhirnya Pak Lurah membuka pintu. Berdiri di hadapannya. 

“Ada apa, Din?” tanya Pak Lurah.

“Anu, Pak. Anu....”

“Tenang dulu. Tenang dulu. Baru ngomong.”

“Komisi Pencarian Kehilangan Pak Lurah.”

“Ada apa dengan Komisi Pencarian Kehilangan?”

“Hilang, Pak Lurah,” kata Midin. 

“Hilang!?” (*)