Peneliti
3 minggu lalu · 84 view · 5 min baca menit baca · Buku 49137_78296.jpg

Komik Berat nan Seksi

Buku yang berjudul Feminisme untuk Pemula ini aku sebut sebagai (buku) komik. Komik yang berat, tapi seksi. Seksinya: dari ide-ide, gagasan, tentang feminisme itu sendiri, yaitu isi dari buku ini. 

Para penulisnya juga seksi. Mereka adalah kaum yang menganut feminisme, sang feminis. Gambar-gambar yang disajikan juga sangat seksi hingga terjalin cerita yang asyik dan seru.

Aku mendapatkan buku ini bersama buku yang berjudul Analisis Gender & Transformasi Sosial dari kemenanganku ketika arisan buku dengan teman-teman perempuan yang suka membaca buku.

Sebenarnya, dua buku di atas pernah kubaca sebelumnya, ketika aku menyusun skripsi (S1). Bahkan, menjadi referensi untuk teori skripsiku yang berjudul The portrait of strong woman for seeking treasures as reflected in Steve Berry's, the Amber room: a feminist study. 

Namun, hampir sebelas tahun telah berlalu, ketika aku membaca dua buku tadi, entah koleksi buku yang dulu ada di mana; antara dipinjam orang lain atau dimakan rayap di rumah orang tuaku . Aku juga sudah lupa, tidak ingat lagi isinya (persis) seperti apa. Benar juga status seorang teman pencinta buku di Resensi Institute, "Lupa bukan keadaan terhapus dalam pikiran, tapi karena jarang diakses."

Kini, aku (sedang) membaca Feminisme untuk Pemula lagi karena aku berusaha menyusun tulisan, paper yang bertema gender.

Baca & Lawan

Baca dan lawan adalah slogan buku. Buku yang cetakan pertamanya sejak Desember 2007 diterbitkan oleh Resist Book adalah bagian dari Seri Gerakan Sosial. 

Baca Juga: Queer Feminisme

Menurut keterangan sampul belakang buku, bagi beberapa orang, kata "feminisme" menggambarkan hantu yang menakutkan mengenal persaingan gender, "perang antarjenis kelamin" dan wanita-wanita yang benci laki-laki. 

Oh, no! Kesannya mengerikan sekali.

Namun, paragraf lebih lanjut tertulis: Feminisme untuk Pemula menyingkap mitos yang melingkupi tema tersebut dan menyajikan sebuah kajian yang tajam mengenai gerakan kaum wanita dari masa kelahirannya yang mengejutkan pada saat Revolusi Prancis sampai dengan ledakan gerakan pembebasan wanita di seluruh dunia pada tahun 1970-an hingga perkembangan kontemporer. 

Buku ini juga menghadirkan prestasi-prestasi feminisme dan tantangan-tantangan yang masih harus dihadapi kaum wanita di seluruh dunia memasuki abad ke-21.

Paragraf di bawahnya lagi, tertulis: inilah buku panduan kronologis mengenai perjuangan bagi hak-hak kaum wanita. Sebuah sejarah tentang dinamika perlawanannya terhadap sistem yang menindas serta aliran-aliran yang tumbuh dalam gerakan perempuan. 

Susan Alice Watkins, Marissa Ruede, dan Maria Rodriguez telah menciptakan sebuah karya kata dan gambar yang sangat menghibur yang bercerita tentang perjuangan kaum wanita yang luar biasa, di masa lalu dan masa sekarang.

Feminisme Itu Apa?

Pada halaman tiga dari isi buku ini, kita akan menemukan pertanyaan dasar: Apakah feminisme itu? 

Feminisme ialah tentang perlawanan terhadap pembagian kerja di suatu dunia yang menetapkan kaum laki-laki sebagai yang berkuasa dalam ranah publik, seperti dalam pekerjaan, olahraga, perang, (dan) pemerintahan. Sementara kaum perempuan hanya menjadi pekerja tanpa upah di rumah, dan memikul semua beban kehidupan keluarga.

Kemudian, masih dari halaman yang sama, tergambar tiga tokoh perempuan yang kuasumsikan sebagai penulis buku. Mereka mengungkapkan makna feminis versi mereka: menentang relasi-relasi antara laki-laki (sebagai suatu kelompok) dan perempuan (sebagai kelompok yang lain).

Dan melawan segenap struktur kekuasaan, hukum, dan aturan-aturan yang menjadikan kaum perempuan sebagai rendah, subordinat, dan kelas dua.


Kaum perempuan secara sadar berjuang bersama demi hak-hak mereka. Karena itulah satu-satunya jalan agar bisa memenangkan hak-hak tersebut.

Di halaman selanjutnya, ada sub judul: sebelum bangkitnya feminisme yang memberikan contoh perempuan yang memiliki bakat yang luar biasa seperti Ratu Elizabeth sebagai ratu Inggris, atau Joan of Arc sang pejuang Prancis (halaman 4-5).

Kemudian, kita akan mendapati banyak perempuan yang menjadi pejuang kesetaraan itu, seperti Sor Juana, seorang biarawati dengan puisinya yang tajam (halaman 6-7). 

Akar permasalahan feminisme dimulai dari setelah masa feodal. Pada masa itu, abad ke 18, masyarakat-masyarakat feodal di mana para raja, bangsawan, pemilik tanah yang luas, dan pendeta yang berkuasa. 

Selain dari yang di atas, adalah pekerja. Meski tugas dan upahnya berbeda, namun laki-laki dan perempuan bekerja bersama. Dari sini kemudian berkembang luaslah industri-industri manufaktur dan kota-kota besar memisahkan pekerjaan dari rumah, memisahkan pekerjaan kaum laki-laki dari perempuan, dan menciptakan untuk pertama kalinya ide tentang LAKI-LAKI sebagai PENCARI NAFKAH, dan PEREMPUAN sebagai IBU RUMAH TANGGA yang secara ekonomi bergantung (halaman 8).

Kemudian, zaman pencerahan pada pertengahan abad ke 18, sekelompok pemikir internasional yang mulai tercerahkan menentang tirani masyarakat feodal yang didasarkan pada hak-hak istimewa turunan yang dimiliki oleh raja-raja, gereja, dan bangsawan-bangsawan. 

Muncullah (slogan) Hak Asasi Manusia, dari masyarakat kebanyakan versus hak ketuhanan milik para raja. Di tengah- tengah perubahan sosial itu, kaum perempuan tampil dengan persoalan KETIDAKSETARAAN yang mereka alami dan mulai menentang tirani laki-laki dalam rumah tangga (halaman 10).

Para revolusioner yang menentang tirani kerajaan dari raja-raja dan tirani rumah tangga dari laki-laki muncul dalam bentuk buku yang berjudul Rights of Man (1791) yang ditulis oleh Yom Paine, dan buku A Vindication of the Rights of Woman (1792) oleh Mary Wollstonecraft. 

Buku Mary yang pertama kalinya mengeluarkan ide-ide pencerahan dikaitkan dengan situasi perempuan. Buku ini segera menjadi buku laris dan menjadi batu alas dari feminisme modern (halaman 15). 

Pada tahun 1789, terjadi Revolusi Prancis. Mary Wollstonecraft tidak sendirian. Ia bersama dengan sekitar 6.000 perempuan lainnya, kaum buruh perempuan Prancis, mengeluhkan kelangkaan bahan makanan. Mereka bergerak menuju pusat kota Prancis, menuntut roti murah. Lebih dari pada itu, mereka ingin menyingkirkan kondisi-kondisi sosial, dan bukan hanya pada level individual (halaman 20-21). 

Kemudian, para pelopor Afro-Amerika, para pejuang perempuan, juga berjuang untuk menentang gerakan perbudakan dengan memberikan kesempatan baik kepada perempuan kulit putih maupun kulit hitam, untuk mengorganisasi secara politik perlawanan yang menentang penindasan atas mereka (halaman 27).


Lalu, ada konvensi perempuan yang pertama yang dihadiri oleh seratus laku-laki dan perempuan yang berkumpul bersama dalam gereja kecil Wesleyan di Seneca Falls pada jam 10 pagi tanggal 19 Juli 1848. Adalah Elizabeth Cady Stanton (1815-1902) yang mengajukan usulan revolusi yang sedemikian radikal, yaitu turunnya perempuan ke jalan dan berkampanye demi hak pilih (halaman 43). 

Respons terhadap Buku

Buku yang terdiri dari 176 halaman ini merupakan buku yang memiliki banyak tema: mulai dari sejarah, perempuan, pendidikan, percintaan, sampai pada isu-isu pornografi. Semua tersaji dengan tumpah ruah dan kompleks. 

Esensi buku ini sangat sayang jika dilewatkan, sehingga aku tidak mau menyingkat, lalu menyimpulkan dengan cepat hasil membaca dan meringkasku. Isinya penuh dengan pengetahuan dan pengalaman.

Hanya saja, seandainya gambarnya berwarna, akan terlihat warna-warni hidup yang colorful sekali.

Aku baru menamatkan beberapa halaman, baru seperampat dari isi buku. Semoga di edisi selanjutnya, dengan judul yang sama, komik berat nan seksi (2) kita bertemu lagi.

LA yang panas, 230619.

Artikel Terkait