16363_94028.jpg
Gaya Hidup · 3 menit baca

Komedi Tahu Tempat
Dark Humor

Dark Comedy atau Black Humor akhir-akhir ini sedang hangat diperdebatkan di media sosial. Ada beberapa pihak yang merasa tersinggung hingga tidak terima dengan model lawakan seperti ini. Maklum saja komedi jenis ini banyak menyinggung ranah yang dianggap serius, seperti agama, ras, kematian atau bahkan penyakit.

Tretan Muslim yang seorang stand up comedy-an jebolan ajang pencarian bakat SUCI 3 dikenal lekat dengan humor-humornya tentang toleransi beragama dan solidaritas. Tretan diketahui memiliki sebuah channel memasak di YouTube bernama Tretan Universe dengan konten The Last Hope Kitchen.

Di channel ini, Tretan memang sering membuat masakan dengan bahan baku yang tidak lazim untuk dipadu-padankan. Pernah ia membuat membuat sebuah sup ayam dengan kuah minuman Adem Sari. Pada lain kesempatan, ia juga pernah membuat kue bolu dengan selai suplemen pilkita.

Pada suatu ketika, Tretan ditemani oleh Coki Pardede membuat bahan masakan dengan bahan utama daging babi, sari kurma, dan madu. Di video ini, Tretan yang terkenal dengan jokes sarkasnya mendekatkan telinganya ke daging babi, seolah mendengar sang babi sedang disiksa oleh api neraka. Kemudian mencampurkan sari kurma dan madu yang berlabel Arab ke daging babi. Lalu Coki Pardede berkata “Bagaimana jika sari-sari kurma masuk ke pori-pori [daging babi], apakah cacing pitanya jadi mualaf?”

Sontak konten ini membuat banyak pihak tersinggung. Bahkan Tretan dan Coki dianggap melakukan penistaan agama dan bersikap provokatif. Padahal, jika dilihat secara keseluruhan, konten ini mengkritik fenomena “kearab-araban” yang kental dengan Islam. Padahal tidak semua yang bertuliskan Arab atau apa pun yang berasal dari Arab adalah sepenuhnya tentang Islam.

Setelah video tersebut viral dan menjadi buah bibir di masyarakat maupun media sosial, Tretan menghapus video tersebut karena banyak pihak atau ormas yang merasa tersinggung hingga menghalalkan darah mereka karena konten tersebut. Bukan hanya mereka yang terancam dibunuh, bahkan keluarga mereka juga menjadi sasaran oleh para pejuang agama yang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. 

Namun dengan kondisi Indonesia yang sedang seperti sekarang ini, rasanya dark comedy seperti ini belum bisa ditafsirkan dengan baik. Isu-isu yang menurut mereka menyinggung tentang agama tidak bisa dianggap sebelah mata. Mereka yang mengkritisi atau bahkan hanya karena sebuah kesalahan interprestasi beberapa golongan, mereka harus diadili atau bahkan lenyap dari masyarakat.

Tahu Tempat

Dark Comedy, menurut Kamus Cambridge, adalah film atau permainan yang dapat melihat sisi komedis dari hal-hal yang biasanya dianggap sangat serius, seperti kematian atau penyakit. Sementara itu, Patrick O'Neil dalam jurnal Canadian Review of Comparative Literature merujuk black humor sebagai celetukan yang muncul dalam percakapan santai namun kritis.

Komedi ini kebanyakan mengkritik sebuah fenomena yang sedang berkembang dengan gaya sarkasme. Sarkasme sendiri memerlukan kemampuan berpikir ‘out of box’ agar dapat dimengerti. Sarkasme tidak bisa ditafsirkan secara mentah-mentah begitu saja oleh orang awam. 

Namun yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini adalah tidak semua orang paham tentang apa itu sarkasme, tidak semua orang paham tentang dark jokes itu sendiri, dan tidak semua orang memiliki kemampuan berpikir serta menanggapi sarkasme membuat sarkasme sendiri dianggap sebagai sebuah penistaan. Maka dari itu, komedi seperti ini tidak bisa dilontarkan di sembarang tempat, di sembarang lingkungan, dan di sembarang waktu.

Wajar bila di Indonesia masih terdapat banyak pihak yang merasa kontra. Humor semacam ini masih asing di Indonesia dibandingkan humor yang menertawakan keburukan atau kekurangan orang lain di atas panggung. Selera humor orang-orang tentu berbeda, tidak berarti orang yang menyukai humor genre seperti ini menganggap dirinya lebih pintar dari orang lain. 

Tretan Muslim dan Coki Pardede memberi alternatif ruang hiburan bagi kita. Saat kita dijejali oleh pencitraan, hoaks, politik identitas, saling klaim kebenaran dan kesalehan, apa dikata, mereka malah dicap oknum penistaan agama hingga bahkan dikafir-kafirkan. Komedi jenis ini memang belum sepenuhnya dapat diterima oleh segala kalangan masyarakat. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menggunakan jokes jenis seperti ini.

Untuk pihak yang terprovokasi atau sensi-an terhadap humornya, lebih baik dijelaskan apa maksud dan tujuannya. Jangan malah dicaci apalagi diancam untuk dibunuh. Jagalah keharmonisan di antara umat beragama. Mengutip dari sebuah akun twitter @NUgarislucu, di dalam tweetnya menyampaikan pesan yang singkat namun bermakna bertuliskan, "Mengkritik umat Islam bukan berarti mengkritik Islam. Islam agama yang sempurna, tapi manusia tempatnya salah dan lupa."