Setelah dibuka oleh adegan satir tentang diskriminasi rasial yang menarik dan adegan pengenalan karakter Rachel Chu (Constance Wu), isyarat konflik dalam film ini segera terlihat. Nick Young (Henry Golding), tunangan Rachel, berniat membawanya ke Singapura untuk bertemu ibu dan keluarga besar Nick.

Tanpa disadari Rachel, Nick sebenarnya putra keluarga miliarder nomor satu di Singapura. Sebagai pemuda pewaris konglomerasi besar, tentu saja kabar kembalinya Nick membawa calon istri segera menyebar. Gosip bercampur rasa ingin tahu yang sebenarnya menutupi rasa iri seketika sampai ke telinga Eleanor Sun-Young (Michelle Yeoh), ibunda Nick.

Di Singapura, Rachel menghadiri berbagai pesta. Baik pesta keluarga besar Nick, pesta bujang perkawinan Colin Khoo (Chris Pang) dan Araminta Lee (Sonoya Mizuno). Namun pesta tersebut tidak selamanya menyenangkan.

Justru pada serangkaian pesta tersebut, Rachel harus menunjukkan ketangguhan dan kecerdasannya menghadapi Eleanor Sun-Young dan lingkungan sosial Nick yang merisaknya. Beruntung, Rachel tidak hanya didukung Nick. Ia juga mendapat bala bantuan dari Astrid Leong Teo (Gemma Chan) dan Goh Peik Lin (Awkwafina).

Astrid adalah sepupu Nick yang paling cantik dan glamor. Ia sendiri pun sebenarnya menyimpan masalah akibat suaminya, Michael Teo (Pierre Png) yang berasal dari bukan keluarga elite. Sementara Peik Lin adalah sahabat Rachel sejak mereka kuliah di New York.

Untuk formula drama komedi romantis, tentu bisa ditebak bagaimana akhir perang urat syaraf Rachel “melawan” Eleanor dan lingkungan keluarga Nick. Pertanyaan yang lebih menarik mungkin, bagaimana Rachel mengatasi semua itu?

Dari aspek alur cerita, tidak ada yang baru dari Crazy Rich Asians. Kisah calon menantu dari keluarga jelata yang berusaha diterima oleh mertua dari keluarga kaya raya, sudah menjadi formula klise. Premis semacam itu, bisa ditemukan dalam film Bollywood Kabhi Khushi Kabhie Gham... (2001) dan drama seri Meteor Garden (2001), misalnya.

Konflik puncak dalam film ini terasa terlalu cepat. Boleh dibilang, penonton tidak diantar pelan-pelan menuju adegan klimaks perseteruan. Namun permainan analogi dongeng Cinderela dalam adegan konflik cukup mengesankan.

Di luar kesederhanaan formula cerita, presentasi karakter Rachel Chu sangat menarik. Rachel digambarkan bukan sebagai perempuan lemah lembut yang pasrah dianiaya. Sebaliknya, Rachel ditampilkan sebagai profesor ekonomi perempuan termuda yang cerdas dan tangguh.

Kecerdikan dan kecerdasan Rachel sebagai profesor ekonomi tidak diperkenalkan lewat kacamata tebal dan deretan angka kalkulus. Sisi profesor ekonomi Rachel diperlihatkan dalam kecerdasan dan kelihaiannya memainkan game theory. Sebuah keahlian yang kelak mampu menyelesaikan masalah pribadi Rachel.

Dalam Kabhi Khushi Kabhie Gham, Anjali Sharma (Kajol) dideskripsikan sebagai perempuan lugu dan pasrah. Ia hanya calon menantu perempuan miskin yang berlindung di balik Rahul Raichan (Shahrukh Khan). Suaminya itu yang memperjuangkan nasib Anjali dengan menentang keangkuhan ayah mertua sekaligus kepala keluarga Yashvardan Raichan (Amitabh Bachchan)

Namun dalam Crazy Rich Asians, Rachel Chu adalah perempuan cerdik, pintar yang tegar menghadapi kesombongan sang calon ibu mertua, Eleanor, secara anggun dan berkelas. Rachel tidak berlindung di balik punggung Nick. Boleh dibilang, Rachel adalah versi lebih cerdas dari Dong Shan Cai (Barbie Shue) dalam Meteor Garden.

Rachel datang ke pesta keluarga Nick yang kaya raya dengan kepercayaan diri yang cukup. Bahasa tubuh dan kalimat implisit penolakan Eleanor ditanggapi dengan tenang. Kekagetan Rachel memasuki lingkungan baru, masih wajar terdeskripsikan.

Serangan perisakan oleh lingkungan sosial Nick, dihadapi Rachel dengan karakter pejuang khas imigran. Kekecewaan dan kerapuhan ditampilkan dalam porsi yang manusiawi. Pendeknya, Rachel Chu bukanlah tipe perempuan melankolik klise yang biasa ditampilkan dalam film drama.

Sekalipun digambarkan sebagai tokoh antagonis, Eleanor sendiri sebetulnya tidak jahat. Ia hanya sosok penjaga nilai-nilai konservatif tradisional keluarga Asia. Adegan-adegan awal menjadi kunci penjelas persepsi Eleanor terhadap “orang asing” dan mengapa ia sangat protektif menjaga nilai-nilai tradisi. Sisi manusiawi ini yang membuat Eleanor sebagai karakter yang menyebalkan tapi bisa dipahami latar belakangnya.

Dalam beberapa detail, cara film ini mengenalkan budaya Asia ke Hollywood cukup sukses. Sepatu Rachel dicopot saat masuk ke rumah Peik Lin. Eleanor memastikan sendiri masakan yang disajikan untuk tamu.

Tradisi mencopot sepatu dan ibu yang memasak, setidaknya memastikan masakan untuk tamu, berhasil menampilkan kultur Asia. Plus, ikatan keluarga besar dan intervensi lingkungan sosial pada kehidupan privat yang sangat kuat.      

Isu hipokrisi demi gaya hidup mewah, efek racun maskulinitas yang menimpa laki-laki dan perempuan, kritik pada feodalisme hingga benturan budaya komunalisme melawan indivdualisme terlihat dalam film ini. Sayang, masalah-masalah tersebut tidak digali lebih dalam dan disajikan secara satir dan sarkas.   

Walaupun durasi sekitar 120 menit, sebenarnya, menyediakan ruang untuk menggali masalah-masalah itu lalu menyajikannya dengan lebih segar. Beban komedi yang menjadi porsi Awkwafina sebagai Goh Peik Lin masih terasa sebagai dagelan yang kurang cerdas. Mungkin, sutradara Jon M Chu serta penulis naskah Peter Chiarelli dan Adele Lim tidak punya perspektif yang tajam untuk menggarapnya.

Sekalipun menampilkan detail Asia yang cukup sukses, termasuk jajanan pinggir jalan seperti sate dan kwetiau, film ini masih terjebak pada stereotipe usang. Orang Asia Selatan cuma digambarkan sebagai penjaga rumah. Sementara orang-orang kaya kelas atas, hanya orang Tionghoa.

Padahal dalam daftar 50 orang terkaya Singapura tahun 2018 versi majalah Forbes, terdapat Raj Kumar & Kishin RK (9), Arvind Tiku (13) dan Asok Kumar Hiranandani (21) yang keturunan India. Jangan lupa juga ada Eduardo Severin (Brazil) di peringkat kedua.

Sisi etnis lingkungan elite kaya Singapura sebenarnya lebih beragam daripada apa yang ditampilkan dalam film. Untungnya hadir sosok Putri Intan, yang diceritakan sebagai bangsawan Melayu. Sayangnya, putri tersebut diperankan oleh aktris Filipina, Kris Aquino, bukan aktris beretnis Melayu. Kris adalah anak mantan presiden Corazon Aquino serta adik mantan presiden Benigno Aquino III.

Kalaupun dalam novel karangan Kevin Kwan berjudul sama dengan film ini (2013) tidak ada sosok kaya dari etnis selain Tionghoa, sebenarnya sutradara bebas saja menambah pemeran pendukung. Toh bentuk film tidak selalu harus disiplin mengikuti novel tapi masih ada ruang interpretasi. Tetapi entah mengapa itu tidak dilakukan

Dari departemen akting, para aktor dan aktris bermain sesuai standar film komedi romantis. Constance Wu mempesona penonton sebagai perempuan cerdas dan mandiri. Henry Golding relatif berhasil memerankan pewaris keluarga kaya yang punya pendirian tegas. Bukan hanya sebagai pangeran tampan dan kaya yang mempesona para perempuan.

Sikap dingin, angkuh tapi berkelas ala calon ibu mertua dari keluarga ningrat ala Michelle Yeoh sukses membuat merinding sekaligus sebal. Pesona perempuan cantik khas kelas atas berhasil dipresentasikan Gemma Chan sebagai Astrid. Isu racun maskulinitas yang melilit hidup sebenarnya membuat karakter Astrid makin manusiawi. Hanya saja, skenario kurang tajam mengungkap isu tersebut.

Aspek visual sangat memanjakan mata penonton. Detail pengambilan gambar Crazy Rich Asians benar-benar menegaskan gaya hidup mewah kalangan elite miliarder Singapura. Pesta penuh warna, rumah besar lengkap dengan penjaga, sesi karpet merah yang glamor sampai liburan ke pulau kecil, semua ditampilkan hampir sempurna dalam film ini.

Secara umum, Crazy Rich Asians cukup menghibur memenuhi standar drama komedi romantis. Beberapa detail presentasi Asia-nya cukup memuaskan. Sekalipun tetap ada kekurangan. Namun bila kita mengharapkan komedi cerdas dalam bentuk satir dan sarkas terhadap isu-isu feodalisme, racun maskulinitas dan hipokrisi kehidupan mewah, film ini gagal menampilkannya. [C]

Crazy Rich Asians Official Trailer (2018)