“Hanya ada dua berita tentang kami. Cerita buruk: kami adalah teroris. Cerita bagus: kami diduga teroris.” ~ Komedian Dean Obeidallah

Komedi memang tidak bisa jauh dari kritik sosial yang terjadi. Sering kali para komedian menggunakan keresahan pribadinya tentang fenomena sosial menjadi bahan lelucon. Komedi adalah perlawanan. 

Akan tetapi perlawanan itu tidak mudah, karena komedi berhadapan dengan kuasa yang sering kali menolak untuk dilawan. Kuasa yang seolah-olah dibenarkan Tuhan. Kuasa yang sering kali membungkam balik kritik yang ditujukkan kepadanya. Kuasa yang mengancam dan menebar teror serta ketakutan kepada pengkritiknya.

Beberapa hari ini, nama Tristan Muslim dan Coki Pardede viral di media sosial. Hal ini dipicu oleh salah satu video YouTube mereka yang melakukan lelucon menggunakan istilah-istilah agama. Sontak saja beragam reaksi negatif, bully, dan makian menyerang mereka dengan begitu frontal. Mereka dituduh melakukan penistaan terhadap agama.

Muslim dalam video permohonan maaf sekaligus perpisahan mereka dari komunitas Majelis Lucu Indonesia sebagai komunitas tempat mereka melawak selama ini mengakui bahwa pasca video itu viral, berbagai ancaman pembunuhan terhadap Muslim, keluarga, dan teman menderanya. Dia merasa tidak aman. Orang yang merasa agamanya dilecehkan ini, alih-alih menerima permintaan maaf kedua komedian ini, malahan berbalik menyerang bahkan menyebar ketakutan yang begitu besar kepada Muslim beserta keluarganya.

Kisah dua komedian ini menambah rentetan komedian lain yang juga pernah mengalami nasib serupa. Pandji Pragiwaksono, Us, Joshua Suherman, dan Ge Pamungkas tercatat pernah mengalami persekusi, bully, dan ancaman dari pihak yang agamanya tersinggung. Lelucon mereka dianggap melecehkan agama, persis seperti yang dilakukan oleh Muslim dan Coki Pardede.

Selain yang membully, tak sedikit orang mendukung dan memberikan simpati terhadap keduanya. Mereka menyesalkan banyaknya reaksi sentimen yang berlebihan terhadap Muslim dan Coki. 

Orang tidak bisa lagi melihat perbedaan antara lelucon dan serius. Orang cepat sekali tersinggung dan merasa dilecehkan nama baik pribadi dan kelompoknya ketika kenyamanannya diganggu, atau ketika dikritik karena padangan politis, keyakinan agama yang keliru yang nyata-nyatannya memicu banyak masalah dalam kehidupan bersama dibawa dalam lelucon.

Pertanyaannya sekarang, sebegitu sensitifnya kita sampai-sampai lelucon saja kita sudah marah-marah dan mengancam untuk membunuh yang lain? 

Bukan bermaksud menyederhanakan masalah, tapi sering kali kita sensitif bila agama kita dikritik, disinggung, termasuk lewat lelucon sekalipun, tapi malahan kurang sensitif dengan isu-isu sosial kemasyarakatan ketika agama itu dibutuhkan sebagai simbolitas perjuangan moral untuk memajukan kebenaran dan keadilan. Atau ketika agama dilecehkan oleh mereka yang buka-bukaan menggunakan agama sebagai sarana kekerasan, sarana pemenangan politik.

Komedi Perlawanan

Almarhum Gus Dur adalah seorang yang suka humor. Ia adalah tokoh agama Islam yang sangat terkemuka yang banyak kali menelurkan humor-humor yang nyeleneh.

Dalam buku Ijtihad Politik Gusdur, Munawar Ahmad mengetengahkan pandangan Gus Dur tentang humor atau komedi. Gus Dur meyakini bahwa komedi atau lelucon/humor menyatukan bahasa rakyat banyak dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dikeluhkan dan dirasakan. Terkadang lelucon berfungsi sebagai pelepas kejengkelan orang banyak terhadap penguasa atau pemimpin yang bertindak jauh dari kebenaran. (hlm. 249)

Bagi Gus Dur, komedi memiliki fungsi perlawanan. Di balik perlawanan kritisnya, komedi menunjukkan kesadaran yang tinggi untuk menyatakan apa yang benar sebagai kewajiban yang tak terelakkan. Bila kuasa dalam politik, agama, dan ekonomi sering kali tidak membawa kesejahteraan dan kegembiraan, maka komedi adalah obatnya. Kepahitan tidak mustahil akan ditundukkan oleh kesegaran humor atau komedi.

Padahal hakikat dari lelucon atau komedi itu sendiri adalah melawan. Komedi melawan dan mengkritisi kehidupan yang sering kali terlalu serius tapi sebenarnya penuh kemunafikan. Kehidupan yang kelihatan agamais tetapi banyak kali dalam praktiknya tidak mencerminkan perilaku seorang beragama. Kehidupan yang sering kali juga buta atau pura-pura buta di hadapan realitas kejahatan semisal korupsi, kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan. Ganjil, kan?

Muslim dan Coki Pardede adalah dua komika, sebutan untuk mereka yang melakukan pertunjukan tunggal lawak sambil berdiri, yang dalam leluconnya sering kali banyak menyinggung keganjilan-keganjilan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, dan agama. Lelucon mereka tidak hanya membuat banyak orang yang menyaksikan mereka tertawa terpingkal-pingkal, tapi juga mengajak orang untuk berpikir dan menyadari bahwa banyak praktik sosial kehidupan yang ganjil yang perlu dikritik dan diketawai hari-hari ini.

Keganjilan-keganjilan itu memang harus diketawai dan dikritik. Diketawai karena realitas itu ganjil. Ganjil berarti tidak sesuai dengan kondisi alamiah dan kondisi seharusnya. Diketawai supaya kita tidak terlalu serius melihat keganjilan sebagai keganjilan yang tidak bisa diubah. Keganjilan dikritik agar keganjilan yang bisa diubah itu diperhatikan dan  bisa dibangun kembali supaya tidak terus ganjil.

Kritik Agama

Memang isu yang kedua komedian ini angkat dalam lelucon adalah isu agama. Isu yang sensitif. Isu yang sering kali memicu konflik dan kekerasan dalam perbedaan. Isu yang banyak kali membuat orang beragama agresif bak serigala yang hendak menerkam mangsanya. Isu yang sering kali ditanggapi dengan emosi dan kepekaan untuk melawan balik. Makanya saat ini orang enggan untuk membahas, mengkritik, dan “melawan” agama. Pertanyaannya, sebegitu menakutkankah agama?

Menilik lelucon yang dimainkan Muslim dan Coki, saya justru menilai bahwa dua komedian ini justru sengaja menggangkat isu sensitif agar ia kembali dibicarakan dalam ruang publik kita. Agama tidak bisa diposisikan sebagai kebenaran yang tidak bisa salah. Agama sebagai institusi duniawi yang dijalankan oleh manusia tidak melulu benar. Ia bisa salah, karena ia bukan Tuhan. Karena itu, agama pun tidak bisa lepas dari kritik. 

Agama tidak bisa mengklaim kebenarannya sendiri dengan berlindung atau cari aman di balik kata sensitif. Kebenaran tidak terletak pada satu agama pun. Kebenaran justru menampakkan diri ketika kita dalam aneka macam agama melepaskan sensitivitas dan sentimen beragama kita dan terbuka untuk berdialog, dan dikritik.

Dalam kerangka ini juga, mereka mengajak kita memikirkan ulang cara beragama kita. Mereka sadar bahwa agama sebagai isu sensitif tidak tabu dikritik atau dijadikan bahan lelucon. Saat agama antikritik, antilelucon, saat itu agama mengalami kemunduran. 

Saya melihat, justru karena mereka menghargai agama, maka mereka membuat lelucon untuk melawan praktik agama yang sering kali lebih sensitif terhadap dirinya, tapi kurang sensitif dengan realitas di luar agama yang banyak kali diabaikan. Lewat lelucon, keduanya mencoba melihat keganjilan dalam beragama dewasa ini, menertawakan bagaimana agama sering kali marah ketimbang ramah terhadap berbagai pihak yang mengkritik, menyingung, dan coba membahas kebobrokannya.

Lelucon yang diproduksi bukan terutama bertujuan untuk menghina, tapi menertawakan praksis beragama yang sering kali tidak pada tempatnya alias ganjil. Orang  beragama hari ini menyembah agama, bukan menyembah Tuhan. Orang beragama hanya dengan hati tapi tidak dengan akal sehat. Justru komedi perlawanan yang dimainkan Muslim dan Coki bahkan Gus Dur mengajak kita untuk berani menertawakan diri karena dengan menertawakan diri kita dibebaskan dari kekakuan dan dogmatisme dalam beragama.

Dalam sejarahnya, kritik terhadap agama sudah banyak dibuat. Bahkan Feurbach, Marx, dan Nietzche. Nama terakhir bahkan dengan terang-terangan menyinggung hal yang paling substanstif dari agama itu sendiri, yakni Tuhan. “Tuhan itu sudah mati”, dan mereka yang membunuhnya adalah justru mereka yang selama ini menyembah-Nya. 

Nietztche berani mengkritik agama dengan mendeklarasikan kematian Tuhan, karena ketidakpuasannya dengan praksis hidup orang beragama yang justru jauh menyimpang dari hakikat agama itu sendiri. Agama umumnya sensitif bila ajarannya diganggu, bila status-quonya dikritik habis-habisan. Tapi berhadapan dengan kebobrokan-kebobrokannya sendiri dia tidak sensitif lagi. Bahkan agama tidak sensitif dengan persoalan ketidakadilan sosial yang dialami umatnya sendiri.

Nieztche, Tristan Muslim, dan Coki Pardede tidak sedang melecehkan atau menistakan agama di sini. Tapi lebih dari itu, mereka ingin mengajak kita autokritik. Nietzche dalam keseriusannya dan Muslim dan Coki dalam leluconnya disatukan dalam satu tujuan, yakni mengkritik agama yang terlalu mapan, sibuk urus dirinya sendiri. Agama yang sensitivitasnya bermasalah, egois dan tidak peka serta tidak mudah emosi dengan realitas sosial-kemasyarakatan yang menindas umatnya sendiri.

Seperti ungkapan Aristophanes (450 SM-385 SM) yang dijuluki Bapak Komedi, “Comedy too can sometimes discern what is right. I shall not please but I shal say what is true.” Pada satu titik, komedi memang kadangkala tidak menyenangkan; bahkan acap kali membuat panas telinga. Namun kalau kita cukup berani dan terbuka, apa yang terungkap dalam lelucon bisa jadi benar adanya.