Zinedine Zidane saat ini adalah pelatih kelas dunia. Dia sedang menukangi salah satu klub sepak bola terbesar di dunia, Real Madrid. Tentu bukanlah perkara mudah menukangi klub sekelas Real Madrid, namun tahun lalu Zidane sangat sukses dengan meraih tropi Liga Champion Eropa dan mencatatkan rekor tersendiri bagi dirinya, yaitu memenangi Liga Champion dengan status berbeda, sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih.

Klub real Madrid adalah klub besar yang dihuni oleh banyak bintang sepakbola. Ada nama-nama besar yang menjadi skuadnya, seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gareth Bale. Mereka adalah pesepakbola dengan nilai transfer besar dan gaji besar setiap pekannya. Ada juga nama-nama yang tidak begitu mentereng namun mereka tetap sebagai bagian dari skuad terbaik di klub tersebut. Mereka merupakan bagian penting juga untuk menyokong nama-nama pemain besar tersebut.

Yang menarik adalah bagaimana Zidane mengelola skuad itu. Bagaimana Zidane bisa merangkul semua pemainnya dan bekerjasama dengannya. Pemain-pemain yang ditangani Zidane memiliki ego tersendiri sebagai bintang sepakbola, yang bukan bintang pun tentunya memiliki ego sendiri. Butuh sentuhan magis dari Zidane sehingga mereka bisa bekerjasama, bersama-sama menunjukkan kolektivitas tinggi sebuah tim yang mampu meraih kemenangan.

Kolektivitas adalah sikap kegotong-royongan dalam sebuah kelompok. Dengan bekerjasama untuk tujuan yang sama dan cita-cita sama kelompok tersebut bisa disebut memiliki kolektivitas yang baik. Apalagi kelompok tersebut meraih kesuksesan bisa dikatakan kolektivitas kelompok berjalan dengan baik. Layaknya sebuah klub sepakbola yang meraih kemenangan.

Prinsip kolektivitas ini bisa diterapkan di dalam kelas. Siswa di kelas ibaratnya sebuah tim sepakbola. Di tim sepakbola, ada yang berperan sebagai striker, karena memang skillnya dibidang itu. Ada yang berperan sebagai bek, dan sekali lagi memang skillnya di bidang tersebut. Di dalam kelas, siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Seorang siswa mungkin pandai dalam speaking di mata pelajaran bahasa Inggris, namun lemah di grammar. Sebaliknya ada yang kuat di grammar, namun lemah di speaking.

Dengan adanya kemajemukan itu, di dalam kelas bisa dibangun sebuah kolektivitas. Kolektivitas di dalam kelas memang bukan untuk pertandingan atau untuk meraih juara. Namun kolektivitas di dalam kelas lebih di fokuskan untuk mempengaruhi setiap anggota kelas agar memiliki sikap positif dengan kemampuan masing-masing. Sehingga prinsip multiple intelligence tidak terabaikan. Tujuannya bukan kemenangan individu melainkan kesuksesan proses belajar.

Selaras dengan 18 nilai karakter yang dicanangkan Kemendikbud. Bahwa siswa sekolah setidaknya menerima pelajaran dan dibekali dengan nilai-nilai tersebut, dengan harapan mereka bisa menerapkan sepanjang hayat hidup mereka. Prinsip kolektivitas dapat menjadi sebuah cara untuk membimbing seluruh siswa sesuai dengan bakat dan minat setiap siswa. Prinsip tersebut juga memungkinkan siswa menjadi panutan bagi siswa lain sehingga secara tidak langsung mempengaruhi, mempengaruhi dalam hal positif.

Disinilah posisi guru yang  merupakan posisi yang sentral dan sebagai panutan. Posisi guru layaknya pelatih sepakbola, bila melihat kesuksesan Real Madrid, maka guru seperti Zidane. Guru mencerna sifat dan karakter siswanya. Kemudian guru merumuskan tindakan yang akan diambilnya dan dilakukannya kepada siswanya tersebut.

Dan guru berusaha istiqomah menjaga prinsip bahwa setiap dari siswanya memiliki karakter dan kecerdasan yang berbeda-beda. Sehingga dalam melakukan prinsip kolektivitas, guru layaknya pelatih sepakbola yang melatih sebuah tim meraih kemenangan.

Fokus guru pun harus benar-benar terjaga. Pikiran dan hati guru harus berada dikelas yang di ajarnya. Guru harus benar-benar mencurahkan pikirannya untuk pembelajaran di kelas. Namun kenyataannya, masih banyak guru terbebani administrasi yang berlebihan yang berhubungan dengan tunjangan profesi guru. Banyak di daerah, begitu akhir trwulan datang, maka kelas sedikit tidak terkondisi karena riuhnya guru menyambut tunjangan profesi. Akibatnya, pikiran dan hati guru yang seharusnya sitiqomah untuk menjaga prinsip kolektivitas sedikit banyak akan terganggu.

Selain itu, banyaknya kelas yang harus diajar oleh guru sedikit banyak juga berpengaruh. Sebagai manusia biasa, guru tentunya tidak sanggup mengajar lebih 40 jam per minggu dengan jumlah siswa yang melebihi kapasitas. Pikiran guru akan terpecah dan tidak fokus. Kemampuan guru untuk mengenal setiap siswa di dalam kelas dan menerapkan prinsip kolektivitas yang mendukung nilai-nilai karakter akan tidak maksimal.

Setidaknya pemerintah bisa mengambil beberapa langkah agar guru bisa menerapkan prinsip kolektivitas dengan maksimal. Pemerintah dapat memasukkan tunjangan profesi guru bersama dengan gaji bulanan guru, dan menetapkan batas maksimal jumlah rombongan belajar dan kelas yang diajar oleh guru seperti kelas-kelas di Negara Finlandia. Dengan demikian prinsip kolektivitas berjalan dengan baik.