Memberi judul buku untuk kumpulan esai yang tidak diikat oleh satu tema tertentu bisa jadi problematik. Apalagi ketika esai-esai di dalamnya merespons berbagai isu aktual yang berkembang di masyarakat pada saat esai-esai tersebut ditulis.

Judul buku kumpulan esai biasanya mengambil salah satu judul esai yang “catchy” untuk dipakai sebagai judul buku. Namun, buku ini lain. Tidak ada esai berjudul “Apakah Seorang Pendosa Tak Boleh Lagi Berkarya?” dalam buku ini.

Buku ini adalah hasil kolaborasi esais Iqbal Aji Daryono (IAD) dan komikus Kharisma Jati. Kolaborasi ini unik.  

Dalam banyak buku, peranan gambar di dalamnya hanyalah sekadar pemanis, agar buku yang mayoritas berisi teks tidak terlihat kering secara visual. Namun dalam buku ini, komik yang digores oleh K. Jati mempunyai peran dan kehidupan setara dengan esai yang didampinginya.

Sekapur sirih dari IAD bertajuk “Pada Awalnya adalah Kericuhan” menjelaskan bagaimana judul buku ini dilahirkan. Tidak dijelaskan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi, namun intinya adalah bahwa komikus K. Jati bermasalah atau, dalam terminologi alkitabiah, seorang pendosa. 

Rencana berkolaborasi dengan K. Jati di wall FB IAD menuai penolakan dan kemarahan. Bahkan, penerbit pun tidak berani melanjutkan rencana ini.

Dengan dukungan Aji Prasetyo, komikus senior, dan semangat IAD yang tidak ingin membunuh kesempatan orang lain berkarya, pihak penerbit pun berubah pikiran dan ingin melanjutkan karya kolaborasi ini.

Dalam susunan buku, ada semacam konvensi umum, yaitu di awal ada kata pengantar (foreword) buku ditulis oleh orang lain, sedang prakata (preface) oleh penulis buku.

Seturut dengan konvensi lazim ini, “Bukan Pengantar” di buku ini berfungsi sebagai kata pengantar (foreword) dan “Pada Awalnya adalah Kericuhan” adalah prakata (preface). Kebetulan keduanya ditulis oleh IAD sendiri.

Buku ini berisi 21 tulisan dengan topik yang sangat bervariasi didampingi oleh komik untuk masing-masing tulisan. Ada yang bernuansa spiritual, politik, futuristik, curhatan, bahasa, perubahan, dan lain-lain. 

Esai-esai di dalam buku ini disusun secara kronologis, dari esai pertama yang ditulis pada 20 Maret 2018 sampai esai terakhir yang ditulis pada 29 Oktober 2019.

Judul-judul esai atau disebut juga sketsa kehidupan sangat memikat. Beberapa di antaranya: “Fakultas Ambil Hikmahnya”; “Adu Cepat di Zaman Kilat”; “Balada Penjiplak Status Facebook”; “Matinya Kepakaran? Mbwell!”

Satu tulisan bisa masuk ke dalam beberapa kategori yang berbeda, tergantung perspektifnya. Semacam tag di akhir artikel online atau keywords di bawah abstrak karya akademis.

Esai berjudul “Para Penegak Kaidah Bahasa” merupakan satu-satunya esai bertemakan kebahasaan. 

Seandainya esai ini ditulis jauh lebih awal, barangkali lebih cocok dimasukkan ke dalam buku karya IAD yang lain Berbahasa Indonesia Dengan Logis dan Gembira, yang seluruh esai di dalamnya diikat oleh satu tema, yaitu masalah kebahasaan.

Tulisan “Hewan-hewan dan Kematian Bahasa” yang ditulis pada 30 April 2019 di mana negeri ini baru saja menyelesaikan hajatan pilpres. 

Tulisan ini merespon pemberitaan tentang Pak Prabowo yang bisa berbicara dengan hewan-hewan. Namun soal kemampuan Pak Prabowo ini sekedar dipakai pintu masuk untuk membahas masalah yang lebih penting.

Mengambil sedikit paparan dari buku Sapiens, Homo Deus,  dan Celestine Prophecy esai ini hendak menunjukkan bahwa manusia dari sejak dulu memang berinteraksi dengan hewan, namun tidak berkomunikasi dengan mereka.

Inti esai ini adalah bahwa apa yang dilakukan masyarakat dulu ditertawakan oleh masyarakat sekarang dan apa yang kita lakukan saat ini nantinya terdengar absurd di masa depan, seperti kita menganggap kemampuan berbicara dengan hewan adalah lelucon.

Komik pendamping esai ini tak kalah menariknya. Berjudul “Homo Homini Lupus,” komik ini menggambarkan  pertemuan para anjing. 

Seekor anjing berkata, “Sudah bukan zamannya kita berebut tulang atau mengencingi batas wilayah.”  

“Kini saatnya kesetaraan hak anjing dan manusia sebagai warga negara di bawah aturan hukum yang sama.”

Namun, kelihatannya para anjing susah untuk bersepakat dan pecahlah kericuhan. Mereka berebut menggonggong yang pastinya brisik sekali. 

“Waduh! Banyak anjing galak,” komentar sosok pria berkacamata di komik tersebut. “Bikin resah saja,” timpal anak perempuan di samping si kaca mata.  

Komik pendamping bukan repetisi dalam bentuk visual gagasan yang ada dalam esai. Komik pendamping bisa dikatakan sebagai karya tersendiri yang memberi pengalaman berbeda atas topik yang dibahas dalam esai.

Di tiap komik pendamping esai selalu ada sosok pria berkacamata berambut jambul, dengan wajah seperti yang ada di sampul depan. Barangkali ini representasi karikaturis sosok IAD.

Esai “’Instant Karma’ dan Ketidakberdayaan Kita” menggunakan video Charlie yang sedikit viral waktu itu sebagai pemantik. Walau mungkin tidak menontonnya, kita tetap bisa mengikuti alur esai tersebut, karena ada paparan tentang konten video tersebut.

Dengan berjalannya waktu, misalnya 10 tahun ke depan, pembaca yang tidak “mengalami” kejadian yang dirujuk, bisa jadi akan mengalami kebingungan saat membaca esai tertentu. Pembaca belia di masa depan bertanya-tanya siapakah Pak Prabowo. Barangkali ini satu-satunya kelemahan buku ini, sejauh yang bisa saya tangkap.

Buku ini membuktikan kejelian observasi atas fenomena kehidupan sehari-hari yang melintas di dunia nyata dan di dunia maya. Esais berhasil menuangkannya ke dalam tulisannya, sementara komikus berhasil menginterpretasikan esai dari perspektifnya sendiri.

Ada banyak hal yang patut direnungkan dalam setiap esai dan komik di buku ini. Namun pesan utamanya, menurut saya, ada pada judulnya. 

Judul buku yang berangkat dari kasus partikular ini bisa ditransformasikan menjadi gugatan universal atas perilaku buruk manusia nan tidak terpuji dan tidak layak untuk dipertahankan lagi.  

Apakah PKI tak boleh lagi berkarya? Apakah LGBT tak boleh lagi berkarya?

Info Buku

  • Judul: Apakah Seorang Pendosa Tak Lagi Boleh Berkarya?
  • Penulis: Iqbal Aji Daryono
  • Komikus: K. Jati
  • Penerbit: Shira Media, 2020
  • Tebal: xvi+172