Researcher
1 minggu lalu · 36 view · 4 menit baca · Perempuan 57240_41176.jpg
NU Online

Kolabarorasi Cegah Stunting untuk Senyum Indonesia

Berdasarkan laporan di Kompas (31/01/2019) bahwa prevalensi anak stunting di Indonesia bagian timur tinggi. Bahkan hampir di sejumlah kabupaten, 2-3 anak balitanya mengalami stunting

Persoalan anak balita stunting merupakan persoalan yang serius, karena berkaitan dengan pengeluaran belanja negara.

Seperti dilansir Kompas, berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2016, stunting berpotensi menghilangkan hingga 11% Produk Domestic Bruto (PDB) di sebuah negara tertentu atau provinsi. Dibawa pada konteks negara Indonesia, jika PDB pada tahun 2017 adalah Rp13.000 triliun, maka kerugian negara akibat balita stunting mencapai hingga 1.430 triliun per tahun.

Angka yang fantastik, bukan? Oleh karena itu, kondisi anak stunting dianggap oleh pemerintah sebagai problem nasional yang menghambat laju pertumbuhan pembangunan.

Apa itu Stunting?

Stunting diartikan sebagai anak yang memiliki badan pendek dengan tinggi badan lebih rendah dari tinggi yang seharusnya sesuai dengan umur. 

Kemudian, anak stunting memiliki volume otak dan organ tubuh yang tidak bekerja secara optimal. Sehingga ketika dewasa sekalipun, anak mengalami kegagalan tumbuh kembang karena menderita stunting sulit untuk tidak dikatakan”tidak” bisa disembuhkan.

Berdasarkan kajian kesehatan, penyebab anak mengalami stunting terdiri dari banyak faktor. Di antaranya adalah kurangnya asupan gizi yang seimbang selama masa kehamilan dan pertumbuhan anak, kemudian karena faktor kemiskinan.

Berdasarkan kajian terbaru, diketahui bahwa faktor anak mengalami stunting adalah karena kurangnya kesadaran yang dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan perempuan, tingkat pendidikan perempuan yang rendah, perempuan yang belum siap menjadi ibu, perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan, perempuan (istri) yang tidak mendapat dukungan suami atau keluarga, juga perempuan yang mengalami pernikahan anak. 

Melalui tulisan ini, penulis ingin memberikan tawaran pencegahan stunting yang telah dilakukan oleh organisasi muslim NU, yaitu Fatayat NU, sebagai bentuk dukungan organisasi muslim NU terhadap persoalan yang menghambat laju pembangunan. 

Pencegahan stunting tersebut disampaikan dalam acara The International Young Muslim Women Forum pada tanggal 26 Oktober 2018 di Hotel Aryaduta Jakarta.

Baca Juga: Stunting

Program Fatayat NU untuk Inisiatif Pencegahan 

Dalam paparan Anggia Ermarini, organisasi perempuan muslim Nahdlatul Ulama’, biasa disebut Fatayat NU, telah melakukan kerja-kerja pencegahan stunting sejak tahun 2012; lokasi fokus program di Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Lokasi tersebut dipilih karena berdasarkan data, Kabupetan Brebes adalah kabupaten terparah anak stunting dengan angka hingga mencapai 40% kasus stunting. 

Kondisi yang demikian membuat Fatayat NU melakukan gerak bersama untuk pencegahan anak stunting dengan misi Kampanye Gizi Nasional Cegah Stunting. Tujuan dari misi tersebut adalah untuk mendukung upaya pemerintah Republik Indonesia dalam mengurangi angka stunting di Indonesia. 

Dalam aksinya, Fatayat NU menggunakan beberapa strategi program, yaitu individual komunitas dan struktural. 

Dalam pendekatan individual, Fatayat NU melakukan strategi perubahan perilaku yang dicerminkan dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran ibu-ibu, bapak-bapak, dan keluarga tentang pentingnya bayi mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama 6 bulan, mengonsumsi makanan tambahan, tablet tambah darah, dan penyadaran pentingnya posyandu secara rutin.

Pada strategi level komunitas, Fatayat NU mendorong agar setiap komunitas atau lembaga sosial yang ada di Kabupaten Brebes untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung pencegahan stunting. Strategi model demikian menjadi penting, karena dengan kolaborasi semua pihak untuk satu tujuan yang sama, maka pencegahan tersebut bisa dengan mudah diminimalisasi.

Kemudian strategi yang ketiga adalah strategi struktural. Fatayat NU, dalam pelaksanaan program, menggandeng pemerintah DPRD untuk mengalokasikan budget anggaran khusus untuk penanganan kasus anak stunting. Alokasi budget dana dari pemerintah tersebut digunakan oleh Fatayat NU untuk melakukan kerja-kerja pencegahan anak stunting. 

Dalam selang waktu antara tahun 2012 semenjak program pertama kali dimulai hingga tahun 2018, Fatayat NU telah melakukan beberapa program. Program tahun pertama antara tahun 2012-2015, Fatayat NU melakukan program Kampanye Cegah Stunting dengan melalui peran tokoh agama. 

Program tahun pertama ini lebih kepada menjalin komitmen dari pimpinan agama dan pemerintah setempat untuk bersama-sama menurunkan angka Stunting dengan cara menyisihkan materi-materi stunting dalam substansi dakwah para tokoh agama.

Kemudian di tahun kedua yakni antara tahun 2015-2017, Fatayat NU melakukan gerakan masyarakat hidup sehat dengan cara menjalin relasi kerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI, mempromosikan penerapan gaya hidup sehat, dan mengajak masyarakat sadar untuk memiliki kemauan agar menghindari resiko terjadinya kasus anak stunting.  

Di tahun ketiga, yakni tahun 2017 hingga tahun 2018, Fatayat NU melakukan program kampanye gizi nasional cegah stunting. Dalam implementasi program tersebut, Fatayat NU melakukan kerja sama dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk melakukan advokasi ke eksekutif dan legislatif.

Kemudian melibatkan tokoh agama setempat, membuka program kelas ibu di kampung-kampung, melibatkan tokoh agama lintas-agama, bekerja sama dengan tenaga kesehatan seperti Puskesmas, Posyandu dan Bidan. 

Agar program kampanye gizi nasional cegah stunting berjalan maksimal, Fatayat membentuk kader Barisan Nasional (BARNAS) Cegah Stunting agar berkomitmen untuk menyampaikan pesan cegah stunting kepada jajaran structural Fatayat NU.

Program-program nyata yang telah dilakukan oleh Fatayat NU di Kabupaten tersebut memberikan dampak yang signifikan, yakni yang mulanya Kabupaten Brebes sebagai kabupaten dengan angka tertinggi anak mengalami stunting dengan angka hingga mencapai 40% kasus di tahun 2012, tetapi pada pencapaian program tahun 2016, angka anak stunting di Kabupaten Brebes turun hingga angka 20%.

Saat ini pemerintah gencar-gencarnya melakukan penyelesaian kasus anak stunting di Indonesia, terutama di Indonesia bagian timur. Penyelesaian kasus anak stunting bertujuan untuk mempercepat pembangunan dan mendorong mutu manusia Indonesia.

Guna mewujudkan rencana pemerintah tersebut, perlu kiranya pemerintah menjalin kerja sama dengan Fatayat NU dalam pencegahan anak stunting sehingga penyelesaian kasus anak stunting dapat berjalan maksimal karena berkolaborasi dengan banyak pihak. Tanpa itu, pembangunan Indonesia akan “selalu” bermasalah.