Selepas mengaji di Majelis Ta’lim Darul Falah dan ikut berjemaah menunaikan salat isya, Adit, dengan sarung batik yang sudah kumal, hadiah dari Pak Abdul waktu dia disunat massal tiga tahun lalu, berlari kecil menuju halaman majelis, mengambil sepeda Polygon hitam hibahan tetangganya dengan tergesa-gesa.

“Dit, ora melu berjanjen keliling?” teriak Sobri dari sudut pintu majelis, mengetahui teman sepermainannya yang ia tau paling antusias dalam menyambut acara maulid nabi itu keras-keras.

“Aku ngko nyusul, Sob,” balas teriak juga si Adit sambil kakinya mengayuh sepeda cepat-cepat.

Sesampainya di rumah, Adit langsung saja masuk ke dalam, tidak menghiraukan bapaknya yang sedang nderes di ruang tamu dan ibunya yang sedang menggendong si kecil Yahya. Pak Amat menjeda bacaannya sejenak, mengamati anak sulungnya yang sibuk membuka-buka lemari baju.

“Pak, klambi koko karo peci putih sing tumbas wingi ten pundi?” tanya Adit sembari mata dan tangan dia sibuk mengamati satu persatu baju yang sudah terlipat rapi.

Mbok mlebu umah kui salam ndisik,” ujar bapaknya masih dalam posisi sama.

Nggih, assalamualaikum,” jawabnya cepat tanpa menoleh dan masih asik mencari baju dan peci. Bapaknya hanya menghela napas kecil, menengok istrinya yang duduk persis di samping dia dengan bibir bertanya dimana.

Iki lho, Mas. Nang sampinge Ibuk. Mau tembe disetriko,” hanya butuh sepersekian detik, Adit sudah berlari kembali menuju tempat keluarganya berada, matanya berbinar kala melihat baju koko yang sudah ia impikan sejak setahun lalu terlipat rapi di samping duduk ibunya. Tangan bocah itu mengambil dengan semangat, menciumnya lembut, wangi katanya.

Mau Ibuk nyilih setriko nang Pak RT, terus disilihi sisan semprotane. Wangi ora?” tanya ibunya sambil menatapi Adit yang binar matanya makin benderang.

Wangi, Buk. Matur suwun,” ucapnya senang. Seumur-umur, ini kali pertama Adit memakai baju sangat rapi (habis disetrika ditambah dengan wewangian) karena keluarganya memang tidak punya setrikaan dan lagipula, menurut mereka kurang bermanfaat, mengingat orang tua Adit bukan pekerja kantoran atau bekerja di bidang-bidang yang memang butuh kerapian serta kewangian sepanjang hari.

Di depan ibu bapak dan si kecil Yahya yang sudah tidur di pangkuan ibunya, Adit mengganti pakaian dia. Mengenakan koko dan peci putih baru.

“Ganteng, ndak?” tanyanya sembari memamerkan.

Wis ganteng, wangi maneh,” ujar bapaknya yang disambut senyum oleh ibu. Adit tersenyum lebar sekali, sampai gigi putihnya yang kecil-kecil seperti biji mentimun terlihat semua.

Meh ketemu Rasul kudu ganteng karo wangi, dong,” ucapnya sambil mencium punggung tangan bapak ibunya, mengambil buku berzanji dan melesat pergi ke rumah Pak Abdul, orang pertama yang mengunduh berzanji keliling tahun ini.

Adit semakin bahagia karena di malam berzanji keliling yang pertama ini ia diberi tugas untuk jadi salah satu penabuh rebana bersama kawan-kawannya yang lain. Biasanya dalam lima belas malam berzanji keliling yang diadakan di rumah-rumah warga yang mengunduh berzanji atau di musala kampung, ia menjadi penabuh rebana paling banyak lima kali, karena memang bergiliran dengan kawan lain, kalau kata Mas Iwan, biar bisa merasakan semua.

Dulu, waktu Adit belum bisa melafalkan kata bismillah dengan tajwid yang benar, setiap maulid nabi tiba, ia sering diajak bapaknya untuk ikut mengunjungi berzanji keliling. Kata bapak, untuk memperkenalkan Adit pada Kekasih Allah dan memupuk rasa cinta terhadap Baginda Rasul. Bahkan beberapa kali, ketika yang mengunduh berzanji jauh dari rumah, mereka akan pergi selepas maghrib dan salat isya di masjid atau musola yang paling dekat dengan tempat acara.

Di dalam dan depan halaman rumah Pak Abdul yang digelari tikar itu sudah ramai pengunjung yang kebanyakan anak muda dan anak-anak kecil seusia Adit serta beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu. Kawan-kawan Adit yang mendapat tugas vokal dan menabuh rebana sudah bersiap di pintu utama rumah Pak Abdul. Para perempuan duduk rapi di dalam rumah yang sebagian melebar sampai depan sedang para laki-laki di halaman, bertatapan langsung dengan penabuh rebana.

Mau bali pak ganti klambil anyar ternyata,” ujar Sobri memandangi Adit, dengan tangan yang memegang darbuka. Si empunya hanya tersenyum-senyum, sirat bangga dan senang terlihat dalam sorot matanya yang teduh itu. Ia segera ikut bersiap diposisi, Mas Iwan datang memberi satu rebana sambil mengacungkan jempolnya dengan senyum.

Tepat pukul delapan lebih lima menit, berzanji dimulai dengan lagu pertama Kisah Sang Rasul. Lagu yang paling Adit sukai karena menceritakan kisah dari Baginda Nabi, liriknya dibuat sesederhana mungkin, tapi sarat akan pengetahuan. Sebab disampaikan dalam bentuk lagu, makanya mudah diingat oleh orang-orang. Cara penyampaian sejarah yang efektif terutama bagi generasi sekarang.

Setelah selesai, Pak Abdul menjadi pembaca pertama berzanji, orang-orang menyimak dengan khusyuk tiap bacaan yang dilantunkan dengan indah namun tetap memperhatikan tajwid. Adit begitu menghayati dan menikmati acara malam itu, perasaannya campur aduk kala waktu berdiri, menyanyi lagu Thola’al Badru. Kata Pak Ustaz, waktu berdiri, Rasul seolah-olah turun dari langit, masuk di tengah-tengah kekhusyukan orang-orang yang sedang menyambut suka cita kedatangannya.

Dan benar, satu titik air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Ia tak tau mengapa, padahal sejak masuk sekolah, Adit tidak pernah menangis lagi, meskipun pernah satu ketika, waktu kelas satu, selama sebulan dia diejek teman-teman kelasnya karena memakai sepatu yang sudah mangap (lem sepatu tidak merekat lagi) dan bapaknya baru bisa membelikan di bulan kedua. Bagi bocah kelas lima SD itu, maulid malam ini terasa begitu agung. 

Baju koko dan peci putih barunya yang wangi ia kenakan untuk berjumpa dengan Rasulnya. Genap satu tahun, sejak maulid sebelum-sebelumnya ia hanya memakai koko bekas lebaran tahun kemarin, Adit ingin sekali punya baju koko dan peci putih selayak kawan-kawan dia yang lain ketika berzanji.

Selama satu tahun itulah, setiap hari, Adit menyisihkan uang sakunya yang tak seberapa untuk dikumpulkan. Tujuannya satu, membeli baju koko dan peci putih untuk maulid tahun depan. Sejak kecil, selain hidup ditengah keterbatasan ekonomi, Adit memang dididik oleh bapak ibunya agar berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bapaknya hanya pedagang sayur di pasar sedang ibunya hanya ibu rumah tangga yang kadang-kadang jika Yahya tidak rewel, menjadi buruh cuci baju tetangga.

Karena keterbatasan dan didikan hebat dari orang tuanya, Adit tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Setiap malam sebelum tidur, kadang bapaknya sering menceritakan kisah dari Baginda Nabi yang didapat dari mengaji atau dari buku yang dipinjami oleh Pak Abdul. Dan setiap malam itu pula Adit selalu berujar bahwa ia bahagia hidup demikian. Ia ingin meneladani hidup Kekasihnya Allah itu.

“Pak, nek pingin ketemu Rasul carane pripun?” tanya Adit suatu ketika, menatapi sang bapak yang tangannya masih sibuk merapikan anakan rambut putra sulungnya yang sudah lebat.

Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, namun berhasil membuat Pak Amat terdiam. Sejujurnya ia bingung harus menjawab apa. Ia bukan lulusan pondok, sekolah dasar pun tak tamat, pengetahuan agamanya hanya sebatas bab dasar seperti mengimani Rukun Iman, mengamalkan Rukun Islam, dan bahwa maulid nabi adalah ekspresi dari perwujudan cinta para pengikut Rasul.

“Bapak mboten ngertos?” tanya bocah itu sekali lagi memastikan. Jikapun bapaknya tidak tau, nanti ia akan tanyakan ke Pak Ustad.

Dengan senyum kecil dan tangan kanan yang kemudian menjamah kepala Adit sayang, sang bapak akhirnya menjawab, “Teladani kabeh sifate Rasul, Mas. Insyallah, mbesok oleh syafaat karo oleh bonus juga,” jawaban itu terasa menggantung bagi Adit, dia belum mengerti apa yang dimaksud bapaknya.

Shiddiq, Amanah, Tabligh ....”

Fathonah.” Bocah itu berseru senang.

“Nah, pinter.”

Bonuse nopo, Pak?”

Bonuse kan ketemu Rasul, mbesok ten surgane Allah. Insyallah.” Mendengar itu senyum Adit melebar, ia memeluk bapaknya erat dan berkata akan meneladan sifat Rasul yang sudah diajarkan guru agama di sekolah juga ustadnya di majelis.

Tidak terasa jam setengah sepuluh tiba, Pak Ustad sedang membaca doa yang diamini oleh semua pengunjung berzanji keliling termasuk Adit. Setelah selesai, hal yang juga paling ditunggu adalah pembagian jajan dari tuan rumah. Malam itu Pak Abdul menyajikan satu teh gelas, risol, tahu sumpel, pisang rebus dan roti donat yang dibungkus plastik bening.

Disela makan jajan, Pak Ustad akan tausiyah singkat, seputar maulid nabi dan banyak hal lain. Setelah bapaknya, Adit selalu suka dengan tausiyah Pak Ustad Fathoni yang tidak pernah membosankan dan terasa hidup.

“Ada yang tau, kenapa maulid nabi diperingati dan dirayakan dengan berzanji?” tanya Pak Ustad Fathoni tiba-tiba. “Yang mau jawab angkat tangan, ya.”

Lima belas detik, masih belum ada yang berani mengacungkan tangan meskipun ada banyak yang sudah berbisik-bisik, berbagi jawaban. Mungkin mereka malu untuk mengatakannya secara lantang.

Adit yang duduk persis di depan Pak Ustad Fathoni lantas mengacungkan tangannya, “Karena orang-orang suka dengan berzanji dan cinta dengan nabi, Pak Ustad,” jawaban itu terasa sangat polos, khas anak kecil dan diamini juga oleh teman-teman sebaya Adit. Pak Ustad tersenyum kecil mendengarnya.

“Dek Adit ini udah pinter. Tapi perlu ditambahi, ya. Setiap muslim punya cara masing-masing merayakan maulid nabi, sebagai wujud kegembiraan atas kelahiran nabi, wujud kesyukuran, teladan, dan tuntunan yang dibawa Nabi Muhamad. Karena kita hidup di Jawa, maulid nabi biasanya dirayakan dengan membaca Manakib Nabi Muhamad dalam Kitab Maulid Berzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saroful Anam, Burdah, dan masih banyak lagi yang lain,” ujar Pak Ustad Fathoni panjang lebar. Para pengunjung mengangguk-angguk paham.

Nek Adit merayakan maulid nabi ping pindo. Pertama berjanjen, kedua nganggo klambi koko karo peci putih anyar tur wangi maneh,” bisik Sobri disela penjelasan Pak Ustad Fathoni yang lagi-lagi disambut senyum lebar oleh Adit. Bocah itu berjanji dalam hati, koko dan peci putih ini akan ia pakai khusus hanya untuk merayakan maulid nabi.