“Ngopi, Lel.”

“Di mana, Yan.”

“Kokambar.”

“Mana itu tuh Kokambar.”

“Ampun dah, Lel, sudah dua taun di Jogja belum tahu kokambar.”

“Ya memang enggak tahu, ya gimana lagi, Yan.”

“Ayoklah, di sana enak, apa lagi waktu sore, senjanya bagus, deket sama rel kereta api juga loh, romantis sumpah, bayangkan, Lel, bayangkan.”

“Bayangkan, Yan, bayangkan nikmatin senja sembari diiringi kereta api lewat ama lu, gak asyik!”

Hayyan adalah orang pertama yang memberi tahuku bahwa ada warung kopi bagus dan masih baru di tengah Kota Jogja, sayangnya pada saat ia mengajakku aku enggak bisa, karena pada saat yang sama diriku kebetulan harus menyelesaikan editing naskah yang rencana akan dikirim ke penerbit.

Justru pertamakali aku ngopi di kokambar ini bersama pujaan hatiku, ah jadi lemah aku pabila harus berkisah tentang dia lagi.

Betul kata Hayyan, Kokambar memang bagus. Sejak pertamakali aku ke sini, hampir dua minggu berturut-turut  setiap sebelum bulan menerangi bumi bisa dipastikan aku sudah stand by di pojok paling timur, sebelah kanan dekat dengan rel.

Entahlah, di Kokambar aku menemukan ruang yang lebih luas untuk berimajinasi, bermeditasi dan melepas segala penat serta keluar sejenak dari reriuhan problem hidup yang tak kunjung berkurang ini. “Balel Balel, kamu enggak percayaan sih,” seru Hayyan ketika aku lapor bahwa yang disampaikannnya sebulan lalu memang benar-benar nyata.

“Mas, apa perlu kupesankan kembali susu jahenya.”

Suara lembutmu terdengar parau, desiran angin malam sampai menembus jaket yang kukenakan, dingin pada malam itu tak bisa kusembunyikan, sedangkan kulihat dirimu baik-baik saja. “Aku sudah biasa, Mas. Di Kaliurang malah lebih dingin, ini ndak ada apa-apanya.” Katamu sebelum beranjak ke kasir untuk memesankan aku secangkir susu jahe lagi.

Sampai detik ini aku masih mengingat detik-detik sebelum kamu benar-benar menghilang. Kokambar dan tempat duduk yang terbuat dari kayu tua menjadi saksinya, aku juga tak paham malam itu akan menjadi malam terakhir pertemuan kita, kasih.

Namun, kehilanganmu ini aku jadi tahu bahwa tak semua yang dicintai bisa dimiliki seutuhnya, kadang kita harus merelakan dia menghilang bersama pilihannya, bukan semata-mata demi kebahagiaanya melainkan untuk orang lain yang juga ia cinta.

Sore itu cuaca memang tampak bersahabat, aku lebih dulu datang ke Kokambar. Maklum saja, dari Kaliurang ke Kokambar membutuhkan waktu setengah jam-an. Sore itu senja masih belum tampak, yang ada hanya matahari masih bersinar dengan terang.

Bersamaan dirimu datang, senja dari ufuk barat ditemani siluit kereta api pantulan senja yang melaju dari arah barat membuat suasana semakin begitu romantis. Lalu Kau meraih tanganku, kau ciuminya dengan lembut. Sampai detik ini aku masih menyimpan lembutnya bibirmu itu kasih, tak tahunya menjadi ciuman yang terakhir.

Sebenarnya sedari awal mestinya aku sadar diri dan tak terlalu terjebak dalam lumbung cinta dan kenyamanan ini. Namun apa mau dikata perasaanmu dan perasaanku tak bisa dibohongi, kita memang sama-sama cinta, kita memang sama-sama sayang.

Mungkin, jika dipertengahan perjalanan menjalin cinta untuk saling lebih mengenali satu sama lainnya, Ibumu tak tak menelfonmu dengan membawa kabar melapetaka akan rentaknya pada hubungan ini, bulan puasa depan dirimu telah kulamar kasih.

Sebelum senja benar-benar meninggalkan kita, engkau mulai berkisah dan berkasih denganku di Kokambar yang perlahan pengunjung mulai berdantangan. Tanganmu tak mau lepas menggenggam tanganku, mungkin memang pertanda bahwa malam itu memang menjadi malam terakhir.

“Mas Balel harus percaya padaku, sampai kapan pun Mas Balel lah sebenar-benarnya cintaku. Kalau bukan karena perjodohan orang tuaku dengan Ustad Amir Fatih, semua ini tak akan terjadi, Mas,” air matamu terjatuh berlinang membasahi pipi. Beberapa kali aku mengusapnya, namun air matamu yang tak terbendung itu membuatku pasrah.

“Aku yakin, Mas Balel bisa memahami semua ini, Mas Balel pun tahu bahwa aku adalah anak tertua di keluarga, Ayahku telah tiada, sedangkan Ibuku telah lanjut usia, Mas Balel tahu itu kan, Mas, aku tak sampai hati bilamana harus melawan dan menolak pintanya.”

Perlahan senja mulai hilang, air matamu masih saja berlinang. Dipelupuk mataku genangan air sebenarnya juga hendak tumpah, tak baik kiranya jika harus sama-sama menangis, aku hanya tak ingin sendumu semakin berulah cuma karena aku ikut menangis. Untuk menenangkan pikiran dan mengalihkan air mata agar tak tumpah di hadapanmu.

“Aku solat magrib duluan ya.”

Kokambar tak seramai hari-hari biasanya, tempat duduk di bagian luar tak penuh, apa mungkin karena kurang malam, entahlah. Yang jelas malam itu adalah malam yang teramat menyedihkan bagiku. Selepas sholat, kulihat wajahmu agak lebih tenang.

“Mas, aku harap setelah semua hanya tinggal kenangan, Mas Balel tetap harus selalu ada ya buat aku. Biarkan cinta saja yang menjadi masalalu, Mas Balel jangan.”

“Nuzula, sejak pertama aku mengucapkan perasaan terhadapmu, sejak saat kamu menerima cintaku dan sejak kita jadian, bukankah aku pernah mengatakan padamu, Zul. Tidak ada sesuatu yang perlu dipertahankan matia-matian dalam hubungan pacaran, sebab dunia pacaran tak ubahnya ruang saling mengenal saja, kau memang telah menerima cintaku, tetapi aku tak punya hak memilikimu seutuhnya sebelum ada akad, begitu pun kamu.”

Tanganmu semakin erat, derai air matamu semakin menjadi-jadi, aku tak tega sebenarnya melihat keadaanmu yang begitu terpuruk ini. Andai di kokambar hanya ada aku dan kamu, pastilah akan kecup kening dan bibirmu, sebagaimana yang biasa kita lakukan saat satu sama lain tengah dirundung lara.

Kokambar yang semakin sepi, desir angin membawa dingin menyelinap kepori-pori kulit, sungguh aku tak bisa menahan genangan air mata di pelupuk ini, akhirnya aku kalah, air mataku tak terasa tumpah, pada saat dirimu memegangi kedua tanganku dengan jiwa yang ringkih, bahkan beberapakali engkau menciuminya, pun aku menciumi tanganmu.

Aku baru menyadari ternyata susu jahe yang kau pesan waktu itu, isyarat akan berakhirnya kisah cinta ini. Sepulangnya dari kokambar kamu masih menyempatkan diri mengucapkan selamat tidur, setelah diriku sampai di kos.

Kesokan harinya, kamu telah hilang, benar-benar hilang. Kau telah memblok nomorku, kau juga telah ganti nomor. Sampai detik ini, aku tak tahu kabarmu, apakah sudah menikah dengan Ustad Amir Fatih hasil perjodohan Ibumu, atau bahkan gimana. Kamu memang telah hilang, menghilang.

Dan di sini, di Kokambar bersamaan dengan turunya senja, setiap hari aku selalu menantimu. Entah, apakah hanya mendapati kabarmu, atau bahkan kamu menghampiriku dengan membawa suamimu seorang Ustad yang alim dan terkenal di kampungmu itu. Nuzula, selama senja dan Kokambar masih ada, sampai hari kiamat aku akan tetap ada dan tetap menanti dirimu dengan ditemani susu jahe.

Kokambar
13 Maret 2020