Pak Tjahjo Kumolo selaku Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) bilang kalau perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tidak akan ada selama dua tahun—2020 dan 2021. Keputusan yang diambil juga akibat pandemi berkepanjangan. Menkeu Ibu Sri Mulyani bahkan bilang di kementeriannya tidak akan ada perekrutan CPNS selama 5 tahun.

Kebijakan pemerintah yang ini memang tidak mengundang respons yang ramai. Tidak seperti kebijakan-kebijakan dari kementerian lain. Misalnya soal kalung anti-corona dari Kementan, itu ramai sekali. Barangkali bahasan tentang CPNS ini memang tidak begitu menarik. Yang sedikit kecewa dengan keputusan Pak Tjahjo Kumolo ini bisa jadi hanya segelintir saja—orang-orang yang ingin jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

Di media sosial, status-status bernada kecewa tentang tidak adanya perekrutan CPNS cukup banyak saya dapatkan. Bagi yang ingin menjadi PNS, diberhentikannya perekrutan selama dua tahun itu cukup lama. Kalau di kampung saya, bisa 4 kali panen hasil kebun—dari awal membajak sampai menjual. Bahkan bisa lebih. Barangkali bisa jadi alternatif menunggu kembali dibukanya perekrutan CPNS. Syukur-syukur bisa jadi petani sukses.

Yang bikin saya mengkal, ada saja yang dengan nada sinis nyinyirin orang yang ingin jadi PNS. Nyinyiran itu ditujukan kepada mereka yang sedikit kecewa dengan tidak adanya perekrutan CPNS. Seolah-olah menganggap keinginan menjadi PNS itu salah dan tidak pantas. Seperti ada stigma kepada orang yang ingin jadi PNS. Seolah-olah mau bilang, "kok mau jadi PNS?"

Kalau saya perhatikan, banyak orang menganggap keinginan menjadi seorang PNS itu terlalu "kecil" untuk menjadi sebuah cita-cita. Kita terlalu banyak didongengi tentang glorifikasi kalau cita-cita itu harus "tinggi". Harus jadi dokter, pengusaha, presiden, dan profesi-profesi yang dianggap prestisius lainnya. Sedangkan menjadi PNS, petani, peternak, nelayan, masih dianggap profesi yang tidak menjanjikan dengan stigmanya masing-masing.

Entah apa yang dibayangkan orang-orang kalau mendengar kata "PNS". Padahal profesi dokter (salah satu yang dianggap sebagai profesi ideal) juga ada yang berstatus PNS.

Kamu punya mimpi ingin jadi dokter (misalnya), silakan. Itu cita-cita yang mulia. Mungkin kamu punya kemampuan finansial yang cukup untuk sekolah kedokteran. Kamu mau jadi pengusaha juga, silakan. Mungkin kamu tahu cara berbisnis. Juga punya modal untuk memulai bisnis. Bahkan bisa sekolah bisnis. 

Poinnya, apa pun cita-citamu, silakan saja. Tapi cita-citamu yang kamu anggap tinggi itu tidak usah paksakan terhadap orang lain. Karena mungkin tidak semua orang "mampu" sepertimu.

Definisi cita-cita yang tinggi itu bisa jadi berbeda untuk setiap orang. Keinginan menjadi seorang PNS mungkin sudah sangat tinggi bagi beberapa orang. Begitu pula dengan profesi lainnya.

Dan bagi kebanyakan orang, setinggi apa pun cita-cita, pada akhirnya harus realistis. Kita tidak pernah tahu, orang-orang yang kita anggap cita-citanya tidak seberapa itu mungkin saja dulu cita-citanya juga sama seperti cita-citamu.

Kalau ada orang cita-citanya ingin jadi pencuri, itu baru boleh dinyinyirin. Jelas-jelas merugikan orang lain. Apalagi kalau jadi buzzer. Memang pantas untuk dinyinyiri. Soalnya bisa merugikan satu bangsa. Mereka itu mana ada mendengarkan orang lain. Yang benar hanyalah titah atasan.

Sama seperti body shaming, job shaming ini juga harus dilawan. Harus mengikuti bentuk tubuh yang dianggap standar ideal (kulit putih, perut rata, rambut lurus) itu menjengkelkan.

Merendahkan profesi tertentu yang dianggap tidak ideal juga sama menjengkelkannya. Kenapa keinginan menjadi astronot (misalnya) dianggap cita-cita yang keren, sedangkan memilih jadi petani (misalnya) dianggap tidak memiliki mimpi yang cukup tinggi. Orang yang mati-matian mengejar mimpinya menjadi pengusaha sukses akan dianggap pantang menyerah, tapi kenapa orang yang kekeh ingin jadi PNS dibilang, "kok sampe segitunya ingin jadi PNS."

Pemikiran yang menganggap profesi tertentu lebih baik dari profesi yang lain memang susah untuk dihilangkan. Tapi setidaknya, bisa dimulai dengan tidak usah nyinyir sama profesi orang lain.

Capek, bos, kalau harus terus mengikuti standar ideal orang lain. Apa pun profesinya, selama tidak merugikan, biarkan saja. Kecuali kalau sekalian mau membantu, seperti para pekerja kasar, buruh bangunan misalnya. Saya tidak akan bilang, "Kok kamu mau jadi kuli, apa tidak ada kerjaan lain?" Kecuali saya punya solusi yang lebih baik.

Kalau hanya mau menunjukan rasa kasihan, mending saya diam saja. Saya tidak tahu apa yang sudah diusahakannya. Mungkin saja dia tidak punya pilihan lain. Dan jangan pernah bilang mereka itu kurang usaha.

Lagian, orang yang ingin jadi PNS itu bisa jadi malah karena tidak punya pilihan. Orang-orang yang ingin jadi guru misalnya. Di negara kita ini, kebanyakan guru bisa digaji dengan cukup layak kalau sudah berstatus sebagai PNS. Kalau masih honorer, tahu sendiri gajinya berapa. Pak Jokowi saja sampai kaget. Digaji sebesar 300 ribu terus-menerus dan dibayarkan 3 bulan sekali, mana kuat, bos?