24643_16465.jpg
Ilustrasu: mojok.co
Politik · 3 menit baca

Koalisi Galau: Ke Mana Prabowo Akan Berlabuh?

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Uniknya, bukan soal capres yang menarik untuk diperbincangkan, melainkan cawapres dari dua kubu yang hingga kini masih menjadi misteri. Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang telah pasti akan melangkah ke Pilpres 2019, masih mencari-cari pendamping ideal untuk memperkuat elektabilitas keduanya.

Tanggal 10 Agustus 2018 merupakan batas akhir pendaftaran capres dan cawapres yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun hingga detik ini, belum ada satu pun calon presiden yang mendeklarasikan wakilnya.

Koalisi 9 partai politik telah mendukung Joko Widodo untuk melaju ke Pemilihan Presiden 2019. Pada kubu oposisi, terdapat 4 koalisi parpol yang mendukung Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk melaju ke Pilpres 2019.

Beberapa nama pun telah menghiasi koalisi pendukung Jokowi, mulai dari Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartanto, dan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang Zainul Majdi. Selain itu, ada Mahfud MD, KH. Ma’ruf Amin, hingga Muhaimin Iskandar yang biasa dipanggil Cak Imin.

Jokowi menuturkan bahwa ia telah mengantongi nama calon pendampingnya untuk Pilpres 2019, tinggal mendeklarasikannya pada waktu yang tepat. Lain halnya dengan koalisi yang mendukung Prabowo Subianto. Ada beberapa nama yang digadang-gadang menjadi bakal calon wakil Prabowo. Salah satunya ialah berdasarkan ijtima dari para ulama yang menyebutkan Ketua Majelis Syuro PKS (Salim Segaf Al-Jufri), dan Ustaz Abdul Somad.

Kegalauan Prabowo

Bergabungnya Partai Demokrat ke dalam koalisi, menambah daftar calon wakil Prabowo. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi rekomendasi partai demokrat untuk mendampingi Prabowo Subianto dengan harapan menggapai kemenangan pada pilpres 2019.

Hal tersebut menambah beban bagi Prabowo dalam menentukan wakil yang memungkinkannya meraih kemenangan setelah tiga kali mencalonkan diri. Kegalauan Prabowo bermula dari kesan penolakan yang diperlihatkan oleh Ustaz Abdul Somad, yang pencalonannya telah disetujui oleh partai koalisi. Menurut beliau, dirinya bukanlah sosok yang tepat untuk menjadi orang nomor dua di Indonesia, karena ia tidak memiliki pengalaman politik yang mumpuni.

Sekilas mengenai Ustaz Abdul Somad (UAS)

Ustaz Abdul Somad Batubara, Lc, atau lebih dikenal dengan Ustaz Abdul Somad, lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977. Umurnya sekarang telah menginjak usia 41 tahun.

Beliau adalah seorang pendakwah dan ulama Indonesia yang sering mengulas berbagai macam persoalan agama, khususnya kajian ilmu hadis dan Ilmu fikih. Selain itu, ia juga banyak membahas mengenai nasionalisme dan berbagai masalah terkini yang sedang menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat.

Namanya dikenal publik karena Ilmu dan kelugasannya dalam menyampaikan dakwah yang disiarkan melalui saluran Youtube. Ustaz Abdul Somad saat ini bertugas sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.

Kajian-kajiannya yang tajam dan menarik membuat banyak orang suka dengan tausiahnya. Ulasan yang cerdas dan lugas, ditambah lagi dengan keahlian dalam merangkai kata yang menjadi sebuah retorika dakwah, membuat ceramah Ustaz Abdul Somad begitu mudah dicerna dan dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat.

Banyak dari ceramah Ustaz Abdul Somad yang mengulas berbagai macam persoalan agama. DBukan itu saja, ceramah Ustaz Abdul Somad juga banyak membahas masalah-masalah yang sedang menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat.

Koalisi bernafaskan tahta

Koalisi pendukung Probowo dianggap kurang solid dikarenakan sikap setiap partai koalisi yang seakan-akan menginginkan anggotanya dipilih sebagai pendamping Prabowo.

Buah simalakama seakan-akan menghantui Prabowo. Mengundurkan diri dari koalisi menjadi pertimbangan bagi partai koalisi penyokong Prabowo, apabila tokoh yang diusung tidak dipilih untuk mendampinginya. Ini bisa ditafsirkan sebagai berikut: partai koalisi pendukung Prabowo hanya memiliki satu tujuan, yakni tahta. Koalisi yang terjadi antara Gerindra, PAN, PKS, serta Demokrat adalah koalisi galau yang memperlihatkan keegoisan masing-masing partai.

Sepertinya ini merupakan hal yang wajar dalam dunia politik. Walaupun begitu, sikap rendah hati dalam menetukan pemimpin yang terbaik seharusnya dapat dipegang oleh tiap partai koalisi pendukung Prabowo. 

Bagaimanapun, pilihan tetap berada di tangan Prabowo. Siapa pun calon yang akan dipilih, tentunya telah di diskusikan secara matang. Sebagai warga negara, kita hanya bisa menanti keputusan akhir. 

Lantas, di mana pelabuhan terakhir Prabowo?