Ada relasi kuasa yang terjadi dalam obrolan tentang klepon yang sedang ramai baru-baru ini. Dan itu terjadi di ruang jagat maya bernama media sosial yang katanya disebut sebagai ruang kemerdekaan dan kesetaraan itu.

Barangkali kita belum menyadari, isu soal klepon cepat melesat dan menyebar luas ke mana-mana lantaran kelakuan netizen latah yang ramai-ramai menyemarakkan perbincangan terhadap meme bergambar kue klepon di akun-akun media sosial mereka. Tragisnya, motif tindakan itu tidak semata karena terpancing oleh kata-kata bernarasi provokatif menyangkut agama di dalamnya, melainkan sekadar ikutan-ikutan dengan para influencer.

“Liat deh, akun anu ngepost kalau kue klepon itu nggak Islami, supaya kurma jualan dia laku. Goblok banget haha.” “Oh, ya, apakah ada sumber aslinya?,” “Eh, mmm..  tapi kan influencer gede sampai banyak yang share.”

Suara-suara seperti itu secara tidak langsung menampakkan sebuah ketundukan diam-diam atas sebuah informasi seorang penggemar pada idolanya. Dan jelas, ini menggambarkan bahwa populernya sebuah isu di media sosial ternyata tidak terjadi semata karena ia menjadi keresahan bersama-sama, namun sangat mungkin ia hanyalah akibat dari mekanisme relasi kuasa yang berlangsung secara tidak sadar antara netizen dan influencer.

***

Dampaknya luar biasa. Meme klepon yang sebetulnya tidak serius-serius amat itu bisa menjadi isu yang viral di berbagai platform sosial media. Apa yang istimewa dari sebuah meme berbentuk flyer promosi bisnis dengan kualitas editing seadanya, dan menyebut sebuah makanan islami atau tidak islami? Tidak ada. Namun, lantaran ada satu dua influencer yang menanggapi, informasi sepele itu ternyata bisa menjadi trending topic.

Inilah hebatnya influencer. Keberadaan mereka di ruang-ruang media sosial memiliki posisi yang tidak sembarangan. Gerak-gerik dan aktivitas mereka secara tidak sadar menjadi sosok-sosok kunci persebaran isu di jagat maya. Mereka punya kemampuan memengaruhi opini atau mengubah perilaku para follower-nya hanya berdasarkan respons mereka atas satu informasi. Tak peduli itu hal yang serius atau sekadar lelucon nan receh.

Namun, demikianlah kenyataannya. Banyak netizen merasa belum merasa keren dan up to date bila belum ikut-ikutan melakukan apa yang dilakukan oleh idola mereka, para influencer itu. Di sinilah, diam-diam ada semacam ketundukan yang menyelimuti batok kepala netizen ketika melihat para influencer bak seorang juru kabar yang selalu benar dan perlu diikuti. Buruknya, cara pandang semacam ini hampir pasti melekat pada setiap diri para netizen yang fanatik.

Pada titik inilah kemudian terbangun sebuah relasi kuasa antara netizen dan influencer atas sebuah informasi, ketika para netizen dengan gegabah melakukan share kata-kata, konten, dan apa pun yang dilakukan oleh para influencer mereka. Seolah mereka hanya melakukan taklid buta atas informasi tanpa ada kemampuan verifikasi akan mana yang dianggap penting dan tidak penting, sehingga mereka mudah terseret dengan apa yang dilakukan oleh influencer itu.

Impilkasinya tentu bisa kita rasakan. Betapa sebuah informasi yang menyebar di jagat maya tidak lagi dipilih oleh berdasar kualitasnya, melainkan lebih pada hasil produksi imitasi belaka seorang penggemar terhadap idolanya. Hal inilah yang sebetulnya membahayakan karena pelan-pelan justru akan menghilangkan nalar kritis kita.

***

Apa yang terjadi pada klepon ini sebetulnya adalah pengulangan kisah lama. Barangkali anda ingat dengan sebuah nama Jonru Ginting. Seorang influencer yang namanya populer di pilpres 2014. Salah satu episode pilpres terpanas yang pernah ada di sepanjang sejarah penyelenggaraan pilpres di Indonesia itu. Meskipun tak mirip-mirip amat, tapi saya kira esensinya sama.

Ketika itu Jonru mengunggah tulisan berjudul “5 Alasan Jokowi Tidak Layak Jadi Presiden” di beranda Facebooknya. Di dalamnya ia menuliskan serangkaian tudingan-tudingan negatif terhadap Jokowi, seperti menyebut Jokowi sebagai tukang bohong, berasal dari keluarga yang tidak jelas, dan jenis komentar-komentar negatif yang menjatuhkan lainnya . Menurut Tirto.id, tulisan itu meraih 38 ribu likers dan 5,3 ribu kali dibagikan dari para followernya. Luar biasa bukan?

Konten-konten berisi informasi yang belum jelas kebenarannya itu menjadi trending topic. Yang disayangkan, viralnya isu itu lantaran ada banyak follower garis keras Jonru yang ikut terseret dengan unggahan itu. Di sinilah seolah tampak terang benderang, ada ketundukan diam-diam para netizen itu di hadapan  influencer.

Akibat negatifnya jelas, isu-isu hoaks dan informasi-informasi tidak penting selalu memperoleh panggung di jagat maya. Ini juga menggambarkan betapa banyak netizen seolah tidak mempunyai kemampuan mandiri dalam mencerna informasi karena semua kebenaran sudah dititipkan pada influncer mereka.

Saya tidak tahu, sampai kapan ini bisa berlalu, atau mungkin memang sudah sejatinya harus seperti itu. Lalu, pada akhirnya, kita kemudian menjadi manusia-manusia yang terus mengorbankan kebenaran, karena kebenaran bukan lagi berpijak pada apa yang disampaikan, melainkan siapa yang menyampaikan.

Menyedihkan.