Imam Al-Ghazali merupakan tokoh ilmuan, sekaligus ulama yang luar biasa. Nama lengkap Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, lahir pada 450 H/1058 M. Beliau lahir di sebuah desa bernama Thus, Persia. Dia dikenal sebagai pemikir yang ulung, dan orang-orang memberikan beliau gelar “Hujjatul Islam” (Pembela Islam), “Zainuddin” (Hiasan Agama) dan lain-lain.

Kehausan Imam al-Ghazali akan ilmu sudah terlihat sejak beliau muda belia. Sehingga tidak heran melihat beliau menjadi ulama besar pada masanya, dan bahkan namanya tetap menggaung sampai sekarang. 

Hal ini bisa dilihat dari karya-karya beliau yang dikaji umat hingga saat ini, dan bahkan tidak mustahil sampai hari kimat, diantaranya Ihya’ ‘Ulum al-din, Minhaj al-Abidin, Tahafut al-Falasifa, dan lain-lain.

Sebelum kita mengkaji lebih jauh tentang klasifikasi ilmu menurut Imam al-Ghazali kita perlu menulusuri latar belakang beliau memunculkan hal itu. Pertama, berdasarkan sebuah hadits,

  • طلب العلم فريضة علي كل مسلم
  • “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap individu Muslim”
  • Berdasarkan hadits tersebut bukan berarti semua ilmu harus dicari serta memiliki keutamaan yang sama, tetapi berbeda-beda. Jadi untuk memudahkan umat perlu diklasifikan supaya umat mengetahui mana yang harus lebih diutaman dan dinomer duakan. 
  • Kedua, pada masa Imam al-Ghazali banyak muncul paham-paham dan aliran-aliran pemikiran, sehingga beliau dituntut untuk menelaah pemikiran-pemikiran itu. Dan hal ini merupakan bagian yang mempengaruhi klasifikasi ilmu yang dilakukan Imam al-Ghazali. 
  • Ketiga, mengklasifisian Imam al-Ghazali tentang ilmu juga tidak lepas dari pemikirannya tentang sumber-sumber pengetahuan, yaitu kasf(Intuisi), wahyu (al-Qur’an dan sunnah rasul), dan ‘aql(rasio).
  • Setelah menelaah sumber klasifikasi ilmu yang dilakukan Imam al-Ghazali berdasarkan tiga hal, yaitu berdasarkan sumber, metode, dan manfaatnya.
  • Berdasarkan sumber dibagi dua, yaitu wahyu dan akal. Ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu ini kemudian yang disebut ilmu syari'ah(Ilmu-ilmu keagamaan), contohnya ilmu tafsir, hadits, fikih, ushul fiqh, dan lain-lain. Adapun yang bersumber dari akal yang diistilah dengan ulum aqliyah(ilmu-ilmu rasional).
  • Kemudian al-Ghazali mengajarkan kita karena wahyu itu dari Tuhan dan akal manusia, maka ilmu yang dihasilkan dari wahyu lebih utama dari pada yang dihasilkan dari rasio atau akal manusia.
  • Kemudian dilihat dari aspek metode al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu menjadi tiga, yaitu qalbu(hati), aqlu(akal), dan al-hissyu(Indra). Ilmu yang didasarkan pada indra melahirkan ilmu-ilmu enpirik, dan ilmu yang didasarkan pada akal akan melahirkan ilmu-ilmu rasional, sedangkan hati akan melahirkan ilmu yang kita kenal dengan tasawuf, atau bisa juga disebut ilmu sufisme. 
  • Al-Ghazali mengatakan bahwa diantara ketiga macam tadi sifatnya tidak sama, tetapi memiliki tingkatan atau berjenjang. Kata al-Ghazali ilmu yang didasarkan pada indra adalah yang paling rendah, atau bisa dikataktan pemula, dan yang paling tinggi ilmu yang didasarkan pada qalbu. Tetapi ilmu tadi saling berkaitan atau saling melayani, mulai dari yang tingkat rendah menuju ke yang paling tinggi.
  • Berdasarkan aspek kemamfaatannya al-Ghazali membagi menjadi lima. Pada aspek ini kita tidak berbicara agama dan umum, tetapi sisi tingkat urgensitas sebuah ilmu. Pertama, fardu ‘ain, yaitu ilmu yang kita butuhkan hari ini atau saat ini, untuk kepentingan dunia maupun demi kesalamtan ukhrowi atau akhirar kita. Dan perlu diketahui bahwa mencari ilmu fardu ‘ain tentunya disesuaikan dengan jenjang dan tingkat kebutuhan seseorang baik itu dalam jangka waktu yang panjang ataupun jangka waktu pendek dan ditentukan dengan kemampuan masing-masing individu. Fardu ‘ain disini mencakup 3 hal, yaitu sesuatu yang wajib diimani (i’itiqad), amal-amal, dan larangan-larangan.
  • Bagi setiap Muslim berkewajiban mencari ilmu tentang tiga hal tadi. Kemudian berbicara masalah i’itiqad, apabila seseorang menghadapi keraguan didalam imannya maka dia wajib mecari ilmunya dengan tujuan untuk menghilangkan keraguannya. 
  • Kemudian, tentang ilmu pengetahuan tentang amal, kewajiban, atau perintah, seperti tidak diwajibkan atas seorang muslim untuk belajar tentang puasa hingga menjelang Ramadhan. Begitu juga dengan masalah larangan-larangan contohnya orang bisu tidak diwajibkan atasnya untuk mengeatahui apa yang haram atas ucapannya, tetapi sebaliknya kalau dia tidak bisu maka dia wajib untuk mengetahuinya.


Kedua, fardu kifayah, hal ini bersifat mengikat kepada kelompok  sebagai satu kesatuan. Apabila ada sebagian sudah melakukannya maka yang lain bebas dari kewajiban itu. Tetapi perlu digaris bawahi makna fardu kifayah menurut fiqih dan al-ghazali berbeda. Fiqh mengatakan cukup dikerjakan sebagian, maka yang lain bebas. 

Tetapi al-Ghazali menyatakan bebasnya kewajiban itu apabila telah memenuhi batas kecukupan, jadi walaupun sebagian tetapi belum memenuhi batas kecukupan, maka yang lain belum gugur dari kewajiban. Contohnya ilmu desain busana, pertanian, arsitektur, dan lain-lain.

Ketiga; 'ilmu fadhilah, yaitu ilmu yang sangat dianjurkan, seperti spesialisasi aritmatika (ilmu hitung) ini sangat disarankan. Walaupun jarang diperlukan namu aspek kebermanfaatan luar biasa pada saat-saat diperlukan. 

Kemudian yang keempat; ilmu mubah,yaitu ilmu yang tidak terkait spesialisasi bidang kita. Atau bisa kitakaan ilmu yang bersifat netral.  Misalnya kita ahli pendidikan agama Islam, maka kita boleh belajar syair, sepanjang tidak menggunakan kata-kata yang tidak senonoh, dan juga  ilmu sejarah.

Kelima;ilmu mazmumah (tercela), seperti ilmu sihir, judi, mantra, dan lain sebagainya. Menurut Imam al-Ghazali pada dasarnya tidak ada ilmu itu tercela, tetapi menjadi tercela akibat dari manusia itu sendiri. 

Seperti contoh yang sudah disebutkan tadi ilmu sihir, ilmu sihir tidak akan memiliki signifikasi kecuali mencelakakan orang lain.

Ada tiga sebab ilmu bisa menjadi tercela. Pertama, ilmu-ilmu tersebut dapat menimbulkan kerusakan ataupun kehancuran. Di samping itu pula bertentangan dengan syari’at. Kedua, bahaya yang ditimbulkan jauh lebih besar dari pada manfaatnya. Ketiga, banyak menyiakan-nyiakan waktu.

Jadi, dapat diambil kesimpulan, bahwa pengklasifikasian ilmu yang dilakukan Imam al-Ghazali bukan menandakan ketidaksukaannya terhadap ilmu tertentu, tetapi supaya kita dapat memahaminya dengan baik dan benar. Dimana menurutnya semua ilmu berasal dari Allah SWT. 

Maka dapat dipahami bahwa klasifikasi ilmu Imam Al Ghazal memiliki sifat fleksibel di mana ilmu itu akan terus berkembang sesuai keadaan zaman yang ditujukan demi kemajuan manusia, khususnya umat Islam.