Masih ingat dengan KLa Project? Kebanyakan dari kita pasti masih ingat. Grup musik yang digawangi oleh Katon Bagaskara, Romulo Radjadin, dan Adi Adrian ini adalah salah satu legenda dalam kancah musik Indonesia. Lagu-lagu mereka yang ikonik meresap ke dalam hati khalayak. Penulis adalah salah satunya.

Mengapa penulis begitu getol dengan grup ini?

Pertama, suara Katon sebagai vokalis dan Lilo sebagai backing vocal yang ciamik. Sebagai vokalis, Katon punya suara yang padat, dinamis, dan penuh tenaga jika mencapai nada-nada tinggi. Selain itu, Lilo dengan suara tingginya could go into heights tanpa upaya yang berlebih. Bahkan, puncak-puncak nada dapat diraihnya dengan effortless.

Buktinya? Dengar saja lagu Meski T'lah Jauh yang dibawakan Lilo. 

Kedua, komposisi musik yang brilian. Meski penulis bukan ahli musik, namun mendengar musik dalam setiap lagu KLa membawa kesan tersendiri. Transisi dalam setiap lagunya bagai jembatan emas. Sebuah konektor antara akumulasi emosi di bait dan letupan emosi di refrain.

Dengan transisi yang gold standard tersebut, bait dan reff dalam lagu-lagunya menjadi sangat mengesankan.

Ketiga, video klip yang unik nan kreatif. Pembaca pasti tertarik sekaligus bingung ketika menontonnya.

"Dari mana mereka mendapatkan ide seperti ini?" Contoh-contohnya banyak. Mulai dari foto Memes yang diceplok telur mata sapi di Tak Bisa Ke Lain Hati, tema futuristis di Romansa, dark romance pada video klip Terpurukku di Sini, dan lain sebagainya.

Keempat, lirik lagu yang sangat puitis dan ekspresif. Inilah alasan utama penulis menggemari grup band dari Tebet, Jakarta Selatan, ini. Kata-kata yang digunakan sungguh kompleks dan mendalam. Dengan kata lain, vocabulary yang digunakan memang kelas berat. Namun, beratnya kata yang digunakan berhasil mencakup rasa/emosi yang mendalam. Lihat saja larik-larik berikut:

"... Menggigil palung hati, dipelukan bimbang jawabmu..."

"... Merintih sendiri ditelan deru kotamu..."

"... Tercipta nelangsa, merenggut sukma..."

Bayangkan saja, mereka menggunakan "menggigil palung hati" untuk menggambarkan "sakit hati" di lagu Terpurukku Disini. Selanjutnya, pada lagu Yogyakarta, "ditelan deru kotamu" menggantikan istilah "kebisingan". Belum lagi penggunaan "tercipta nelangsa" dari pada "muncul penderitaan" dalam Tak Bisa Ke Lain Hati. Ini jelas menunjukkan poetic effort yang diberikan memang tidak main-main.

Sehingga, susunan kata-kata puitis ini menciptakan banyak bait, interlude, dan refrain yang sungguh melegenda. Berikut adalah salah satu favorit penulis dari lagu Romansa:

"Tertiup aroma bunga
Mengantarkan nikmat gairah 'smara
Terlantun untaian mantra

Reff:

Duhai, bersemilah cinta kita
Tersiram prahara kasih, tersenyumlah
Dan setia, dari waktu ke waktu."

Lantas, dari mana inspirasi larik-larik tersebut berasal? Ternyata, Katon sebagai penulis lagu memang sangat gemar berpuisi.

Setiap kali membuat lagu, sosok dan karya Chairil Anwar, W.S. Rendra, Kahlil Gibran, dan berbagai maestro bahasa indah lainnya terngiang di kepalanya. Sehingga, setiap lirik yang ditulis dipengaruhi oleh gaya mereka. Pantas saja liriknya sebegitu berat.

Belum lagi, Katon menganggap puisi bukan hanya sekadar permainan kata. Puisi adalah sebuah filosofi (Putra dalam cnnindonesia.com, 2018). Maka, Katon sebagai pencipta lagu memang memiliki suatu tujuan jelas. Ia ingin menciptakan sebuah ekspresi puitis kompleks yang dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang.

Itulah sebabnya mendengar lagu-lagu KLa menuntut kita untuk berpikir. Bukan berpikir mengenai masalah sosial-kemanusiaan seperti Iwan Fals dan Ebiet G. Ade. Melainkan kita dituntut untuk berpikir mengenai makna lagu tersebut dari perspektif kita.

Dalam pemaknaan tersebut, diperlukan pengetahuan kosakata yang cukup dalam. Dampaknya, kita dipancing untuk meningkatkan pengetahuan kosakata kita.

Pada area inilah kemampuan literasi diperlukan. Artinya, kita perlu mendorong kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan mendengar agar pengetahuan kosakata meningkat (National Literacy Trust dalam cambridgeassessment.org.uk, 2013:8).

Dalam konteks ini, mendengar lagu KLa menjadi pemancing literasi. Selanjutnya, kita dapat merespons pancingan tersebut dengan meningkatkan referensi bacaan, lebih sering menulis, lebih sering menonton tayangan yang berkualitas, dan meningkatkan kemampuan public speaking.

Penulis sendiri merasakan manfaat ini. Sejak mendalami KLa saat SMA, mendengar lagunya memancing penulis untuk membaca liriknya. Setelah membaca liriknya, memang benar loh. Otak penulis langsung berusaha memaknai susunan kata tersebut.

Lantas, repositori pikiran ini mengaitkan larik-larik tersebut dengan apa yang pernah penulis alami. Mulai dari patah hati, jatuh hati, kesetiaan terhadap keluarga, dan lain sebagainya. Akhirnya, hal yang selama ini terpendam mampu keluar lewat pengasahan literasi ini.

Apa hal tersebut? Hal tersebut adalah melankolisme yang terdapat jauh di lubuk hati penulis.

Sebagai pribadi ESTJ (Extroverted, Sensory, Thinking, Judgers), sentimen yang mendominasi diri penulis adalah kolerik-melankolik. Orang Indonesia menyebutnya sebagai "Muka Rambo, hati Rinto".

Berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari menuntut penulis untuk menonjolkan sisi kolerik. Akan tetapi, ketika hari berakhir, penulis bisa masuk ke dalam kamar dan menyetel lagu-lagu KLa. Bernyanyi ria, nikmati musik, sambil menyalurkan melankolisme di palung hati.

Jadi, mau nikmati musik sambil mengasah literasi? Dengar dan resapilah lagu-lagu KLa Project. Kalau bisa, jadilah seorang KLanis. Dijamin ampuh membentuk kemampuan literasi!