Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan terjun langsung ke desa dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang ada di suatu desa. KKN adalah pengimplementasian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, serta perpaduan dari pendidikan dan penelitian.

Dalam kegiatan KKN ini mahasiswa dari berbagai lintas jurusan dapat menerapkan hasil dari yang dipelajarinya selama duduk dibangku perkuliahan untuk kebermanfaatan masyarakat desa di lokasi KKN.

Kegiatan KKN adalah hal penting yang harus dilakukan oleh mahasiswa sebagai agent of change, sebagai manusia yang diharapkan dapat membawa perubahan di masyarakat. Selain itu keterlibatan mahasiswa langsung ke masyarakat juga bisa mendapat banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi dirinya kelak.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Universitas Pancasakti Tegal (UPS Tegal) melaksanakan KKN setiap tahunnya sebagai pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Di UPS Tegal terdapat dua jenis KKN, yaitu reguler dan tematik. Perbedaan dari keduanya adalah jika reguler penentuan anggota dan tempat lokasi KKN ditentukan oleh kampus, sedangkan jika tematik ditentukan sendiri oleh mahasiswa, baik anggota maupun tempat lokasi KKN.

Kami lebih memilih jenis KKN tematik agar dapat memilih anggota yang sudah kenal dan tentunya dapat diajak bekerjasama dengan baik, serta dapat menentukan sendiri tempat KKN dengan telah mengetahui masalah sebelumnya. 

Desa yang kami jadikan tempat KKN adalah Desa Wotgalih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Dalam penentuan tempat KKN juga bukan tanpa alasan, terdapat data dan fakta lapangan yang kami lakukan sebelumnya.

Berdasarkan Indeks Desa Membangun Kabupaten Tegal (IDM 2022), Desa Wotgalih masuk dalam golongan desa tertinggal. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari masih banyaknya jumlah KK miskin yang mendominasi yaitu 75% dari total KK. Dengan masih banyaknya penduduk miskin di Desa Wotgalih menyebabkan desa ini masih termasuk golongan desa tertinggal.

Kondisi wilayah Desa Wotgalih berada di dataran tinggi dan sebagian besar luas wilayahnya adalah hutan pohon jati yang sebagian digunakan sebagai lahan pertanian.

Mayoritas penduduk Desa Wotgalih bermata pencaharian sebagai petani, dari populasi penduduk Desa Wotgalih terdapat lebih dari setengah penduduk yang bekerja sebagai petani. Dari keseluruhan petani yang ada didominasi oleh petani jagung, sebagian kecil yang lain berprofesi sebagai peternak, pedagang kecil, tukang kayu, tukang batu, PNS, dan buruh serabutan.

Terdapat empat pilar KKN yang digunakan untuk menilai tingkat kemajuan dan kemandirian desa yaitu: 1) pilar ekonomi, 2) pilar pendidikan, 3) pilar kesehatan, dan 4) pilar lingkungan. Dari keempat pilar tersebut terdapat satu pilar yang menjadi fokus penyelesaian kami yaitu pilar ekonomi. Karena permasalahan pada pilar ekonomi dapat membawa pengaruh terhadap ketiga pilar lainnya.

Keragaman produksi masyarakat merupakan salah satu indikator kemajuan dalam pilar ekonomi. Di Desa Wotgalih terdapat lebih dari satu jenis kegiatan ekonomi penduduk. Namun yang mendominasi adalah penduduk dengan mata pencaharian sebagai petani jagung, sehingga hasil kebanyakan produksinya berupa jagung, jadi bisa dikatakan kurang beragam hasil produksi masyarakatnya.

Jagung merupakan produk dominan yang dihasilkan masyarakat, namun terdapat permasalahan serius yang mesti ditangani dalam hal produksi jagung. Berdasarkan hasil survei dan wawancara kami dengan beberapa petani yang kami temui, beliau menuturkan bahwa hasil panen jagung tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sampai panen berikutnya, di samping itu banyak dari petani yang tidak mempunyai pekerjaan sampingan, mereka hanya mengandalkan hasil panen jagung.

Adapun yang menjadi permasalahan mengapa hasil panen jagung tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari salah satunya karena banyak jagung yang terserang hama tikus. Hal ini menyebabkan menurunnya produktivitas panen jagung.

Tentunya ini sangat meresahkan bagi para petani di Desa Wotgalih, di samping perkembangbiakannya yang terbilang cepat, tikus juga merusak tanaman dari fase tumbuh hingga panen bahkan sampai penyimpanan.

Pada tahun 2020 pernah terjadi serangan hama tikus besar-besaran, semua petani merasakan dampak serangan tersebut. Beberapa petani menuturkan bahwa mereka rugi sampai berton-ton jagung dalam insiden tersebut yang mana apabila dirupiahkan kerugian itu terbilang cukup besar. Dan pernah pula hasil panen yang ditinggal disawah dalam semalam ludes dimakan tikus padahal sudah tertutup rapat.

Para petani sudah melakukan upaya pemberantasan hama tikus yaitu dengan menggunakan racun tikus dan menyewa penembak jitu. Namun upaya tersebut kurang efektif dan efisien untuk pemberantasan hama tikus dalam jangka panjang.

Hingga pada akhirnya Tim KKN Tematik menemukan alternatif solusi untuk menanggulangi hama tikus dengan menggunakan musuh alaminya yaitu burung hantu. Penanggulangan dengan cara ini terbukti efektif dan efisien dalam upaya memerangi hama tikus di sawah, karena tikus menjadi makanan utama bagi burung hantu, dengan demikian akan meningkatkan produktivitas panen jagung. 

Tim KKN Tematik kami membagi tiga tahapan dalam program penanggulangan hama tikus, yaitu:

1. Sosialisasi Kepada Kelompok Tani Lestari

Sasaran program ini adalah para petani Desa Wotgalih khususnya yang tergabung dalam kelompok Tani Lestari. Sosialisasi ini dilakukan dengan tujuan memberikan pengetahuan kepada petani seputar penanggulangan hama tikus menggunakan burung hantu.Sosialisasi dengan kelompok Tani Lestari

Adapun yang kami jelaskan adalah terkait keunggulan burung hantu dalam menanggulangi hama tikus. Dimana penanggulangan dengan cara ini tidak akan merusak lingkungan baik tanah, air maupun udara.

Penanggulangan dengan cara ini lebih hemat dan efektif sepanjang tahun, karena dalam satu bulan burung hantu dapat memangsa tikus kurang lebih sampai 100 ekor, tentu akan menghemat tenaga bagi para petani. Selain itu akan dapat melestarikan burung hantu sebagai hewan yang mulai langka.

Dalam sosialisasi tersebut kami juga menjelaskan bagaimana cara kerja burung hantu untuk memerangi hama tikus disawah. Adalah dengan mendirikan rumah burung hantu disawah sebagai sarangnya, kemudian burung hantu akan menyarang sendiri dikandang yang telah kami buat.

2. Membuat Rumah Burung Hantu (RUBUHA)

Setelah melakukan sosialisasi kepada kelompok Tani Lestari, keesokan harinya kami mulai membuat kandang burung hantu di rumah ketua kelompok Tani Lestari. Kandang ini kami buat dengan menggunakan papan dan kayu dengan ukuran panjang 80cm, lebar 60cm, dan tinggi 50cm serta dilapisi dengan karpet warna hitam.Proses pembuatan RUBUHA

Kandang burung hantu ini selesai kami buat selama 3 hari dengan menghasilkan 2 buah kandang yang siap ditempati burung hantu.

3. Mendirikan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di Sawah

Setelah kandang sudah setengah jadi, kami mulai membawa kandang ke sawah dan menempatkan kedua kandang itu di tempat yang menjadi tempat lokasi pendirian.Proses tahap akhir pembuatan RUBUHA

Dibantu oleh beberapa petani, kami melakukan tahap finishing, yaitu mengaitkan kandang ke tiang sepanjang 6 meter, dan memasang atap dari seng yang telah dicat warna biru, serta menggali tanah sedalam satu meter untuk pendirian tiang agar kokoh berdiri. Setelah tahap akhir selesai kami dibantu petani mendirikan dua kandang burung hantu.RUBUHA yang sudah didirikan

Program penanggulangan hama tikus dengan menggunakan burung hantu merupakan program yang ditunggu masyarakat khususnya petani karena hama tikus menjadi masalah yang cukup besar bagi petani. Dengan pendirian RUBUHA ini kami memperkirakan akan cepat burung hantu menyarang, karena wilayahnya dikelilingi hutan dan banyak aktivitas burung hantu dimalam hari.

Harapannya program kecil ini merupakan jawaban atas permasalahan bagi para petani. Peningkatan produktivitas panen jagung adalah output yang kami harapkan. Dengan peningkatan produktivitas panen maka akan meningkatkan penghasilan para petani.

Baca Juga: Koneksi dan KKN