Kisah horor memang tidak pernah sepi dari perbincangan. Sensasi ketegangan yang dihadirkan menjadikannya trending dalam setiap obrolan. Tema horor telah menyedot perhatian semua kalangan, baik anak-anak, remaja, bahkan lansia.

Wahananya pun mengalami perkembangan, mulai dari novel sampai film bertema horor menjadi daya pikat bagi penjelajahan ide penikmatnya. Namun tetap saja, cerita pengalaman pribadi selalu punya ruang utama bagi generasi "jempol".

Permasalahan ini pula yang mewarnai pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh mahasiwa dari berbagai universitas. 

KKN merupakan program pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang terhimpun dalam salah satu tridarma perguruan tinggi. Pada kesempatan ini, mahasiswa akan dikirim ke beberapa titik desa yang dianggap lemah dalam berbagai aspek. Lama pelaksanaan biasanya berkisar sebulan sampai dua bulan.

Bagi mahasiswa, tentu ini menjadi kesempatan besar untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Program ini juga merupakan bentuk nyata kepada masyarakat untuk melihat kinerja dari mahasiswa. 

Tujuannya adalah membangun desa-desa melalui berbagai potensi yang dapat dikembangkan. Hal ini berguna bagi kemajuan suatu daerah, sehingga tidak ada lagi sebutan "desa tertinggal".

Berawal dari kisah viral KKN di Desa Penari yang dipublikasikan oleh akun Twitter Simpleman, isu ini merajai media sosial nusantara, setelah salah satu youtuber ternama, Raditya Dika, mengunggah video wawancaranya dengan pemilik akun. Berdasarkan hasil wawancara, kisah horor itu diakhiri dengan kematian dua pelaku dalam cerita.

Namun demikian, tidak sedikit yang mempertanyakan kebenaran kisah tersebut. Banyak di antara pembaca yang dibuat bingung karena kisahnya terbagi menjadi beberapa versi. Persoalan lokasi kejadian yang sengaja disamarkan oleh pengisah juga mengurangi kepercayaan pembaca terhadap kevalidannya.

Belum lagi isu yang berkembang tentang pengangkatan kisah horor tersebut ke layar kaca. Hal ini makin meyakinkan masyarakat bahwa kisah "KKN di Desa Penari" adalah fiktif belaka, dan sebagai salah satu strategi marketing dari pihak perfilman Indonesia.

Ada poin penting yang perlu digarisbawahi dari viralnya kisah horor "KKN di Desa Penari". Siapa sangka, kisah tersebut telah memancing kemunculan kisah horor lainnya dari para mahasiswa yang telah melaksanakan program KKN. 

Banyak mahasiswa dari berbagai universitas membagikan pengalaman horornya di media sosial selama mengikuti program KKN. Tidak terkecuali saya yang melihat secara langsung fenomena mistik, seperti kesurupan yang dialami oleh rekan kelompok KKN. 

Selain itu, beberapa teman juga mengalami hal-hal aneh, seperti pegal dan bengkak secara tiba-tiba di bagian tubuh tertentu. Menurut penuturan warga, terdapat beberapa titik tempat yang dianggap angker, sehingga saya dan kelompok diimbau untuk selalu berhati-berhati.

Hal ini tentu berdampak pada makna utama dari salah satu pelaksanaan tridarma perguruan tinggi tersebut. Pesona KKN sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat telah bergeser menjadi kegiatan yang penuh dengan pesona mistik. KKN sebagai wadah bagi mahasiswa untuk merealisasikan ilmu pengetahuan selama di perguruan tinggi telah berubah menjadi ajang uji nyali pesertanya.

Tentu persoalan ini juga berdampak bagi mahasiswa yang hendak mengikuti Kuliah Kerja Nyata. Mereka tidak lagi disibukkan dengan persiapan program kerja serta kegiatan yang akan dilakukan, melainkan sibuk membentengi diri dari hal-hal mistik. Rasa takut yang menyelimuti pun dapat menjadi penyebab kegagalan pelaksanaan KKN.

Poin lain yang menarik perhatian dari isu horor itu adalah sudut pandang masyarakat kota terhadap desa. Saat ini, kebanyakan dari masyarakat kota menganggap desa sebagai objek yang penuh dengan kisah mistik. 

Jika ditelisik, anggapan tersebut muncul disebabkan oleh budaya orang-orang desa yang kental dengan hal-hal mistik. Kuatnya kepercayaan mereka terhadap suatu tempat dan benda yang dianggap keramat menjadi pemicu utama perbedaan sudut pandang.

Pada dasarnya, kepercayaan terhadap mistik pasti dimiliki oleh kebanyakan manusia. Namun yang menjadi pembeda adalah kesibukan dan hiruk pikuk suatu daerah. Sebagian besar masyarakat kota disibukkan dengan segala tuntutan kerja, sehingga hal-hal tersebut tidak menjadi fokus utama mereka. Berbeda dengan kondisi lingkungan di desa yang jauh dari segala hiruk pikuk.

Sebagai manusia berintelektual, khususnya mahasiswa, fenomena yang berkembang tentu perlu dilakukan sebuah kontemplasi. Tidak serta-merta suatu isu itu ditelan mentah-mentah tanpa diselisik. Jika demikian kasusnya, maka sangat mudah untuk melakukan pembodohan publik. 

Dari viralnya kisah horor para mahasiswa KKN tersebut, dapat diambil pelajaran tentang menghormati kebudayaan suatu daerah dan menjaga tata krama di mana pun berada.

Sebagaimana tersirat dalam pepatah umum, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Pernyataan itu menjadi bukti bahwa sejauh apa pun pergi, tetap junjung tata krama dan rasa hormat terhadap budaya yang ada. Sesungguhnya, ketika kita berpindah ke suatu daerah, maka sedikit-banyaknya akan ada perubahan budaya dalam masyarakat.

Hal seperti itu benar-benar perlu ditanam dan diamalkan oleh setiap insan yang berakhlak. Bukan berarti status sebagai orang kota menuntut kita bersikap seperti budaya yang ada di kota. Perlu adanya kesadaran untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungan dan masyarakat baru. Sikap ini juga sebagai bentuk percaya kita bahwa masih ada aktivitas di luar kehidupan nyata yang perlu dihormati.

Bagi pihak kampus, beredarnya kisah tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi KKN. Jangan hanya fokus pada seberapa jauh suatu desa tertinggal, sehingga perlu dilakukan pembangunan dan pembenahan. 

Hal lain yang perlu jadi fokus adalah seberapa aman desa tersebut dari tindak kriminalitas dan pesona mistiknya. Jika abai, tentu akan berdampak fatal bagi pesertanya.

KKN adalah suatu program pengabdian masyarakat, suatu bentuk ketulusan manusia, maka mereka juga berhak untuk mendapatkan ketulusan berupa keamanan menetap. Para mahasiswa diutus untuk melakukan tugas mulia, bukan untuk dijatuhkan ke jurang penyiksaan.

Sejauh ini, banyak keluhan-keluhan yang terdengar dari para mahasiswa KKN. Beberapa orang harus kehilangan benda berharga. Tidak sedikit menjadi korban kenakalan mistis. Belum lagi berbagai kerugian fisik sebagai akibat dari peralihan atmosfer lingkungan.

Tentu ini menjadi beban berlipat yang harus ditanggung. Oleh karena itu, hal-hal demikian perlu menjadi list utama bagi para penyelenggara. 

Saya yakin, orang-orang cerdas akan selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan pertimbangan yang cerdas, dan saya meyakini bahwa para pejabat kampus adalah orang-orang yang cerdas.