Cerita horor dengan kisah yang begitu panjang dicuitkan dari Twitter ternyata masih bisa mencuri perhatian banyak rakyat Indonesia. Kita melihat bagaimana cara-cara orang untuk menarik perhatian dalam kisah horor ini, patut diacungi jempol.

Kisah-kisah horor semacam ini memang menjadi sebuah kisah yang melekat pada jiwa orang Indonesia. Kebudayaan dan kearifan lokal pun tidak terhindar dari hal ini. Kisah semacam ini, ketika saya selidiki lebih jauh lagi, ternyata tidak hanya membudaya di Indonesia.

Banyak orang yang menggunakan cerita horor justru untuk mendidik anak-anak. Mistisisme yang terkandung di dalamnya sering kali dipergunakan untuk memberikan sebuah efek yang lebih menetap di otak kita, sebagai sebuah alarm yang tidak pernah dilupakan.

Kalau kita lahir di tahun 80-90an, kita tentu tahu betul tentang film kartun terkenal sepanjang masa, yakni Snow White. Kisah ini originated dari sebuah dongeng asal Jerman, yakni bernama Sneewittchen.

Kisah abad 19, tepatnya pada tahun 1854 ini, sebenarnya berbicara mengenai kisah horor sebelum tidur untuk anak-anak agar pesan moral tersampaikan.

Terkadang, kisah ini diceritakan sebelum tidur, juga agar anak-anak cepat-cepat tidur dan orang tua tidak terganggu dengan ributnya anak-anak. Bahkan, beberapa orang beranggapan bahwa kisah ini tidak pantas diperdengarkan untuk anak-anak, karena isinya begitu banyak berbau kekerasan, pelecehan seksual, incest, dan lain-lain.

Kisah ini jauh dari apa yang Walt Disney siarkan ulang. Kisah Snow White pada awalnya adalah kisah yang suram dan mengerikan. Jacob dan Wilhelm Grimm asal Jerman menuliskan akhir dari kisah pencarian cinta dari Snow White yang tertidur pulas karena terkena racun dari apel sang nenek.

Kisah yang di Walt Disney dibelokkan menjadi happy ending. Akan tetapi, di dalam kisah Snow White aslinya, banyak hal yang lebih mengerikan dan dark. Membuat kita lebih berpikir untuk cepat-cepat tidur ketimbang mendengar kisah itu.

Ada beberapa plot yang tidak difilmkan. Pertama, sang ratu memiliki niat untuk membunuh Snow White. Pertama, ratu meminta pembunuh bayaran untuk membunuh Snow White dengan bukti membawa hati dan paru-paru.

Tapi pembunuh bayaran itu akhirnya tidak menemukan, dan memburu babi, memberikan hati dan paru-parunya ke Ratu. Sang Ratu kemudian memakannya mentah-mentah. Jijik sekali, bukan? Ketika Ratu tahu bahwa dia ditipu, dia juga membuat sisir beracun untuk membunuh Snow White.

Akhirnya para ketujuh kurcaci itu berhasil melepaskan sisir itu dari rambutnya dan Snow White selamat. Ketiga kalinya dengan apel beracun. Yang ini menarik.

Karena ada kemiripan dengan kisah yang ada di film Disney. Kalau di versi Disney, Snow White bangun karena dicium oleh sang pangeran. Akan tetapi, di versi aslinya, ketika para kurcaci itu membawa peti kaca dari istana ke rumah mereka, peti itu jatuh, membuat Snow White tersedak dan dia terselamatkan. 

Akhirnya Snow White membalaskan dendam, dan menyuruh Ratu itu menari dengan menggunakan sepatu besi yang sudah dipanaskan di atas bara api, dan dia dipaksa menari sampai kematiannya.

Kemudian di kisah Cinderella, mengenai sepatu kaca, sepupu-sepupunya berhasil menggunakan sepatu kaca itu. Awalnya kaki mereka tidak muat karena terlalu besar. Hanya Cinderella yang bisa menggunakan sepatu ini. Apa yang mereka lakukan? Mereka bahkan rela memotong jari-jari kakinya dan tumitnya agar bisa masuk.

Entah mengapa, kisah asli Snow White dan Cinderella justru lebih memberikan pesan yang mendalam bagi kita semua. Entah pikiran para pembaca lainnya. Kisah ini dark. 

Baca Juga: Buku Horor

Jika para pembaca ingin menonton kisah anak-anak yang dark juga sekaligus meaningful, silakan tonton kisah-kisah film yang disutradarai oleh Tim Burton. Beberapa film yang ada adalah Edwards Scissorshand, Charlie and Chocolate Factory, Batman, Nightmare Before Christmas dan sebagainya justru membawakan dan seolah membangkitkan kisah-kisah horror yang penuh makna itu ke dunia saat ini.

Saya melihat bahwa selama ini, kisah semacam inilah yang membentuk tradisi dan identitas sebuah bangsa. Sekarang di Indonesia ada kisah mengenai KKN di Desa Penari. Kisah yang menakutkan ini, dan dibuat agak tidak jelas untuk menarik perhatian, sudah berhasil mencuri perhatian kita semua.

Apakah kisah ini benar? Bisa iya bisa tidak. Semuanya tergantung dengan apa yang digantung. Saya pribadi memaknai kisah ini dengan positif saja. Kehidupan ini penuh dengan mistis. Tidak ada yang serta-merta Saintifik dan objektif dan tidak ada kaitannya dengan rasional.

Memang inilah sisi yang dibangkitkan. Sisi emosional, penasaran, dan sedikit terbuka dengan hal-hal berbau menyan. Mungkin kisah-kisah seperti ini dicari-cari, karena masyarakat sudah bosan dengan hal-hal yang berbau politik.

Anggap saja kisah KKN di Desa Penari ini ibarat secangkir kopi di tengah-tengah kebosanan kita dicekoki minuman politik di Indonesia. Jadi ternyata, kisah horor dan membuat kita penasaran ini memberikan kesegaran baru bagi kita.