Cerita horor memang asyik untuk selalu diceritakan ulang. Ketika sekelompok orang berkumpul dan bersenda gurau, lalu tiada lagi bahan candaan ataupun gunjingan, maka makhluk astral dan alam gaib mulai dijadikan menu perbincangan.

Belum lama ini, sebuah kisah horor kembali membuat Jagat Mayantara dicekam rasa takut. Kisah itu berjudul KKN di Desa Penari yang konon katanya benar-benar terjadi pada medio 2009. Kisah tersebut awalnya viral di Twitter. Adapun tempat KKN tersebut ada di daerah Jawa Timur, di sebuah kota yang berawalan B.

Publik menduga-duga, berdasarkan cerita tersebut, ada beberapa tempat yang kiranya cocok dengan keterangan cerita. 1). Alas Purwo di Banyuwangi, 2). Rowo Bayu di Banyuwangi, 3). Desa Widuri Alas Dadapan di Bondowoso, 4). Alas Djawatan di Banyuwangi.

Kisah tersebut bisa dibilang cukup tragis karena memakan dua orang korban, ada 6 orang yang KKN. Semua itu berawal dari seseorang yang bernama Ayu memaksakan diri untuk melakukan kegiatan KKN di desa tersebut dan sempat ditolak oleh Kepala Desa yang bernama Pak Prabu yang notabene adalah teman kakaknya, namun akhirnya diizinkan dengan berat hati.

Di dalam cerita tersebut, ada enam orang yang diceritakan, termasuk Ayu, yaitu Widya, arketipe gadis baik polos rajin menabung; Nur, Mantan Santri yang memiliki mata batin sekaligus penjaga gaib; Wahyu, khas ketua KKN yang bertanggung jawab; Anton, cuma tokoh figuran tak penting; dan Bima, santri yang teman dekatnya Nur dan diam-diam menaruh hati pada Widya.

Awal mula saat KKN pun sudah disambut teror di desa. Widya yang menjadi narasumber cerita tersebut mengalami teror demi teror dari para "makhluk halus" di daerah tersebut dan begitu juga temannya pun mengalami hal sama. Banyak teror aneh yang ditemukan, mulai dari penampakan makhluk halus, suara gamelan, aroma bunga melati, suara sinden menyanyi, dan lain sebagainya yang membuat mereka tidak tenang dan merasa ngeri.

Teror pun memuncak ketika Widya terciduk masuk ke alam gaib, di mana dia menyaksikan sendiri Ayu dipaksa menari erotis untuk menghibur para memedi penunggu hutan yang berwajah buruk rupa dan Bima berada di kubangan yang penuh dengan ular bersisik hijau.

Di akhir cerita, Ayu dan Bima pun menjadi tumbal. Bima yang mentalnya telah rusak, berteriak melihat penampakan ular, lantas tutup usia. Ayu lebih tragis, matanya tak pernah bisa menutup hingga ajal menjemputnya.

Otak di balik semua insiden ini adalah Siluman Ular bernama Bedarawuhi, yang selama ribuan purnama bekerja sambilan sebagai penari di 'klub malam' yang kerap didatangi oleh para lelembut di hutan itu. 

Sejak awal Ayu dan Nur melakukan survei KKN ke desa ini, ia telah merancang skema licik nan kompleks untuk panen nyawa. Menempatkan Badarawuhi sebagai karakter terlicik bersama dengan rekan sesama siluman ular di Anime Naruto, yaitu Orochimaru. Hal ini mengingatkan kita pada lagu:

"Seperti ular seperti ular, Yang sangat berbisa sangat berbisa, Suka memangsa suka memangsa, Diriku tergigit cintaaaa.. ow aaaku tertipuu aaaku terjebak, aku terperangkap muslihatmuu."

Awalnya Badarawuhi menempel ketat pada Widya, sehingga semua orang berpikir bahwa Widya yang akan jadi tumbal. Namun ternyata, ia diam-diam membuat perjanjian dengan Bima yang mencintai Widya. Bahwa dengan mustika gelang sakti miliknya, jika diberikan pada Widya, maka Widya akan jatuh cinta pada Bima. Sebagai bayarannya, Bima harus rela berbagi tubuh dengan Badarawuhi.

Di sisi lain, ada Ayu yang mencintai Bima. Badarawuhi pun membujuk Ayu. Dengan bermodalkan selendang sakti miliknya, ia bisa memikat hati Bima. Di bawah pengaruh selendang sakti, iman Bima makin luntur. Ia pun tergoda melakukan olahsyahwat dengan Ayu di 'Sinden' keramat sebanyak dua kali.

Mungkin para jomblo akan iri melihat Bima yang hanya bermodal rajin sembahyang, mengaji, kurang dari sebulan sudah menjadi sasaran dua wanita binal: yang satu wanita sungguhan dan yang lain wanita jejadian. Namun melihat karma yang akan dituai Bima, para jomblo prihatin; kelihatannya akan lebih senang bermain dengan sabun colek saja.

Nah, perbuatan Ayu dan Bima kemudian dijadikan dalih bagi Badarawuhi untuk menuntut tumbal dengan tuduhan bahwa kedua mahasiswa itu telah melanggar larangan dan menodai tempat suci. Padahal, sejak awal, Badarawuhi punya peranan vital.

Bagaimana dengan Widya? Jelas Badarawuhi menyukai Widya yang masih perawan polos, tapi Widya cuma bonus. Seharusnya Widya juga ikut bernasib malang, hanya saja Selendang dan Gelang Sakti pemberian Badarawuhi malah disimpan Nur bersama dengan Alquran. Plus, ada bantuan dari Mbah Buyut, Dukun Desa yang bisa berubah wujud menjadi anjing.

Nur adalah penghalang utama rencana Badarawuhi. Karena penjaga Gaib yang melindungi Nur, bernama Mbah Dok, ternyata sanggup membabat lebih dari setengah demit penunggu hutan.

Jadi, secara matematis, Badarawuhi memprediksi: Jika Bima dan Nur tak tergoda ajakannya, maka Widya akan jadi tumbal. Namun jika mereka berdua terpancing, Badarawuhi bisa memangsa 3 jiwa. Katakanlah ada intervensi eksternal, hitung-hitung Badarawuhi masih untung memperoleh dua budak baru. Iblis wanita ini sudah merencanakan skema di mana ia tak mungkin kalah.

Nisan-nisan yang ditutupi kain berwarna hitam dan fakta bahwa kawula muda tak ada yang menempati desa itu pun sudah menjadi bukti betapa berbahayanya Badarawuhi, karena ia dan kompatriot makhluk jejadian yang mendukungnya secara aktif mencari tumbal dengan memperalat jiwa-jiwa muda yang labil.

Penjelasan di atas sebenarnya bersifat pledoistik. Penulis ingin sedikit memberi rasa keadilan bagi kedua korban yang disalahkan oleh para pembaca, khususnya oleh Wahyu si ketua yang menuding mereka teralu asyik bervakansi dalam labirin libidinal.

Karenanya Pak Prabu sendiri juga merasa menyesal. Harusnya ia tak mengizinkan. Toh anak-anak mereka juga tak tinggal di desa itu. Desa itu tak cocok dihuni anak muda yang jiwanya membara dan masih penuh dengan hasrat serta mimpi-mimpi.

Di sini yang para pembaca luput, bukan perzinahannya, tapi keinginan terdalam Ayu dan Bima masalahnya. Iblis semacam Badarawuhi itu pandai membaca hasrat terpendam manusia. Bagaimanapun, iblis sudah hidup lebih lama dari manusia dengan izin menggoda anak cucu Adam. Ia tahu betul bahwa iman manusia hanyalah kompensasi dari sisi gelap yang mereka sembunyikan.

Jadi, solusi untuk menghadapi Iblis semacam Badarawuhi bukan saja berdoa pagi siang malam, tapi yang lebih penting adalah ikhlas. Dengan ikhlas, pikiran akan lebih tenang dan jiwa akan lebih kuat. Hasrat Bima dan Ayu yang terlalu besar akan cinta akhirnya mengantarkan mereka pada kematian.

Hasrat dan Ajal. Eros dan Thanatos. Makhluk mortal memiliki keduanya. Menjadi makhluk mortal berarti tidak layak lagi sebagai penghuni surga. Maka, berkat intervensi iblis, dibuanglah manusia ke dunia. Selama hidup di dunia, manusia akan berhadapan dengan kedua elemen itu dan iblis kerap bermain di antara keduanya. 

Ingat, setiap manusia akan menemukan iblisnya sendiri, bahkan jika manusia itu tak memercayainya...

Penulis pun pernah mengalami hal serupa. Penulis adalah individu yang tak pernah gentar dengan eksistensi makhluk halus. Penulis selalu berani menjelajahi hutan, berjalan di kuburan pada malam hari, bahkan membuang hajat di rumah hantu. Penulis bahkan sesumbar menantang makhluk-makhluk astral itu untuk memperlihatkan diri.

Namun, kesombongan penulis akhirnya harus dibayar mahal. 'Iblis' itu datang ketika penulis mengalami Burnout dan Writer block. Keputusasaan yang mendera penulis membuat memori penulis berkelana ke tahun 2009, tahun yang sama dengan peristiwa KKN ini. Saat itu penulis yang masih berusia 17 tahun, sedang bahagia karena punya kekasih pertama.

Lalu saat penulis ditimpa kemalangan itulah, dari sudut Jagat Mayantara, muncul seorang gadis penyuka warna hitam. Gadis itu berasal dari daerah yang sama dengan latar cerita ini. Ia juga gemar menikmati anggur merah dan senja semerah darah. 

Hanya dengan sedikit kata-kata manis, penulis merasa mendapat harapan, namun malah terjerembab ke dalam belenggu asmara yang membuat penulis limbung. Setelah ia jemu dan jengah, ia pun pergi. Persis seperti di film 500 Days of Summer.

Jika waktu bisa diputar kembali, penulis sangat ingin meralat masa-masa itu. Seandainya penulis bisa ikhlas, seandainya penulis tak pernah sesumbar, maka penulis tak akan menuai badai. Karena konsekuensinya, masih mengikuti hingga saat ini. 

Yang ingin penulis tekankan di sini, ya berdoa dan beribadah itu penting. Kedua hal itu bisa menghindarkan kita dari hal-hal buruk. Namun, ikhlas dan tak mengharapkan sesuatu secara berlebihan, itu lebih baik.

Karena pengharapan yang berlebihan bisa mengundang setan untuk datang dan menawarkan muslihatnya pada kita. Lebih baik mencegah mereka datang daripada harus mengobati dampak perbuatan mereka.