Berdaulatlah, untuk hidup sendiri-sendiri. Sibuklah, untuk melupakan kesedihan-kesedihan sesaat itu. Merdekalah, agar kehebatan pikiran ada maknanya. Di mana kemampuan dan bakat lainnya yang mencolok  hanya akan tergadai bila tidak ditopang oleh kehendak bebas.

Harga kita hanya ada pada saat ini juga, saat kita memberikan kontribusi untuk kebesaran pada orang lain, tetapi di waktu lainnya kita tak lebih dari anjing yang hanya diberi makan agar bisa berhenti menggonggong.

Hidup ini adalah assu, nampak tak ada kebaikan yang hakiki. Semua serba sementara, semua hanya tentang kepura-puraan!

Nama besar yang kita raih dari derita sepanjang tahun hanya akan dijual-belikan demi sebuah pekerjaan, untuk sebuah pengakuan.

Orang-orang hidup dengan penuh kemunafikan, tak ada nurani lagi sebagai sandaran hidup di dunia. Semua hanya kesombongan dan dusta yang sesekali dibungkus agama tertentu.

Kenyataan selalu memberikan kejutan tak terduga, orang-orang lemah seperti kita selalu kewalahan menafsirkannya. Bahkan nyaris kita tak mampu menanggungnya.

Tak ada impian yang layak. Semua cita-cita hanya asumsi penuh provokasi belaka, berhentilah ngelantur. Menaklukan dunia tak semudah onani di ranjang.

Di zaman edan ini. Hidup tak lebih dari sekedar basa-basi, bertahan adalah solusi sebab mengakhirinya adalah kelemahan yang sehormat-hormatnya.

Aku rindu Chairil yang bertahan walau dikoyak-koyak sepi. Aku rindu Sapardi dengan lakon bulan Juni yang menjadikannya abadi. Mereka adalah orang-orang hebat yang penuh gairah sastra.

Kalau saja mereka masih hidup, tentu karya-karya gemilang masih dibuatnya memukau para penyair generasi mendatang.

Terlepas dari itu, seandainya perempuan atau laki-laki tak pernah diciptakan Tuhan, seandainya ekonom dan politisi tak pernah dikawinkan silang untuk mengangkangi semua persoalan.

Seandainya semua masih seperti biasa. Mungkin kita masih tetap menangis setiap kali mendengar kata cinta diucap dengan penuh ragu-ragu. Menghasilkan haru dan sekejap melupakan hura-hura.

Tetapi lagi-lagi, sebagian orang tak pernah merasa puas bila tidak menindas. Sebagian lainnya tak pernah merasa tenang kecuali diam, selebihnya adalah mereka yang merasa harus curi panggung.

Aku dan kau, mereka. Kita semua! Tak lebih baik dari siapapun, tercipta dari setetes mani untuk hidup lebih lama dengan penuh pengakuan (Homosymbolicum).

Lalu siapa yang paling suci di antara kita, siapa yang paling beriman, siapa yang paling cinta?

Tak kuberi satu kesempatan pun untuk menjawab sebelum semua bungkam lalu sadar bahwa kita bukan apa-apa dalam segala hal, kita lemah dan kalah dalam semua persoalan.

Ketika diri sendiri pun selalu dibohongi, bila hati dengan pikiran sendiri tak bisa didamaikan. Buat apa kata-kata?

Semua hanya ngawur, kata-kata tak lebih dari cara manusia membuktikan bahwa dirinya tidak bisu. Bahwa dirinya hebat dalam retorika, mampu meyakinkan.

Semua ini aku tulis dengan sangat waras, tanpa tekanan dari mantan manapun. Sehingga menjadi murni cacian pada seonggok daging serta tulang-belulang yang telah lama berantakan di tubuh ini.

Satu hal yang harus aku sampaikan bahwa tidur bukan pilihan saat mengantuk. Olehnya kadang aku lupa kapan tepatnya terakhir kali aku tidur nyenyak.

Intinya aku selalu terbangun dan membayangkan kehancuran semesta, saat kata-kata berterbangan, puisi-puisi terbakar, dan bau pemakaman yang tak henti merapal mantra.

Para perempuan kehilangan sajak, sementara lelakinya kehabisan kopi. Dan itu merupakan seburuk-buruknya situasi. Terjadi setiap saat dan tak pernah bisa dihindari.

Selain itu, aku juga membayangkan hati hati manusia hengkang dari rongga dada. Bergelantung di pepohonan dan terabaikan, begitu buruknya hati bila keluar dari tubuh manusia.

Dan itu terjadi sudah lama, menimpa beberapa orang tetapi masih hidup hingga saat ini, walau mereka selalu disebut manusia-manusia tanpa hati.

Kegilaan ini terus aku alami saat menulis, membayangkan apa-apa yang seharusnya terjadi walau belum saat ini dan mungkin tidak akan pernah.

Tetapi aku tetap optimis, dan aku menunggu suatu masa di mana manusia kehilangan kata-kata, agar tak ada lagi baik atau buruk, benar demikian pun salah. Agar semua sama; bisu untuk tidak saling menghakimi.

Sebelum sempat setiap kata terlepas dari kepala dan menjejali angkasa tanpa terikat oleh tulisan. Maka aku berdoa kepada Tuhan agar kopi tetap memeluk pahitnya, puisi senantiasa menjahit sajak-sajaknya.

Demi penyatuan laki-laki dengan perempuan dalam pelukan, dan demi perpaduan aroma tembakau dengan gincumu melalui bibir cangkir kopi kita. Cintaku tetap utuh dalam peti mati yang ditenggelamkan di dasar kenangan.

Akankah aku dan kau adalah sepasang manusia gila yang pura-pura jatuh cinta? Atau cinta memang mengikat kita sehingga tampil selalu berpura-pura?

Aku bingung dalam kebingungan yang kesekian kali. Seperti hamba-hamba Tuhan yang kebingungan mencari jalan benar lalu memilih jadi atheis.

Tetapi atheis tak memiliki sandaran dan kehilangan pengharapan terakhir, sementara aku ingin hidup dengan obsesi yang berkelanjutan bahkan lama setelah aku mati.