Saat ini Indonesia sedang berduka. Warga Aceh terkena gempa 6,5 skalarichter. Tetapi, rasanya berita duka tersebut hanya ditelan mentah-mentah oleh sebagian masyarakat, karena saat bencana tersebut terjadi, muncul berita adanya pembubaran KKR Natal di Sabuga, Bandung oleh kelompok ormas PAS (Pembela Ahlus Sunnah).

Pengguna akun di media sosial, seperti Twitter, Ask.fm, dan Facebook kebanyakan lebih menyuarakan kekecewaan mereka tentang pembubaran KKR Natal itu sendiri daripada berdiskusi sehat tentang apa yang terjadi pada warga Aceh. No symphaty. No empathy. Setiap dari mereka membenarkan pengetahuan agamanya kepada masing-masing rival.

#RIPHUMANITY. Hanya itu tanggapan saya ketika melihat riuhnya intoleransi yang terjadi di masyarakat kita. Yang lebih menyebalkan lagi, berita pembubaran KKR Natal ini dikait-kaitkan dengan aksi demo 212 yang terjadi beberapa hari lalu. Sebenarnya, masalahnya ada di kesalahpahaman panitia yang waktu itu tidak berkoordinasi dengan pihak aparat dan pihak setempat jika ada tambahan acara.

Pihak setempat mengizinkan acara berlangsung dari pukul 13.00-16.00 dan berhasil, seperti kata Pak Ridwan Kamil jika membaca klarifikasi yang terjadi di Instagramnya. Tidak ada yang salah sepihak, keduanya salah.

Di satu sisi, panitia salah tidak melakukan koordinasi ulang dengan aparat dan setempat dalam penambahan jam acara. Di lain pihak, ormas tersebut tidak mengerti aturan tentang berdiskusi yang baik dalam pembubaran KKR Natal tersebut. Meskipun pada akhirnya terjadi kesepakatan bersama antara kedua belah pihak.

Tetapi rasanya, klarifikasi yang dibuat oleh Pak Ridwan Kamil sendiri, sudah membuat masyarakat minoritas muak. Saya tidak tahu, opini yang saya ungkapkan ini relevan atau tidak, yang jelas masyarakat Indonesia saat ini menjadi sangat-sangat sensitif terhadap masalah SARA semenjak kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok.

Entahlah ... karena kasus penistaan agama terjadi di mana-mana dan semuanya selalu dihubungkan dengan kasus yang menimpa Ahok sekarang. Semua berkoar-koar menyalahkan apa yang dilakukan rivalnya tentang agama yang dianut, sampai lupa bahwa saudara kita, warga Aceh membutuhkan uluran tangan kita.

Sibuk mempermasalahkan tentang perbedaan yang memang akan selalu menjadi bahan perdebatan karena memang ketika berbeda bukan berarti tidak mencapai tujuan yang sama kan? Mungkin benar kalau ada yang mengatakan bahwa akar dari permasalahan ini adalah sebenarnya tentang pendidikan.

Secara teoretis kita diajarkan tentang untuk menghargai agama lain, tetapi pada praktiknya guru pun mostly orang yang fanatik terhadap agamanya sehingga dalam mengajarpun terselipkan ajaran-ajaran doktrin agama di bidang yang dia ajar.

Saya mau mengambil contoh yang saya alami sendiri. Sebut saja dia guru besar. Dia mengajar di bidang bahasa inggris. Dia adalah sosok guru yang pribadinya sangatlah taat Islam. Poin humornya adalah, dia sangat tidak toleran kepada murid yang beragama selain islam. Nilai yang diberikan oleh guru tersebut sangatlah tidak adil. Kalau sekarang mau berdebat, tentang apa sih yang salah dari pendidikan kita? Karakter.

Apa lagi yang salah? Ini yang ingin saya tanyakan sebenarnya, mengapa sekolah yang ada di Indonesia hanya mengajarkan satu agama saja? Di sekolah negeri, kita belajar tentang agama islam. Karena kebanyakan dari kita merupakan umat muslim. Lalu yang minoritas, seperti agama nasrani dipisahkan sendiri kelasnya lalu dibuatkan jadwal sendiri untuk belajar agama yang mereka anut. Lalu, yang beragama Buddha dan Hindu bagaimana?

Ini terjadi dalam hidup saya. Saat saya SMP, saya memiliki teman beragama Hindu. Yang menyedihkan, di sekolah kami waktu itu, tidak ada guru agama Hindu. Akhirnya, ketika pelajaran agama Islam berlangsung, teman saya ini pergi ke perpustakaan. Bagaimana dengan nilai agamanya yang di rapor? Ya, tentu tahu sendiri bagaimana ketika nilai siswa kurang, bagaimana guru mencoba memanipulasi agar nilainya terangkat.

Miris ya? Agama menjadi doktrin banyak orang karena dianggap sebagai pedoman hidup sampai lupa bahwa banyak sekali yang beragama tapi tidak beriman pada Tuhan. Banyak yang tersesat di jalan hidupnya karena guru agama pun tidak memiliki karakter sendiri. membuat penafsiran Alquran atau Alkitab, menjadikan dirinya nabi yang maha mengetahui untuk memberikan dosis doktrin yang sebenarnya diluar dari ajaran.

Tetapi rasanya, jika sudah membicarakan pembenahan karakter akan susah rasanya, jika sekarang sudah banyak sekali orang yang memiliki kesalahan dalam berlogika ketika dewasa. Sudah terlalu banyak orang yang salah dalam berlogika, jika harus membenahi dari awal untuk memulai rasanya sudah terlambat. Buat saya sudah terlambat.

Sempat tebersit di pikiran saya, rasanya saya malu pada ateis. Mereka yang tidak percaya Tuhan, tidak perlu membela Tuhan dengan segitu meriahnya seperti yang masyarakat kita lakukan saat ini. Malu melihat ateis yang hidupnya tenang-tenang saja dan memiliki toleransi tinggi terhadap umat beragama lain.

Malah kita yang beragama sibuk menyalahkan sikap dan jalan pikiran dari masing-masing rival, dan menyalahkan mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Seakan-akan kita adalah utusan Tuhan yang menyayangkan ketidakpercayaan mereka pada Tuhan.

Para ateis sibuk menjaga toleransi, kita sibuk membela diri. Kita sibuk membela Tuhan, padahal Tuhan tidak perlu dibela. Kita sibuk untuk mencari kebenaran dari sejarah agama kita, ateis sibuk dengan sikap produktif yang dilakukan di hidupnya untuk masa depan mereka. malu sebenarnya, punya label agama A, B, C tetapi kelakuannya seperti binatang jalang yang tidak memiliki Tuhan.

Kita sibuk menyalahkan tradisi agama lain, lupa bahwa ada saudara kita butuh kepedulian kita.

Kita seperti lebih ateis daripada mereka yang kita kenal tidak percaya pada Tuhan. Yang lebih parahnya, kita percaya Tuhan tetapi kita tidak menunjukkan hal tersebut. Pemerkosaan terjadi di mana-mana, penafsiran Alquran dan Alkitab yang salah, kekerasan terjadi di mana-mana mengatasnamakan agama, penghinaan kepada Tuhan dengan membakar Alquran ataupun Alkitab, dan masih banyak penghinaan yang lainnya. 

Pertanyaannya, sekarang siapa yang lebih ateis? Kita yang beragama atau mereka yang penganut ateis itu sendiri?