2 tahun lalu · 137 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 30679.jpg

Kita Tak Boleh Takut!

Darrr..!! Bom meledak di Kampung Melayu, Jakarta. Belasan orang ambruk, luka dan lalu mati. Aparat kepolisian juga warga sipil terseret jadi korban. Keganasan benar-benar lahirkan duka terdalam. #PrayforIndonesia.

Tentu, tragedi ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Meski orang mengenal negeri kita sebagai lumbung keharmonisan, tetapi aksi perpecahan kerap membantahnya bertubi-tubi. Indonesia tak aman. Darurat terorisme di mana-mana.

Ketika yang satu belum juga usai, yang lain berbondong-bondong ikut menyusul. Duka dibiarkan menganga. Kedamaian benar-benar tak dibolehkan bersua. Cemas, khawatir, rasa itu terus dijaga. Tak boleh redam membisu.

Sungguh, akal tak bisa nyambung di mana hidup manusia tak lagi dianggap mulia ketika membunuhnya sebagai keharusan. Hidup dipermainkan, nyawa dipertaruhkan. Sesederhana itu. Banal!

Kesadaran itu patut. Ini bukan perkara etis atau tidaknya, tapi ini perkara asasi. Coba tanyakan, siapa pula di antara kita yang mau mati berkalang tanah? Tak terkecuali para pelaku bom bunuh diri sendiri, bukan?

Saya yakin, para bomber itu tetap saja enggan. Seperti kita, tak ada di antara mereka yang tidak cinta hidup, bahkan sebesar cintanya pada sang kekasih, Tuhan.

Lalu mengapa mereka membunuh dengan cara yang tampak seolah berkorban diri? Bukankah mereka juga takut mati seperti kita? Ini yang tak bisa kita jawab.

Jika orang bertanya apa yang para pelaku teror hendak tuju melalui aksi brutalnya, maka tak ada jawaban tepat selain “menyebar ketakutan”. Semakin orang takut dengan aksi mematikan, semakin mereka (pelaku teror) merasa sukses dan kegirangan. Maka dengan cara apa lagi kita meredam selain menyeru “Jangan Takut!”, sampaikan bahwa “Kita Tidak Takut!”?

Miris memang mendengar berita-berita terorisme semacam ini. Di tengah upaya pemerintah untuk menggalang persatuan dan kedamaian, selalu saja ada pihak yang berusaha jadi aral. Segala cara mutlak dilakukan, termasuk menghilangkan hak hidup pada sesama, membunuh dan membunuh.

Apapun itu, satu hal yang mesti kita yakini, aksi bom bunuh diri sengaja ditebar untuk membuat kegaduhan. Bagi mereka, para teroris, Indonesia tak boleh damai. Indonesia hancur, masyarakatnya resah, saling curiga, itulah tujuan utamanya.

Untuk itu kita harus jeli memandang. Tak usah peduli bagaimana pemerintah melakukan penanganan. Tak usah bersibuk-diri untuk menghimbau aparat memberi penjagaan. Cukup yang harus mendapat porsi perhatian adalah cara kita sendiri dalam melakukan perlawanan.

Di mana-mana, aksi brutal berupa bom bunuh diri hanyalah bermotif adu domba. Sekali lagi, semakin kita resah, terpancing dan terprovokasi, maka akal nalar kita tak mampu bekerja. Untuk sekadar berpikir membangun persatuan pun hampir tidak. Pada titik inilah sukses tujuan mereka terdulang.

Sudah. Jangan tangisi mereka yang mati, tapi tangisi mengapa itu bisa terjadi. Toh semuanya bersumber dari kesalahan kita sendiri. Kita tak mampu menjaga rasa damai dan kerukunan di saat dan sebelum momentum itu tiba. Kita justru ikut mendukung akar-akar terorisme untuk kemudian jadi nyata.

Lihat saja ketika ada orang yang menyebar kebencian di masjid-masjid misalnya, teriak bunuh-bunuh di jalan, menyeru hate speech di media sosial, apa yang kita lakukan? Melotot saja. Tak ada respons. Kita memilih diam, hampir tak pernah peduli karena merasa bukan kedirian kita yang diusik.

Anehnya, pasca hal-hal semacam ini terjadi, kita hanya mampu menyalahkan pelakunya. Alih-alih membendung mereka, pemerintah justru kita sasar pula jadi pihak yang bersalah. Tak becus jaga kedamaian lah, mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas lah, sementara kita sendiri hanya bisa berbusa.

Cukup. Stop upaya salah-menyalahkan itu. Ini salah kita bersama. Yang kita inginkan hanya disuap orang lain, sementara kita sendiri tak mengupayakannya untuk orang lain. Hari ini mungkin orang lain yang kena getahnya, tapi esok, lusa, siapa yang tahu bahwa itu juga bisa terjadi pada diri kita?

Naasnya lagi, bukannya mengecam, mereka yang banal malah melihat tragedi ini sebagai pengalihan isu. Dengan atau tanpa data, mereka dengan gagah menampilkan itu sebagai kenyataan. Dibilangnya sebagai hal yang lumrah. Memalukan!

Lalu, langkah yang seperti apa yang harus kita usung dalam hal ini? Pertama, Jangan tebar foto-foto korban di media sosial. Meski niat kita sebenarnya meluaskan informasi, tapi itu justru mendulang sukses mereka. Ketakutan menggema. Kebahagiaan di pihak mereka. Itu kah yang kita harapkan?

Kedua, sikap berani bukan sok berani. Kita harus berani menyatakan sikap untuk anti pada terorisme, sembari berani menangkal pembuaian akar-akarnya di lingkungan dekat kita sendiri.

Ya, kita memang harus mendukung penuh upaya pemerintah. Bukan sekadar menghimbau pemerintah untuk menghadapi serangan teror tentunya, tapi sikap itu harus kita tunjukkan dengan berlaku demikian juga. Di mana kita dengar seruan teror menggema, di sana kita harus memberi respons.

Bantah saja ketika penceramah menyebar hal-hal semacam itu di masjid-masjid. Patahkan saja seruan dosen tentang itu ketika berusaha menggemakan di kelas-kelas kampus. Orangtua di rumah, guru di sekolah, ketika tindakan mereka terindikasi mengarah ke sana, maka tak ada sikap selain melawan. Itu bukan dosa, justru berganjar pahala.

Ketiga, sebar pesan perdamaian. Kita harus sadar bahwa media sosial bukan lagi sekadar media bercurhat-diri. Enyahkan rasa malu untuk berkampanye tentang ini. Walau rekan sedunia maya akan melihatnya sebagai hal yang lebay, biarkan saja, pede saja. Mereka hanya tak tahu.

Terakhir, tanamkan sikap bahwa “Kita Tidak Takut!”. Itu yang utama. Gaya hidup ini yang harus kita gemakan di mana-mana.

Artikel Terkait