Penikmat kopi
1 tahun lalu · 203 view · 6 min baca · Agama 78704_12613.jpg
Habadaily.com/suasana hari pasca di Aceh

Kita Semua 'LGBT'

Manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia super hebat atau sebaliknya. Realitas itulah yang menjadikan kita hidup saling berdampingan, tolong menolong, dan toleransi atas perbedaan. 

Bila ada yang merasa paling hebat, paling lemah, sesungguhnya itu hanya sangkaan pribadi manusia tersebut.

Seorang Nabi sekalipun kecuali Adam, membutuhkan orang lain dalam prosesnya menjadi manusia dewasa. Minimal seorang ibu yang menyusui, memberinya makan dan minum hingga melatihnya berjalan. 

Dengan segala kelemahannya, entah mengapa setelah dewasa manusia merasa paling benar, paling berkuasa, paling berhak atas nasib orang lain, serta paling lainnya, intinya ingin superior dibanding orang lain.

Selain kekurangan dan kelemahan, manusia dianugerahi kelebihan dan kekuatan. Karenanya dilarang keras merasa tidak pantas, tidak mungkin, dan tidak-tidak lainnya yang intinya rendah diri sekaligus merendahkan diri sendiri. 

Padahal semua manusia itu sama, sama-sama belagunya, sama ada bodoh dan pintarnya. Sangkaan manusia yang membedakan manusia satu sama lainnya.

Pada dasarnya antara manusia yang satu dengan yang lainnya hanya beda tipis. Secara organ fisik antara lelaki dan perempuan bahkan hanya beda tipis. Hanya beda bentuk dan ukuran saja, konon lagi bila kita bandingkan antara sesama jenis, baik itu laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.

Secara pemikiran pun pada dasarnya tak jauh beda, hanya arogansi kita yang membesar-besarkan. Dalam kasus ini kita bisa mencontoh 4 imam besar dalam Islam yang kemudian lahirlah 4 mazhab.

Mereka paham akan perbedaan, mereka tidak pernah saling menuding atau merasa paling benar. Para pengikut mereka yang dikemudian hari saling hujat hanya karena beda paham.

Padahal pernah suatu hari ketika Imam Syafi’i didaulat sebagai imam shalat subuh, beliau tidak membaca Qunut subuh. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Malik. Sebaliknya ketika Imam Malik didaulat menjadi Imam shalat subuh, beliau membaca qunut subuh. 

Toleransi kedua tokoh berilmu ini ternyata tidak diikuti kedua pengikunya, soal qunut saja bisa mengakibatkan bentrok fisik. Persoalan beda fiqih yang subjektif malah merusak kewajiban yang objektif.

Di Indonesia sepertinya masyarakat Indonesia harus belajar dari rakyat Aceh. Meskipun Aceh melaksanakan syariat Islam namun umat beragama lain tidak pernah diganggu dalam melaksanakan ibadah. Ritual Jalan Salib, yang menceritakan tentang proses penyaliban dan penderitaan yang dialami Yesus, berlangsung khidmat dan tanpa gangguan, hal itu terjadi di Gereja Katolik Hati Kudus, Banda Aceh, Jumat (14/04/2017).

Islam yang damai dan rahmat bagi sekalian alam sudah pernah ditunjukkan rakyat Aceh. Menjadi aneh bila didaerah lain terjadi pemukulan terhadap pendeta maupun pengeboman gereja. Tentu saja patut diduga hal itu merupakan bentuk teror sekaligus pemecah umat beragama di Indonesia. 

Padahal kita semua 'LGBT' (Lue Gue Beda Tipis), tidak ada celah bagi kita untuk intoleran apalagi melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap orang lain yang berbeda suku, agama, maupun mazhab.

Apa yang terjadi aliran Ahmadiyah seharusnya tak terjadi di Indonesia. Aliran Ahmadiyah seharusnya menjadi tantangan atas apa yang selama kita percayai, dialog ilmiah secara kontinu tentu lebih menarik. Hal sama juga tak harus menimpa kelompok Islam liberal, lagi-lagi dialog lebih menarik dan menantang.

Merasa paling benar adalah awal hilangnya sikap toleransi, pada saat itu benih ekstrimisme pun muncul. Dalil-dalil pembenaran pun dikemukakan demi label kelompok paling benar.

Bila sudah demikian, usaha-usaha destruktif mulai muncul pula. Tuhan saja yang dengan mudah dapat memusnahkan orang-orang yang ingkar padaNya tidak melakukan pembunuhan. Namun manusia yang merasa diri paling superior malah bertindak melebihi Tuhan.

Keshalehan personal sejatinya akan teruji bila mampu shaleh secara sosial. Keshalehan pribadi akan memancarkan rahmat bagi sekalian alam, bukan hanya pada manusia bahkan terhadap hewan dan tumbuhan pun ia akan bermanfaat.

Mencerahkan mereka yang tersesat sekalipun kita dilarang menggunakan cara-cara binatang. Konon lagi terhadap mereka yang beda tipis pemahaman dengan kita. Kita lupa bahwa ada taqdir yang dibawa manusia sejak lahir, misalnya suku, warna kulit, dan etnis.

Terhadap perbedaan itu tak elok bila kita menghina, menganggap rendah, apalagi sampai membunuh. Melakukan kebaikan harus dilakukan dengan cara baik dan benar. Nabi Muhammad hadir ditengah perpecahan bangsa Arab yang ego kesukuan.

Kita juga dapat belajar dari sikap Nabi Musa terhadap Firaun. Musa tidak melakukan pembunuhan terhadap Firaun walaupun sebenarnya dapat melakukan itu. Apalagi Firaun mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan.

Dalam konteks Indonesia, dimana keragaman sudah menjadi modal berdirinya negara ini, tak elok ada kelompok yang menganggap diri paling benar. Cara humanis harus dikedepankan demi keutuhan negara ini.

Orang-orang yang berbeda dengan kita merupakan 'ladang'. Kita harus menanam berbagai pohon kebaikan bukan malah menanam kebencian. Menanam kebaikan akan berbuah kebaikan, baik bagi kita maupun orang lain termasuk bagi negeri kita.

Setiap kita mendengar nada kebencian, jangan langsung terprovokasi. Sebagaimana saya tuliskan diatas, kita beda tipis, jangan menganggap diri paling benar apalagi paling suci.

Kelompok intoleran kian tumbuh subur karena fanatisme, rakyat Indonesia sudah dapat membedakan mana benar dan baik, mana jahat dan salah. Keragaman sesungguhnya ujian bagi manusia, mereka yang mampu hidup diantara keragaman saja yang akan sukses dunia akhirat.

Sulit memang hidup diantara keberagaman bila sikap intoleran sudah mengakar. Apalagi para provokator merupakan orang-orang yang dianggap paling berilmu dan paling paham agama. Padahal orang berilmu seperti 4 imam besar malah tidak pernah saling bersinggungan.

Dalam perang antara umat Islam dan Nasrani dimasa yang lalu, para tawanan perang tidak disakiti apalagi dibunuh. Dalam situasi damai hari ini, dimana setiap kita sudah paham ada beragam paham dan agama di Indonesia harusnya kita lebih bijak.

Kita terkadang lebih benci mereka yang berbeda agama dibandingkan para pelaku korupsi. Belum keluar fatwa menghalalkan darah para pelaku korupsi namun fatwa halal darah terhadap yang beda pemahaman maling lebih sering.

Rumah-rumah ibadah yang harusnya menjadikan manusia sebagai manusia malah dijadikan pusat provokasi umat. Esensi beragama yang telah hilang mengakibatkan kita terjebak pada kulitnya.

Agama dijadikan "jualan" politik, saya ambil contoh pilkada Aceh. Para kontestan berlomba mendekati ulama demi mendapat suara dari awam. Pilkada didaerah lain pun tak kalah, isu agama berbeda, kalaupun seagama diisukan penganut syiah atau wahabi.

Isu-isu tersebut sangat laris, masyarakat yang enggan meneliti langsung percaya dan kebencian tumbuh walaupun pilkada telah selesai. Masyarakat pun terbelah, sanak saudara tak lagi saling sapa hanya karena beda pilihan pilkada.

Benarlah pandangan bahwa demokrasi hanya pantas diterapkan bila masyarakat menengah kebawah telah mapan pemahaman. Walaupun pendapat itu masih perlu diuji, apalagi bagi yang berpandangan hak azasi manusi itu sama.

Terlepas dari kedua pandangan demokrasi tersebut, dan kedua pandangan itu telah pernah dan sedang berlangsung. Kita pernah menerapkan demokrasi terpimpin dan parlementer, keduanya remuk. Dan sekarang kita sedang menerapkan demokrasi kerakyatan.

Kita tak bisa mundur lagi, yang perlu kita lakukan adalah melangkah kedepan. Memahami bahwa perbedaan itu ladang bagi kita, tanamlah kebaikan, kasih sayang, cinta, maka kebaikan, kasih sayang dan cinta akan kita nikmati pula.

Kita harus sadar bahwa ada pihak yang diuntungkan dengan perpecahan kita. Intoleransi merupakan "jualan" dari mereka yang berbisnis kebencian sebagaimana kelompok Saracen.

Tentu saja ada kelompok yang lebih canggih agar kita terus melihat perbedaan dan lupa kesamaan. Kita lupa bahwa kita adalah hamba yang lemah, kita senegara dalam satu wilayah. 

Harusnya negeri ini sudah selesai dengan persoalan agama yang berbeda, sudah selesai dengan kesukuan yang berbeda. Harusnya kita sudah melangkah maju, menghadapi kompetisi dengan negara-negara produsen alat-alat peradaban.

Kita semua tak ingin negeri ini tamat riwayatnya hanya karena pemaksaan akan pemahaman agama. Karenanya mereka intoleran harus menjadi musuh bersama, harus keluar dari negeri ini.

Segera tinggalkan forum dan majelis yang memprovokasi kita untuk berbuat intoleran. Siapapun dia bila telah memprovokasi untuk mengganggu orang lain yang tidak mengganggu harus dilawan.

Perlawanan juga tak perlu dengan kekerasan, laporkan saja pada pihak yang berwenang seperti kepolisian. Kalaupun dia tokoh yang kita kagumi, melaporkan provokator berarti kita tak ingin ada kerusakan yang lebih besar lagi termasuk kerusakan pada dirinya.

Melaporkan bentuk intoleransi juga bagian dari hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Kita juga tak ingin orang yang kita laporkan mengindap "penyakit" akut provokasi karena dibiarkan. Jangan tergoda provokasi murahan karena saya, anda dan mereka beda tipis.

Anak-anak kita harus sejak dini diajarkan toleransi, bahkan kurikulum sekolah pun harus memasukan nilai-nilai toleransi. Generasi kedepan harus lebih baik dari generasi hari.

Toleransi merupakan keharusan bagi negeri kita. Enggan toleransi berarti enggan hidup dinegeri ini, karena perbedaan sebuah keniscayaan. Kita berharap dari pemerintah pusat hingga pemerintah desa dapat bersama-sama mencegah bentuk intoleransi.

Kita juga berharap tokoh agama tidak menjadi penggagas intoleransi akan tetapi menjadi penggagas kerukunan hidup sesama umat beragama. Isi ceramah dan dakwah selalu mencerahkan jama'ah bukan memprovokasi. 

Menghadapi intoleransi dan ekstrisme merupakan kerja kolektif. Bukan hanya pemerintah, akademisi, politisi, namun semua pihak yang ingin Indonesia menjadi pemimpin negara-negara didunia. Indonesia akan menjadi teladan bagi negara lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita adalah 'LGBT (Lue Gue Beda Tipis).


Artikel Terkait