Sudah lama saya menahan diri untuk tidak ikut-ikutan mem-posting tulisan yang menyangkut tentang agama, terkait kasus Ahok dan Bela Islam. Karena saya tahu, hal itu hanya akan menyakiti perasaan para pendukungnya yang sekarang sedang ‘menikmati’ kekalahan di arena PILKADA yang baru lewat. {Seorang kawan menyebutnya ‘Menangis Terbahak-Bahak’. Tapi saya lebih suka menyebutnya ‘Tertawa Terisak-Isak’). Lebih dari itu saya tak ingin kehilangan teman teman saya yang kebetulan sangat mencintai Ahok. Karena saya pun menyayangi  mereka, apapun agamanya. 

Namun belakangan ini saya melihat, simpati kepada Ahok mengalir begitu derasnya baik di dunia nyata maupun social media. Tak hanya datang dari warga DKI saja melainkan juga dari luar DKI. Dan yang menarik, kebanyakan simpati itu berasal dari orang-orang yang berkeyakinan sama dengan Ahok, yang diposisikan sebagai korban yang tertindas. Seolah-olah telah terjadi pen-zaliman oleh kaum mayoritas terhadap minoritas. Alhasil, kasus ini pun praktis berpotensi menjadi penyebab disintegrasi kerukunan beragama yang terjadi akhir-akhir ini. 

Sebenarnya cukup bisa dimaklumi, bila suatu kaum bersimpati terhadap Ahok dikarenakan keimanan yang sama. Namun perlu diketahui, apa yang dilakukan Ahok sama sekali bukan membawa apalagi membela panji agamanya. Melainkan perilaku ceroboh yang dilakukan oleh satu individu demi kepentingan politiknya, yang kebetulan bersinggungan dengan satu agama. Bahwa ini kemudian dinilai direspon secara berlebihan, hal ini pun dapat dimaklumi karena agama yang terkena singgung adalah agama mayoritas di negeri Ahok (Ahok juga anak negeri lho!). 

Saya bersependapat dengan seorang kawan yang mengatakan bahwa aksi Bela Islam itu justru menguntungkan pemeluk agama lainnya, memberi warning kepada siapa saja untuk tidak mengusik agama manapun. Umat-umat lainnya pasti juga akan marah dan protes bila agamanya dinistakan. Dan kenyataannya, Aksi Bela Islam sama sekali bukan show of force untuk menakut-nakuti etnis maupun agama minoritas. 

Fakta di lapangan yang terjadi, pada aksi Bela Islam tahun lalu bertepatan dengan pernikahan sepasang pengantin yang pemberkatannya dilakukan di Gereja Katedral yang letaknya tak jauh dari pusat aksi. Menurut AA Gym, massa aksi tersebut malah memberikan jalan seluas-luasnya kepada iring-iringan pengantin. Tak sedikitpun mereka meneriaki apalagi memaki-maki sang pengantin. Bahkan beberapa bule bebas berselfie ria dengan para pendemo sambil tersenyum. Bukankah ini menunjukkan bahwa mereka sangat obyektif dan tetap menjunjung tinggi makna toleransi? 

Militansi yang mereka tunjukkan adalah hal-hal wajar mengingat hal yang sedang disentuh adalah masalah yang sangat sensitit; FIrman Tuhan, yang menurut saya kaum mayoritas manapun akan melakukan hal yang sama. Lantas muncul lagi isu baru, di mana sebutan kafir mendadak membuat gerah sebagian mereka yang Non Muslim. Padahal kafir sendiri merupakan kata serapan dari Bahasa Arab yang berarti Orang yang menyembunyikan dan mengingkari atau dapat kita sederhanakan menjadi ingkar. Labelnya diperuntukkan untuk mereka yang menolak ajaran Al Quran. 

Bahkan bila diperluas, kata Kafir sendiri masih terbagi lagi atas beberapa yang kalau dijelaskan akan menjadi panjang. Agak aneh bila WNI yang bekerja di luar negeri menolak disebut TKI. Itu sama halnya mereka tidak mengakui kebangsaan mereka sendiri. Karena konteks dari istillah ‘kafir’ tidak sama dengan istilah ‘moslem’ di Amerika Serikat atau  ‘Indon’ di Malaysia yang memang ditujukan untuk melecehkan. Jadi jelas sudah, penyebutan ‘kafir’  tak perlu lagi menjadi sumber permusuhan. Karena umat Islam pun adalah kafir di mata para pemeluk agama lain. 

Sudah barang tentu umat Islam mengingkari  ajaran Kristen begitu juga sebaliknya. Umat Nasrani tak perlu marah dengan sebuah terminologi yang digunakan agama lain seperti halnya manusia beragama  Islam yang takperlu marah disebut sebagai Domba Yang  Tersesat. Setiap keyakinan memiliki ranah yang tak boleh dicampuri apalagi dinistakan orang lain. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (Lakum Dinukum Waliyadiin QS Al Kafiirun Ayat 6)

Mari kita berdiri di wilayah masing masing sambil tetap mengedepankan Toleransi Beragama. Karena Toleransi bukanlah mengecilkan volume suara loudspeaker masjid atau mengganti lonceng gereja dengan ukuran yang lebih kecil agar suaranya tak mengganggu umat yang lain. Melainkan toleransi adalah wajah kita yang tetap tersenyum sekalipun kita enggan mendengarnya. 

Lebih jauh lagi, toleransi bukanlah saling mengucapkan selamat ketika Hari Raya berlangsung, melainkan (juga) saling menjaga lisan dan tulisan agar tidak melukai perasaan umat lain seperti yang baru saja dilakukan salah seorang anak negeri. Karena negeri kita terlalu indah untuk dikotori dengan sampah sampah intoleransi. Karena persatuan kita terlalu mahal untuk hanya dijadikan kemasan. Mari membuka mata dan memahami. Memahami bahwa agama dan politik adalah dua hal yang jauh berbeda. Yang satu menuntun jalan hidup kita, satunya lagi dapat menyesatkan kita.  Seperti domba, eh unta, eh panda yang tak tahu jalan keluar karena pandangannya terhalang banyaknya karangan bunga di depannya.