Polemik ceramah Rizieq Shihab sepertinya belum akan memperlihatkan tanda-tanda segera mereda. Pelaporan yang dilakukan oleh PMKRI ( Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia)  karena dianggap telah menistakan agama Kristen cukup membuat banyak pihak tersentak.

Termasuk di kalangan Kristen dan Katolik, yang juga ikut terbelah dalam menyikapi tindakan yang dilakukan oleh PMKRI, tentang perlu tidaknya pelaporan kepada polisi itu dilakukan.

Saya tersentak bahwa ternyata, siapa pun bisa dilaporkan ketika seseorang diduga telah melakukan penistaan. Tidak peduli yang bersangkutan agamanya apa, dan yang dinistakannya agama yang mana, yang telah diakui di NKRI.

Substansi pelaporan Rizieq Shihab oleh PMKRI sepertinya lebih pada uji coba terhadap hukum dan aparatnya, apakah bisa berlaku adil untuk semua pihak. Juga untuk mengetahui sejauh mana sebenarnya hukum itu bisa diandalkan dan masih tetap menjadi  panglima di negeri ini. Atau sebaliknya, hukum bisa kalah oleh tekanan massa.

Ceramah Rizieq Shihab, sebagaimana yang ramai diperbincangkan di media sosial, sepertinya mencoba menyinggung dasar keimanan umat Kristen. Namun, yang ia sampaikan sebenarnya jauh dari apa yang diimani oleh umat Kristen sendiri tentang Tuhan dan "Tuhan beranak."

Ceramahnya tersebut lumayan mendapat tanggapan. Bukan hanya dari umat Kristen (baik yang mencela Rizieq maupun yang berapologi), tapi juga dari saudara Muslim. Banyak dari kalangan Muslim yang tidak setuju dengan materi ceramah Rizieq Shihab.

Bila dicermati dari aspek Biblis maupun teologis, materi yang disampaikannya tentang "Tuhan beranak" itu tentu keliru dengan apa yang diyakini oleh Umat Kristen. Selain itu, ia juga  tidak memikirkan dampak dari ceramahnya yang sangat bisa menyebabkan persepsi audiens terhadap keyakinan umat Kristen ikut keliru, karena didasarkan pada informasi dan juga pemahaman yang keliru pula. 

Tentu, tidak ada umat Kristen yang mengamini bahwa Tuhan itu "beranak" melalui hubungan biologis layaknya antara pria dan wanita. Sebagaimana konteks ceramah Rizieq yang juga ikut menyinggung bidan, dan tidak kurang membuat pendengarnya ikut tertawa terbahak-bahak. Terkesan umat Kristen itu konyol, sehingga layak untuk diolok-olok.

Ceramah Habib Rizieq tersebut tidak kurang, namun akhirnya membuka tabir yang selama ini tertutup, yang mana telah menyebabkan pemahaman banyak saudara Muslim tentang Yesus sebagai Anak Allah yang diimani umat Kristen juga keliru.

Apalagi dengan anggapan bahwa Yesus terlahir dari hubungan biologis antara Allah dan Maryam. Dan juga tuduhan yang terus digemakan bahwa Yesus yang adalah manusia yang kemudian dijadikan Tuhan oleh umat Kristen berdasarkan ajaran rasul Paulus.

Umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang  mengambil rupa dan telah menjadi manusia di dalam diri Yesus. Oleh Roh Kudus, Yesus dikandung dan terlahir dari rahim Maria. Dengan demikian, Yesus bukanlah manusia yang diangkat menjadi Tuhan melaui voting, seperti yang selama ini telah disalahpahami oleh (sebagian) umat Muslim. 

Jadi, umat Kristen tidak pernah mengimani bahwa Tuhan itu beranak. Juga keliru bila beranggapan bahwa Tuhannya umat Kristen itu ada tiga, yakni: Allah, Yesus, dan Maria. 

Demikian juga dengan tantangan yang seringkali ditujukan kepada umat Kristen untuk menunjukkan ayat Alkitab di mana Yesus menyebut diri-Nya adalah Tuhan. Tantangan tersebut tentulah berangkat dari pemahaman yang keliru bahwa Tuhannya umat Kristen itu ada tiga, serta upaya mempertentangkan kemanusiaan dan keilahian Yesus.

Entah kenapa kekeliruan ini terus menerus diturunkan dari generasi ke generasi. Padahal, umat Kristen tidak mengimaninya demikian. Namun, ada banyak orang seakan-akan lebih mengerti apa yang diyakini oleh umat lain, dan tanpa merasa bersalah begitu leluasa menyuarakan klaim atau pemahamannya yang salah tersebut untuk dipercaya oleh umat.

Benar, bahwa hal tersebut disampaikannya untuk kalangan sendiri. Namun, apakah menyampaikan informasi yang salah untuk kalangan sendiri itu dibenarkan? Bukankah itu serupa dengan fitnah dan pembohongan? Bagaimana dengan hadirin yang mendengar, bukankah mereka akhirnya ikut sesat paham akibat mendapat pemahaman yang salah?

Dan juga, dalam pasal-pasal penistaan agama, tidak ada ketentuan bahwa untuk kalangan sendiri maka hal tersebut boleh dilakukan. Dengan demikian, keliru bila menyebut ceramah tersebut tidak masuk kategori penistaan karena ditujukan hanya untuk kalangan sendiri.

                                                       ***

Saya tidak bermaksud untuk membenarkan atau setuju dengan tindakan Rizieq Shihab. Namun, ada kalanya lewat kekeliruan atau kesalahanlah maka kebenaran akhirnya bisa terungkap.

Andai tidak dilaporkan oleh PMKRI dan berurusan dengan hukum, tentulah ceramah Rizieq Shihab tidak akan menjadi topik pembicaraan di dunia maya dan juga dunia nyata. Siapa yang akan mempedulikannya? Toh sebelumnya juga ada banyak hal serupa yang dialamatkan kepada umat Kristen.

Dan entah kenapa pula, hampir tidak ada umat Kristen yang menanggapinya dengan serius. Misalnya dengan melakukan demo besar dan pengrusakan, atau paling tidak melaporkannya ke aparat penegak hukum.

Situasi inilah sebenarnya yang menjadi salah satu penyebab sangat tergganggunya keharmonisan hubungan antarumat beragama di Indonesia, terutama antara saudara Muslim dengan Kristen, walau tidak semua tentunya.

Meski disesalkan, ceramah Rizieq Shihab setidaknya menjadi pemantik kesadaran umat beragama untuk tidak lagi menelan mentah-mentah semua yang disampaikan oleh penceramah agama, sekalipun oleh ulama yang cukup dikenal.

Ceramah Rizieq Shihab disertai pelaporan oleh PMKRI setidaknya menyadarkan umat bahwa masukan yang selama ini mereka terima (mengenai Tuhannya umat Kristen) ternyata tidak benar.

Bahkan, sangat mungkin akan lahir kesadaran untuk tidak lagi menghakimi keyakinan umat lain berdasarkan pemahaman sepihak, tanpa kemauan untuk mencoba mencari tahu dan memahami dengan baik, apa yang sebenarnya mereka imani dan yakini. Dalam konteks ceramah Rizieq Shihab, yakni tentang ketuhanan Yesus dan penyebutan Yesus sebagai Anak Allah.

Dengan demikian, tidak berlebihan bila kita perlu berterima kasih kepada Rizieq Shihab atas ceramahnya. Apapun yang menjadi motif dan maksud yang bersangkutan, pada akhirnya publik ikut tercerahkan dengan polemik dan perdebatan yang timbul. Dan juga untuk PMKRI tentunya, atas tindakannya yang telah melaporkan Rizieq Shihab ke polisi sehingga kasus ini terangkat.

Jika tidak, keliru paham tentang Tuhannya umat Kristen akan terus terpelihara. Dan tentu, hal ini bukan hanya merugikan umat Kristen, mereka yang telah keliru memahaminya juga sangat dirugikan. Sebab, mereka berangkat dari sumber yang salah dan pada akhirnya menimbulkan persepsi yang keliru tentang saudara sebangsa mereka yang beragama Kristen.

Untuk tujuan kebaikan, saya pikir tidak salah bila kita mengucapkan terima kasih kepada Rizieq Shihab. Juga untuk PMKRI tentunya, walaupun saya tahu bahwa mereka tidak mengharapkan itu.