Self esteem atau biasa dikenal dengan harga diri tentu tidak asing lagi kita dengar di lingkungan masyarakat. Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar “Aku nggak percaya diri nih kalo pake baju atau sepatu merk x nanti dipandang rendah sama orang lain” atau “Aku diselingkuhi pacar berasa nggak ada harga dirinya kalau sampai orang lain tahu”, dan masih banyak kalimat yang kerap kita dengar di lingkungan sekitar mengenai self esteem ini.

Lalu, sebenarnya apa sih self esteem itu? Yoon Hong Gyun dalam bukunya yang berjudul How to Respect Myself mengatakan bahwa self esteem adalah penilaian individu terhadap diri sendiri. Bagaimana kita memandang diri sendiri dalam level tinggi atau rendah.

Kita memiliki pandangan tersendiri mengenai makna harga diri. Dalam masyarakat kita akan dihargai ketika memiliki pekerjaan yang terpandang, memiliki pangkat, dan lebih unggul dari yang lain. Perasaan dihargai tersebut membuat kita merasa bangga dan percaya diri sehingga kita merasa memiliki harga diri yang tinggi. 

Sebagai contoh, anak SMA yang diterima di kampus ternama dengan jurusan yang diimpikan oleh kebanyakan orang cenderung merasa bangga. Perasaan memiliki harga diri yang tinggi pun muncul dalam dirinya. 

Sebaliknya, kita akan merasa harga diri rendah ketika semua hal yang kita impikan tidak tercapai. Pemikiran bahwa orang lain akan membicarakan dan meremehkan kita terus menghantui sehingga kita akan merasa malu dan tidak percaya diri tampil di depan umum. 

Begitulah lingkaran setan dalam diri dimulai, ketika semua yang kita lakukan akan terfokus hanya pada penilaian orang lain. Seolah-olah hidup kita akan terus diatur dari penilaian orang lain, yang pada akhirnya menyebabkan kita selalu membutuhkan validasi dari orang lain.

Kesalahpahaman tentang Self Esteem

Kesalahpahaman mengenai self esteem kerap terjadi akibat kekacauan konsep. Lalu, sebenarnya apa saja kesalahpahaman yang paling umum dari self esteem

Pertama, menurut Yoon Hong Gyun pemikiran bahwa harga diri berasal dari orang tua. telah menjadi kesalahpahaman yang paling umum. Walaupun, self esteem tidak murni akibat pengaruh dari orang tua, tetapi metode pengasuhan dari orang tua yakni perlakuan orang tua terhadap kita menjadi hal yang sangat penting. 

Ketika kita terbiasa mendapat pujian dari orang tua akan keberhasilan yang diraih, kita merasa harga diri kita tinggi. Namun, ketika kita tidak mendapat pujian tersebut kita akan  merasa rendah diri hingga haus terhadap pujian akan menjadi obsesi yang selamanya kita cari demi memuaskan perasaan tersebut.

Kedua, rendah diri karena kurang pujian. Ketika tidak ada orang yang memuji kita atas segala pencapaian dan penampilan yang kita miliki lantas hal itu membuat hidup kita terasa hambar hingga akhirnya kita merasa rendah diri tanpa adanya pengakuan dari orang lain. Pujian dari orang lain hanya akan mengantarkan kita pada obsesi. Seolah-olah apa yang kita lakukan perlu pengakuan dari orang lain. 

Padahal pujian tidak selamanya baik. Pujian yang berlebihan, bahkan pujian yang salah bisa menimbulkan hasrat dan ilusi tentang pujian yang akan mendatangkan rasa malu di kemudian hari.

Ketiga, harga diri jaminan bahagia. Menurut Yoon Hong Gyun self esteem atau harga diri bukanlah emosi, hanya terkait dengan emosi lebih tepatnya berada di ranah akal. 

Saat kita merasa harga diri kita pulih, kita tidak lantas merasa seperti berjalan di tempat yang dikelilingi bunga dengan perasaan yang meletup-letup layaknya kembang api. Kita hanya menjadi lebih percaya diri, lebih berani, dan tidak bereaksi sensitif terhadap penilaian orang lain mengenai diri kita.

Solusi

Bagaimana cara agar kita tidak menganggap bahwa harga diri akan tinggi atau rendah hanya karena penilaian dari orang lain? Apa saja solusinya? yuk kita bahas.

  1. Menerima, memaafkan, dan melanjutkan

Pertama menerima, kita semua tentu memiliki masa lalu yang berbeda. Tidak jarang karena masa lalu itulah yang membentuk diri kita sekarang, ada yang pernah di-bully karena penampilan dan direndahkan karena tidak berhasil mendapatkan pencapaian seperti orang lain. Ya semua itu ada di masa lalu, semua itu telah terjadi dan yang bisa kita lakukan adalah menerima. 

Menerima bahwa kita merasa sedih, marah, dan semua emosi negatif yang kita rasakan. Menerima bahwa semua kejadian itu telah menimpa kita, dengan kita menerima maka setidaknya kita akan merasa tenang dan tidak terus menerus membebani pikiran kita.

Kedua memaafkan, tentu hal ini sering kita dengar dan kita ucapkan namun, kita tidak benar-benar memaafkan. Kita hanya mengucapkannya di mulut, tidak sungguh-sungguh memaafkan dari hati, perbuatan dan perkataan kita tidak selaras. Jika kita melakukan hal tersebut, sejujurnya kita telah membebani hati kita menjadi pendendam bahkan pembenci. 

Memaafkan yang baik bukan hanya untuk orang lain namun, juga untuk diri sendiri. Setidaknya dengan kita ikhlas maka kita akan merasa tenang, karena tidak lagi memiliki rasa dendam dan benci yang menyiksa diri sendiri.

Ketiga melanjutkan, ada dua hal yang tidak bisa diubah yaitu waktu dan orang lain. Kita hanya harus fokus pada saat “kini dan di sini” dengan begitu kita tidak perlu memikirkan apa yang telah terjadi di masa lalu. Lanjutkan kehidupan kita sebagaimana mestinya, tidak perlu terus menerus menoleh ke belakang. 

Dengan kita melakukan hal tersebut, maka kita akan memahami bahwa setiap luka di masa lalu tidak akan mengganggu kita dalam hal menghargai diri sendiri.

  1. Belajar untuk mencintai diri sendiri

Mencintai diri sendiri artinya menerima diri kita apa adanya, menerima segala kekurangan yang ada pada diri sendiri dan tidak membandingkan dengan orang lain. Kita harus ingat bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna. Dengan kita belajar untuk mencintai diri sendiri maka kita tidak akan ragu untuk mengabaikan orang lain tentang diri kita. 

  1. Mengubah mindset dalam memandang harga diri

Kita tentu sudah membahas kesalahpahaman mengenai self esteem pada bagian awal. Nah, dengan kita memahami hal tersebut kita sudah satu langkah untuk mengubah mindset mengenai harga diri. 

Hal ini tentu tidak mudah untuk dilakukan, karena pada dasarnya mindset berkaitan dengan pola pikir yang sudah menjadi kebiasaan bagi diri sendiri. Namun, tidak ada yang tidak mungkin dengan kita menerapkan kebiasaan yang baik perlahan mindset kita mengenai harga diri yang sebenarnya akan berubah.

Harga diri yang tinggi atau rendah tidak berhubungan dengan penilaian orang lain karena sejatinya self esteem adalah tentang penilaian diri terhadap diri sendiri, kekacauan konsep dan kejadian di masa lalulah yang membuat kita berpikir bahwa harga diri yang tinggi atau rendah itu berdasarkan penilaian dari orang lain. 

Nah, itu dia pembahasan mengenai self esteem dan solusi yang bisa kita terapkan. Semoga uraian ini bisa berguna dan  bermanfaat untuk kita semua yang membaca.