Lingkaran terdiri dari diameter dan jari-jari yang bisa kita analogikan dalam kehidupan sehari-hari. Kita, kertas, dan plastik akan hanya menjadi sebuah diameter karena merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Sehingga, tak mungkin menjadi sebuah jari-jari yang akan berdiri sendiri.

Kita (manusia) adalah salah satu individu makhluk hidup yang membutuhkan hubungan terhadap pihak atau objek luar. Pihak yang dapat dikatakan sebagai individu lainnya yang membantu kita untuk bertahan hidup. Dan suatu objek yang menjadi perantara untuk keberlangsungan hidup kita.

Kertas dan plastik merupakan bagian dari objek tersebut, tanpa kita sadari selama ini. Kita memulai hidup dari sepasang orang yang mengikat janji di atas sebuah ikatan suci dan dibuktikan di atas sebuah kertas bernilai hukum. Bukankah hal itu membuktikan bahwa kita dan kertas memiliki hubungan, bahkan dari saat kita semua belum menapakkan kaki di bumi ini ? 

Begitu pun dengan plastik. Plastik membuat kita bertahan hidup hingga kini, walaupun memiliki arti secara tidak harfiah. Sebagai awal mula menapakkan kaki di bumi ini, plastik turut membantu hingga kita bisa berlari kencang melawan arah. 

Plastik menjadi perantara atau media agar berbagai suplai energi dari luar dapat masuk ke dalam tubuh kita (example : water bottle, plastic spoon, plastic bowl, plastic plate, and other). Karena faktanya, plastik menemani jalan hidup kita sepanjang waktu.

Dengan melihat fakta yang ada, seberapa kuatkah pengaruh kertas dan plastik di bumi yang kita pijak ini ? Kertas dan plastik selalu berikatan dengan kita, sehingga memiliki pengaruh yang kuat. Sedangkan pada bumi ini, terdapat banyak sekali individu makhluk hidup berakal seperti kita.

Banyaknya individu berakal tersebut, tentu kebutuhan akan kertas dan plastik di bumi akan seimbang bahkan saat ini sudah melebihi. Karena bagaimanapun juga, kertas dan plastik memiliki andil yang besar dalam mewujudkan kehidupan yang modern. Sehingga, jumlah yang tak terukur lagi mungkin akan menjadi sebuah fenomena besar yang kelak akan menanti.

Dengan banyaknya jumlah kertas dan plastik yang ada, masih sanggupkah bumi menampung semua itu ? Bumi menjadi dasar semua makhluk hidup bertahan hidup. Namun terkadang, penduduk bumi lupa terhadap keseimbangan yang harus diciptakan supaya bumi masih sanggup menampung kita. Kita sebagai individu pemberat dalam keseimbangan yang memiliki akal paling maju dibandingkan penduduk bumi lainnya. 

Lalu, masihkah kita bersombong diri dalam menghirup udara di bumi yang tak kan indah ini lagi ? Mari kita luangkan waktu untuk berpikir terhadap masalah kertas dan plastik yang berperan ganda dalam menciptakan kesatuan hidup dan penghancur keseimbangan. 

Karena pada dasarnya, setiap individu yang bernyawa akan bertahan hidup dengan menciptakan keseimbangan untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang jauh lebih baik. Atau justru, merusaknya ? 

Menelisik tentang Kertas dan Plastik yang Menjadi Bagian dalam Diameter Kehidupan 

Membahas keterkaitan kita dengan kertas dan plastik, tak lengkap rasanya jika tak membahas awal mula munculnya. Dalam sejarah, kertas pertama kali dipublikasikan pada zaman Mesir Kuno. Di mana, pada zaman tersebut kertas masih bernama papirus dikarenakan kertas terbuat dari tanaman berair. Berkembanglah peradaban ini hingga muncul konflik di mana sumber pembuatan papirus tersebut sangat mahal. 

Oleh karenanya, Ts’ai Lun atau Cai Lun, seorang pejabat tinggi di Tiongkok menemukan sebuah cara baru dalam pembuatan kertas. Yaitu, bersumber dari bambu. Di mana cara pembuatannya yang masih manual dan cukup menyulitkan. Namun, karena pada zaman tersebut kertas sangat dibutuhkan oleh banyak pihak sebagai media informasi atau bertukar pikiran, Ts’ai Lun memproduksi banyak sekali kertas hingga terkenal sampai penjuru dunia.

Selanjutnya, muncul pula peradaban baru mengenai cara dalam pembuatan kertas yang cukup efisien. Namun sayangnya, dalam pembuatan kertas ini masih tak luput dari sumber utamanya, yaitu serat pohon. Memasuki peradaban modern ini, tentu tak lepas dari peran kertas yang cukup disepelekan. 

Hingga muncul permasalahan di mana semakin majunya sebuah zaman, tentu akan diiringi oleh banyak penduduk. Ketika jumlah penduduk meningkat, tingkat kebutuhan akan kertas pun akan meningkat. Apabila tingkat kebutuhan kertas meningkat, perusahaan akan memproduksi jauh lebih banyak kertas. 

Kemudian, dititik inilah awal mula permasalahan muncul. Semakin kertas yang diproduksi meningkat, semakin banyak pula pohon di bumi ini yang akan digunakan. Pohon sebagai salah satu populasi makhluk hidup di bumi ini, memiliki fungsi menyeimbangkan. 

Jikalau kemudian jumlah pohon semakin berkurang hanya untuk pembuatan kertas, apakah adil untuk bumi ? Semakin berkurangnya pohon, memang akan membuat sebuah peradaban semakin maju. Namun mereka lupa, bahwa dalam sebuah kemajuan akan mudah lenyap jika tak memiliki keseimbangan. Apalagi, alam yang memegang kendali dalam hal ini.

Selanjutnya, plastik pertama kali muncul pada tahun 1862 yang diperkenalkan oleh Alexander Parkes. Awalnya, plastik dibuat melalui bahan organik yang bersumber dari selulosa. 

Kemudian, penemuan ini berkembang hingga tahun 1907 di mana Leo Baekeland, mengembangkan resin cair yang diberi nama bakelite. Material baru ini tidak terbakar, tidak meleleh dan tidak mencair di dalam larutan asam cuka. Dengan demikian, sekali bahan ini terbentuk, tidak akan bisa berubah. 

Pada tahun 1933, Ralph Wiley, seorang pekerja laboratorium di Perusahaan Kimia Dow, secara tidak sengaja menemukan plastik jenis lain yaitu polyvinylidene chloride atau populer dengan sebutan saran

Saran pertama kali digunakan untuk peralatan militer, namun belakangan diketahui bahwa bahan ini cocok digunakan sebagai pembungkus makanan. Saran dapat melekat di hampir setiap perabotan seperti mangkok, piring, panci, dan bahkan di lapisan saran itu sendiri. 

Kemudian, di tahun yang sama, dua orang ahli kimia organik bernama E.W. Fawcett dan R.O. Gibson yang bekerja di Imperial Chemical Industries Research Laboratory menemukan polyethylene. Temuan mereka ini mempunyai dampak yang amat besar bagi dunia dengan percobaan pertama dimulai saat Perang Dunia II, di mana bahan ini digunakan sebagai pelapis kabel bawah air dan isolasi untuk radar.

Memasuki peradaban yang baru ini, tentu penggunaan plastik tidak hanya dari segi yang simple tetapi sudah mencapai tahap yang multi function. Plastik menjadi bahan yang sangat sulit diurai, bahkan waktu penguraiannya bisa mencapai angka seribu tahun. Dengan jangka waktu yang lama tersebut serta semakin meningkatnya jumlah plastik, masihkah sebagian makhluk hidup di bumi bisa bertahan ?

Contoh kecilnya saja, di ekosistem laut, plastik sangat mengganggu keseimbangan piramida makanan oleh hewan ataupun tumbuhan laut. Saat ini, banyak sekali jumlah hewan dan tumbuhan di laut yang punah dikarenakan kehadiran plastik yang memenuhi laut. Plastik menjadi bahan yang sangat mematikan namun tak mudah dimusnahkan, bahkan oleh kita sendiri, para penggunanya. 

Masihkah Kita Peduli ? 

Jumlah kertas dan plastik yang beredar di bumi, suatu saat akan menyaingi jumlah seluruh makhluk hidup itu sendiri di bumi. Hingga kapan hal ini kita biarkan mengikis separuh jiwa bumi, tempat kita hidup. 

Kita, kertas, dan plastik merupakan satu kesatuan yang memang tidak bisa dipisahkan. Ketika tidak bisa dipisahkan, maka tidak mungkin akan dihilangkan, bukan ? 

Oleh karenya, marilah kita semua turut berkonstribusi secara nyata mencari cara yang jauh lebih efektif untuk meng-cover penggunaan kertas dan plastik dengan bahan yang jauh lebih aman bagi kita dan lingkungan. Hal ini dimaksudkan untuk kehidupan bumi agar jauh lebih baik. Entah itu untuk saat ini, ataupun kelak di masa yang akan datang.

Referensi: