Jean Baudrillard (1929-2007) adalah seorang pemikir yang mendefinisikan zamannya sebagai dunia yang dipenuhi dengan model-model ilusif. Lahirnya teknologi komunikasi supercanggih: televisi, radio, internet, dan lain sebagainya, memungkinkan realitas diobrak-abrik lalu ditutup dengan realitas yang tidak real: Hyper-reality .

Manusia era post-modern menurutnya lebih patuh terhadap realitas yang tersimulasikan oleh media, apa yang menjadi tontonan, sehingga masyarakat post-modern adalah masyarakat tontonan yang tergiur dengan apa yang dapat disimulasikan, simulakra.

Yang khas dari hiper-realitas adalah pergeseran semiotika, pengagungan penanda daripada penanda. Sistem komoditas juga kecipratan pergeseran semiotik ini. Dunia entertainment, teknologi media massa, dengan permainan semiotik, mengubah yang tak real menjadi real dan yang real menjadi tidak real.

Bahkan dapat dikatakan, dalam dunia yang sudah tersimulasikan oleh teknologi, yang tidak real kelihatan lebih real daripada realitas itu sendiri.

Kita lihat bagaimana praktik penganggungan penanda dalam dunia kita sekarang: Kata 'mobil' lebih penting daripada mobil itu sendiri. Maksudnya, dalam kata mobil membawa berbagai macam imajinasi tentang kemewahan, kesuksesan, kekayaan, kemegahan, gaya hidup, strata sosial, dan seterusnya. 

Mobil sebagai petanda atau sebagai benda transportasi itu sendiri tak begitu penting. Imajinasi dan citra tentang mobil atau penanda 'mobil' menjadi lebih penting dibanding nilai guna yang ada pada petanda. Makna yang dibangun oleh nama objek lebih penting daripada objek itu sendiri.

Pergeseran semiotik ini juga dipraktikkan dalam sistem komoditas. Nilai tukar tak ditentukan oleh nilai guna tapi ditentukan oleh nilai simbol. Orang membeli sesuatu bukan karena ia butuh dengan barang itu, tetapi karena simbol di balik barang itu membuat orang merasa wajib untuk membelinya.

"Saya membeli mobil BMW agar saya terlihat kaya dan sukses" itulah simbol yang orang kejar akibat permainan semiotik. Orang membeli mobil BMW bukan karena mobil memiliki kegunaan mempermudah melakukan perjalanan jarak jauh, tapi karena masyarakat akan menganggapnya sebagai orang kaya dan sukses.

Pengagungan nilai simbol tersebut bagi Baudrillard, membuat realitas diobrak-abrik. Manusia era post-modern menganggap simbol tersebut adalah yang real itu sendiri. Inilah penjajahan realitas semu atas realitas, inilah Hyper-Reality. 

Hiper-realitas lebih real dari realitas. Baudrillard mengatakan semua kesemua itu dengan jelas dapat dilihat dalam dunia entertainment dan teknologi media massa. Misal yang paling dekat, boneka Barbie, Disneyland, iklan dan tontonan publik.

Boneka Barbie, karakter perempuan berparas cantik, pintar, berkarier, bijaksana, menciptakan suatu realitas kultur yang berbeda. Baribie menjadi model ideal seorang perempuan. Boneka Barbie mengintimidasi secara laten bahwa sosok perempuan sempurna adalah sosok yang seperti dirinya.

Orang-orang membeli bonekanya, menonton film-filmnya, mengidolakan dirinya, seolah simbol yang ditawarkan di balik boneka Barbie adalah sesuatu yang real dan dapat dimanifestasikan dalam kenyataan. Barbie membuat standart semu bahwa perempuan yang ideal adalah seperti Barbie. 

Disneyland, penuh dengan karakter-karakter lucu nan menggemaskan. Tokoh dunia hiburan yang memanifestasikan dirinya seolah mereka real. Namun demikian orang-orang tetap menontonya, menikmatinya, tertawa terbahak-bahak, padahal mereka rekaan dan palsu. Orang-orang tenggelam dalam hyper-reality. 

Lebih-lebih iklan dan tontonan publik, membuat orang membangun realitas yang baru di dalam kepalanya. Iklan tentang produk kecantikan, menawarkan hiper-realitas bahwa kecantikkan adalah segala-galanya padahal kecantikan adalah konsep yang tidak stabil, relatif dan tidak mempunyai tolak ukur umum. 

Tontonan-tontonan publik seperti film, sinetron, dsb, juga melakukan simulasi terhadap setiap sudut kehidupan manusia yang dianggap ideal. Seolah menjadi orang baik adalah menjadi seperti tokoh protagonis seperti dalam sinetron, juga mendorong penontonnya menjadi tokoh protagonis dalam kehidupan realnya.

Semua yang hyper-real, diterjemahkan menjadi tontonan, disimulasikan, untuk membangun realitas yang baru. Lihat saja yang terjadi di Indonesia bagaimana pemilihan presiden bahkan dijadikan sebuah tontonan. Ada simulasi yang dibangun untuk memikat pemilih. Citra calon presiden dibangun dan disimulasikan seideal mungkin dengan kriteria yang diingkan pemilih.

Bagi Baudrillard simulasi dan realitas yang dilebih-lebihkan ini khas era pasca modern. Nilai-nilai simbol menguasai kenyataan dan bertindak seakan-akan ia adalah yang nyata itu sendiri.

Simbol-simbol ini tidak memiliki referensi dalam dunia faktual, bahkan sebaliknya, dunia faktual mengambil referensi dari hiper-realitas. Orang-orang justru bertindak dengan mendasarkan diri pada ilusi tentang keidealan, fantasi tentang kesempurnaan, delusi tentang apa yang dianggap baik oleh umum.

Bagi saya pandangan ini perlu ditinjau. Bukankah, hal ini bukanlah hal yang baru? Dari zaman manusia pertama kali memanfaatkan api dalam masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan pun, hyper-reality sudah menjadi acuan realitas. 

Masyarakat yang masih hidup dalam gua-gua adalah masyarakat yang mengandalkan mitos untuk bertindak. Mitos juga merupakan suatu hyper-reality. Mitos menceritakan cerita-cerita supranatural, bahwa di atas gunung ada para dewa, dunia diciptakan oleh sosok supranatural, hutan dihantui oleh iblis jahat, dsb.

Mitos disimulasikan lewat ritual. Masyarakat pemburu pengumpul melakukan ritual untuk memberi mereka keberanian ketika mereka keluar dari gua, agar tidak dimangsa monster binatang buas atau diganggu oleh hantu.

Bukankah agama juga menawarkan hal yang sama, bukankah surga dan neraka serupa hyper-realitas? Bukankah "Tuhan" adalah sosok hyper-real? Konsep-konsep dalam agama menjadi acuan untuk bertindak dalam dunia yang real, ia menjadi referensi untuk membangun dunia realitas.

Ia juga disimulasikan dalam ritual, menjadi tontonan ketika orang-orang beragama menyaksikan ritus-ritus dan terlibat di dalamnya. Manusia merupakan entitas yang tak dapat hidup tanpa referensi dalam dunia hyper-real. Ia butuh acuan, ia butuh patokan, meskipun patokannya ilusif.

Hyper-reality sudah menjadi real sejak era pra-teknologi. Manusia membutuhkan hal ini untuk mencari pegangan dan pembenaran tentang apa yang harus dilakukannya di dalam dunia, untuk menghadapi betapa hampa maknanya dunia. Ia harus menciptakan makna ilusif agar tak ditenggelamkan oleh lautan kenyataan nir-makna.

Ia membuat simulasi realitas dalam agama, negara, ideologi, dan kultur. Hyper-reality yang tersimulasikan dibutuhkan manusia agar ia tetap hidup.