Waktu itu, saya sedang asyik membaca berita di detik.com. Tak sengaja, tiba-tiba saya melihat dengan mata kepala sendiri sebuah judul berita yang bikin saya agak sedikit mengernyitkan dahi. Judul berita itu berbunyi begini, Tentang Bendera Hitam/Putih Bertuliskan Tauhid yang Dianggap Meresahkan. 

Sekilas, setelah membaca judul berita itu dalam hati, benak saya langsung terbang dan terbayang akan ormas HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), yang tak lama baru dibubarkan di negeri ini.

Menuruti rasa penasaraan yang kian membuncah, akhirnya saya langsung memantapkan hati untuk membaca langsung berita itu. Tak disangka, ternyata bendera yang dikibarkan adalah bendera HTI. 

Tak berhenti di situ, saya kemudian mencoba membaca berita itu hingga tuntas, lalu saya lanjutkan lagi dengan membaca berita lain yang masih berkaitan. Tujuannya jelas, supaya saya tahu duduk permasalahan yang sedang terjadi. 

Selidik punya selidik, ternyata itu adalah kerjaan anak-anak MAN 1 Sukabumi yang sedang mengadakan rekrutmen anggota kelompok ekstrakurikuler sekolah bernama Keluarga Remaja Islam Majelis Al-ikhlas atau Karisma. Nah, di situlah bendera bertuliskan Tauhid dikibarkan di halaman sekolah. 

Setelah berita ini viral di medsos, pihak sekolahan menegaskan bahwa murid-murdinya tidak tahu-menahu soal relasi bendera yang mereka kibarkan itu dengan HTI.

Seperti judulnya, tulisan ini tak akan membahas secara mendetail tentang pemberitaan itu, namun lebih kepada warganet yang ikut mengomentari tentang bendera yang bertuliskan Tauhid itu. 

Setelah tahu akar permasalahan kasus itu, saya jadi penasaran apa sih komentar warganet tentang bendera yang bertuliskan Tauhid itu. Akhirnya, saya langsung meluncur ke Instagaram. Dan apa yang terjadi? Tentu saja, komentar netizen bikin menggelitik.

Sejauh pengamatan saya, banyak netizen yang pro pada bendera yang bertuliskan Tauhid itu. Ada pula yang kontra, namun sedikit. 

Alasan mereka yang pro dengan bendera itu adalah bahwa bendera itu bertuliskan Tauhid, maka sah-sah saja mengibarkan bendera tauhid itu. Lagi pula, menurut mereka, Tauhid adalah lafaz suci, maka tak ada salahnya dikibarkan. 

Namun, tidak demikian bagi mereka yang kontra. Sebab bendera yang dikibarkan oleh anak-anak sekolah MAN 1 Sukabumi itu disinyalir sebagai bendera HTI, di mana ormas ini dikenal sebagai kelompok yang getol meneriakkan berdirinya negara khilafah di Indonesia.

Karenanya, berkaca pada beberapa negara yang melarang pergerakan Hizbut Tahrir, seperti di Jerman, Rusia, Cina, dan hampir semua negara Arab, termasuk Saudi Arabia, maka pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas untuk membubarkan ormas HTI yang dirasa cukup membahayakan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Lagi pula, HTI disinyalir bersekutu dengan kelompok  setamsil al-Qaeda dan ISIS yang jelas-jelas sebagai teroris. Dari sini, kita bisa memahami kenapa pemerintah Indonesia membubarkan mereka. Kalau kata orang, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Kita sepakat bahwa Tauhid adalah lafaz yang suci dan sakral. Namun, tak sedikit pula orang-orang yang memanfaatkan lafaz itu untuk kepentingan pribadi. 

Contoh paling gamblang, siapa yang tak mengenal ISIS? Pasti setiap kita tahu bagaimana rekam jejaknya. Mereka adalah teroris yang paling kejam, membunuh dengan cara yang amat sadis pada orang tak bersalah, bahkan menghancurkan rumah-rumah ibadah yang jelas-jelas sebagai tempat yang suci untuk beribadah pada Tuhan.

Yang disayangkan, bendera yang dipakai ISIS juga bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, yang mendapat penghormatan dan dijunjung tinggi oleh sebagian orang. Namun, perilaku ISIS tidak menggambarkan atas bendera yang mereka pakai. 

Dari ISIS, sebelum semuanya terlambat, sebelum rumah kita hancur, sebelum saudara kita tewas atau bahkan sebelum nyawa kita hilang, kita belajar dari sejarah bahwa jangan terlalu percaya pada simbol. Boleh jadi simbol itu suci, tapi kita tak pernah tahu rencana orang di balik kesucian Tauhid. Ada yang memainkan simbol suci itu.

Terkadang, kita memang terlalu sibuk pada simbol-simbol, bahkan mati-matian membela simbol-simbol itu. Namun kita lupa bahwa hakikat tauhid tak terletak pada bendera-bendera itu. 

Hakikat tauhid ada di dalam dasar hati kita, lalu berbuah menjadi perilaku-perilaku yang terpuji, yang membuat orang lain nyaman, dan yang terpenting, tingkah laku kita tak menjadi ancaman buat mereka.