Fresh Graduate
1 bulan lalu · 39 view · 8 min baca menit baca · Lingkungan 40626_77943.jpg

Kita dan Kertas terhadap Tantangan Lingkungan Hari Ini

Bagaimana perkembangan kertas saat ini?             

Kertas merupakan salah satu kebutuhan yang penting di dunia. Pada zaman yang berkembang dengan sangat cepat, kertas menjadi produk dengan tingkat konsumsi yang terus meningkat. Saat ini konsumsi kertas dunia sebanyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. 

Sementara di dalam negeri konsumsi kertas perkapita masih jauh dari rata-rata konsumsi negara lainnya sehingga masih sangat potensial untuk berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat konsumsi kertas yang cukup tinggi. 

Menurut Indonesia Pulp and Paper Association, jumlah kertas di Indonesia mencapai 27-30 kg perkapita. Meskipun jumlah tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi kertas di Malaysia dan Thailand sebanyak 115 dan 61 kg perkapita, namun hal tersebut berdampak pada kelestarian hutan di Indonesia. Keberadaan kertas menjadi sarana yang tergolong cukup penting dalam peradaban manusia dan kebutuhannya dari tahun ke tahun terus meningkat.

Kertas sendiri sudah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan manusia tidak hanya untuk kebutuhan belajar mengajar. Kertas sendiri sering kita gunakan seperti waktu belanja, parkir kendaraan, bayar tagihan, atm dan masuk jalan tol. Semuanya kita terima dalam bentuk struk kertas, bukan hanya itu kertas digunakan juga untuk membungkus makanan kita. 

Beberapa manfaat kertas dalam kehidupan kita sehari-hari antara lain: untuk menulis dan menggambar apa yang kita inginkan, sebagai bahan media pemasaran misalnya: brosur, pamphlet, poster dan banner, sebagai dokumentasi suatu peristiwa seperti: ijazah, surat tanah, surat perjanjian, sebagai bahan pendidikan dan pengajaran dibuat dalam bentuk-bentuk buku pelajaran.

Sebagai bahan pelindung untuk pengiriman barang seperti kardus, untuk membungkus makanan, sebagai kertas tisu untuk membersihkan kotoran, sebagai kerajinan tangan misalnya kertas lipat atau origami, untuk bahan baku sepatu, untuk pembersih kaca, bahan pembuatan uang kertas, sebagai kertas dinding (wallpaper).

Sebagai hiasan, dipakai buat hasil photo dan undangan, untuk pembuatan kartu nama, sebagai kertas memo peringatan, kertas kado untuk membungkus hadiah, kertas mm untuk menggambar bidang bangunan, dipakai sebagai perlengkapan kantor dan perusahaan lainnya, sebagai tempat untuk membuat suatu karya, digunakan untuk membuat mainan kertas. 

Kertas ada dimana-mana, kita sampai tidak menyadari bahwa semua itu tebuat dari bahan yang sama yaitu kertas. Itulah manfaat kertas, sebenarnya masih banyak yang belum kita ketahui dari kertas. Jadi janganlah kita pernah meremehkan kertas.

Di Indonesia, bahan utama pembuat kertas adalah dari bahan-bahan yang mengandung selulosa dan sampai saat ini masih lebih dari 90% industri pulp berbahan baku kayu bulat yang berasal dari hutan alam. Selulosa adalah suatu polisakarida yang tak larut dalam air dan merupakan zat pembentuk warna kulit sel tanaman. 


Selulosa terdapat lebih dari 50% dalam kayu, berwarna putih mempunyai kulit tarik yang besar. Serat selulosa diolah menjadi pulp, pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan tak berserat atau bisa dikatakan bubur kertas. Ada dua jenis bahan baku yaitu wood (Acasia, Eucaliptus, dsb) dan non wood (pelepah pisang, kenaf, bambu dsb). 

Bahan baku wood juga terbagi lagi menjadi 2 jenis yaitu kayu serat panjang (softwood) dan kayu serat pendek (hardwood), kedua bahan baku ini akan menghasilkan jenis pulp yang berbeda pula. Ada empat proses pembuatan kertas yaitu mekanis, kimia, semikimia, dan biologi. 

Secara umum proses pembuatan kertas pada industri pulp menggunakan proses kimia. Proses kimia yang digunakan pada industri pulp adalah proses Alkali Kraft. Berikut proses pembuatan pulp di industri pulp dan kertas: 1) WoodPreparation, merupakan tahap awal persiapan kayu sebagai bahan baku yang akan dijadikan serpihan kayu. 

2) Cooking, proses terpenting yang bertujuan melarutkan komponen lignin dalam kayu dengan menggunakan chemical dan panas. 3) Washing, setelah proses cooking tentunya pulp yang dihasilkan belum sepenuhnya bersih dari lignin yang terlarut tadi sehingga dilakukan washer diffuser atau press wash

4) Screening, selektif memisahkan zat-zat terlarut pulp. 5) Oxygen Delignification, yang bertujuan untuk membersihkan lignin yang masih tersisa dari pulping, sehingga mengurangi jumlah lignin yang masuk proses selanjutnya. 6) Bleacing, tujuannya meningkatkan kebersihan pulp, meningkatkan kecerahan dan mengeluarkan kotoran. 

Itulah secara umum proses pembuatan kertas yang dominan menggunakan serat kayu yang cenderung mengorbankan kayu-kayu di hutan sebagai dampaknya.

Bagaimana dampak industri kertas terhadap tantangan lingkungan hari ini?

Saat ini diperkirakan sekitar 95% industri kertas dunia menggunakan bahan baku kayu. Meningkatnya populasi penduduk dunia berdampak pada meningkatnya kebutuhan kertas dunia. 

Pada tahun 2020 diperkirakan kebutuhan kertas meningkat sebesar 77%, meningkatnya kebutuhan konsumsi kertas dunia menyebabkan tantangan dan tekanan tersendiri oleh lingkungan kedepannya, khususnya sumber daya alam hutan. Apalagi penggunaan printing press dan mekanisme penebangan kayu, kertas menjadi komoditas murah sehingga menyebabkan tingkat konsumsi kertas semakin naik. 

Konsumsi kertas naik 400% pada 40 tahun terakhir, dengan 35% pohon yang ditebang untuk produktivitas kertas. Dampak eksploitasi kayu secara besar-besaran menimbulkan isu seputar industri kertas terhadap tantangan lingkungan kedepannya seperti deforestasi hutan yang merupakan proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non hutan. 

Dampak lainnya seperti polusi udara, polusi air dan penggunaan bahan- bahan berbahaya. Bahan- bahan NO2, SO2, dan COmerupakan emisi dari pabrik kertas dimana NO2 dan SO2 menyebabkan hujan asam, sedangkan CO2 menyebabkan perubahan iklim akibat meningkatnya gas rumah kaca (global warming). 


Saat ini bumi sedang mengalami pemanasan global dengan berbagai dampak lingkungan yang membahayakan. Dari data IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) diketahui bahwa selama 150 tahun terakhir telah terjadi peningkatan suhu udara dan laut secara global, naiknya permukaan air laut, serta pengikisan es dan salju. 

PBB Menggagas adanya konvensi mengatasi perubahan iklim ini seperti Kyoto Protocol, Bali Action dan Copenhagen Accord. Hasil konvensi ini salah satu penyebabnya adalah penggundulan hutan yang antara lain digunakan sebagai bahan baku pulp untuk kertas. Industri kertas dari kayu banyak dikritisi oleh pemerhati lingkungan seperti Natural Resource Defense Council karena penggundulan hutan. 

Deforestasi juga merupakan problem di negara maju, misalnya pada tahun 1990-an setelah diprotes pemerhati lingkungan, pemerintah New Zealand memperhentikan ekspor chip kayu untuk pelestarian hutan. Meningkatnya wawasan lingkungan, maraknya gerakan sosial, adanya peraturan pemerintah maka kini kecenderungannya adalah modernisasi dan kelestarian pada industri pulp dan kertas, namun eksploitasi hutan masih tinggi.

Beberapa upaya pemecahan atau solusi dari kecenderungan produksi kertas dari bahan-bahan kayu di hutan yang berdampak pada deforestasi dan berakhir pada pemanasan global adalah merubah paradigma untuk memikirkan bagaimana memanfaatkan bahan alternatif lain. 

Bahan alternatif ini dapat digunakan untuk menggantikan peran dan kecenderungan terhadap kayu dalam pembuatan pulp kertas, lebih ramah lingkungan dan jumlah berlimpah di alam, mudah diperoleh, dapat diproduksi tanpa batas dalam industri kertas. Bahan alternatif ramah lingkungan ini memungkinkan dapat meminimalisir isu-isu dan tantangan perubahan lingkungan yang dapat merugikan kehidupan makhluk hidup di bumi. 

Bahan alternatif yang dapat digunakan antara lain: rumput laut, ampas tebu, sekam padi, rami, batang jagung, kulit jagung, batang rosella, pelepah pisang dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui bahwa rumput laut memiliki sebaran yang luas di pesisir Indonesia. Beberapa dari seluruh tanaman laut yang ada, sekitar 27% terdiri dari rumput laut. 

Apalagi Indonesia merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, dimana sekitar 80% diekspor dalam bentuk rumput laut kering sebagai bahan baku makanan, kosmetik, farmasi dan 20% untuk memasok industri pengolahan rumput laut dalam negeri. 

Rumput laut membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk tumbuh sedangkan pohon butuh waktu 10 tahun untuk bisa dimanfaatkan.  Dari segi komposisi kimia rumput laut kebanyakan mengandung polisakarida, sedikit protein, lipid atau lemak dan materi inorganik. 

Sedangkan komponen fisiknya terdiri dari material seperti agar atau keraginan yang mudah diekstrak dengan air panas, serta sejumlah kecil material padat yaitu endofibers. Setelah diektraksi material yang tinggal kebanyakan adalah endofibers yang dikenal dengan rhizoidal filamnent, internal filament dan hypha yang kemudian diputihkan menjadi pulp.

Dilihat dari hasil uji bahan baku berdasarkan uji kekuatan tarik, kekuatan sobek dan tingkat kecerahan rumput laut layak dipakai sebagai bahan baku kertas. Bahan alternatif ramah lingkungan lainnya berupa limbah pelepah pisang, pelepah pisang merupakan limbah pertanian yang pemanfaatannya belum optimal, padahal potensi bahan baku sangat berlimpah dan memilki karakteristik serat yang baik sehingga cocok sebagai bahan baku pembuatan pulp untuk industri kertas, karena kandungan selulosa yang tinggi sebesar 40-60% dan lignin yang rendah sebesar 5-10%. 


Serat pisang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap kelembaban dan awet disimpan dalam jangka yang lama. Serat batang pelepah dapat dibuat kertas seperti kertas gambar, peta, koran, cek, uang dan lain-lain. Dirjen Bina Produksi Holtikultura menyebutkan bahwa potensi buah pisang mencapai 31,87% dari total produksi buah di Indonesia, yang mana produksi buah pisang mencapai 5454 juta ton. 

Sehingga dengan adanya produksi buah pisang yang berlimpah ini akan meningkatkan jumlah pelepah pisang. Proses pembuatan pulp kertas dari pelepah pisang biasanya menggunakan proses organosol yaitu proses pemisahan serat dengan menggunakan bahan kimia organik seperti metanol, etanol, asam asetat dan lain-lain. 

Proses ini terbukti memberikan dampak yang baik bagi lingkungan dan sangat efisien dalam pemanfaatan sumber daya alam. Beberapa bahan alternatif lain seperti ampas tebu, kulit jagung, sekam padi, batang rosella, tandan kosong kelapa sawit dan bahan-bahan lain yang secara komposisi kimia, fisik serta telah teruji berdasarkan uji ketahanan daya tarik, ketahanan sobek, tingkat kecerahan sehingga layak dipakai sebagai bahan baku pulp dan kertas untuk mensubstitusi kayu dalam pembuatan industri kertas.

Beberapa penjelasan diatas dapat kita analisis bahwa peranan industri kertas dan pulp terhadap tantangan lingkungan menarik perhatian dunia khususnya Indonesia. Industri pulp dan kertas merupakan salah satu penyebab dari banyaknya penyebab tidak seimbanganya dan perubahan lingkungan secara global. 

Pasalnya hutan sebagai paru-paru dunia untuk menjaga keseimbangan iklim dan lingkungan berubah menjadi lahan gundul untuk kepentingan sekelompok kecil orang termasuk salah satunya industri kertas, dengan mengorbankan serta tanpa memikirkan kepentingan hajat hidup orang banyak. 

Dampak yang ditimbulkan dalam jangka panjang adalah tingginya kadarnya NO2, SO2 menjadi faktor pemicu hujan asam dan perubahan iklim, kemudian tingginya kadar CO2 dapat menyebabkan  peningkatan suhu bumi yang memicu terjadinya pemanasan global, sehingga secara signifikan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan keseimbangan lingkungan. 

Upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisir faktor penyebab kerusakan lingkungan, maka kita berusaha menemukan, menganalisis serta mencoba mencari bahan-bahan alternatif pengganti kayu dalam pembuatan kertas yang ramah lingkungan, setidaknya dapat mengurangi dampak dari perubahan lingkungan dengan tidak mengurangi kuantitas dan kualitas kertas yang dihasilkan. 

Beberapa bahan alternatif seperti rumput laut serta limbah-limbah organik seperti sekam padi, batang jangung, rosella, pelepah pisang dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut ternyata memilki sifat serat panjang, mengandung selulosa dan hemiselulosa yang berlimpah seperti halnya bahan baku kayu yang digunakan pada umumnya setelah dilakukan uji komposisi kimia, kondisi fisik, serta uji kelayakan bahan baku baik kuantitas dan kualitasnya sehingga memiliki prospek yang tinggi untuk membuat bahan baku pulp dalam industri kertas masa depan.

Artikel Terkait