Karyawan
1 bulan lalu · 18 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 36841_78980.jpg
Istockphoto

Kita dan Kertas (Kering-Tandus)

Semenjak e-book hadir di Indonesia, maka tren beralih ke buku publikasi dalam bentuk digital tersebut. Namun, euforia e-book tidak terlalu bertahan lama, hal ini dikarenakan keinginan konsumen untuk membaca melalui buku berbahan kertas lebih menyenangkan. Terlebih aroma kertas di dalam buku tak ditemukan dalam e-book.

Sama halnya, ketika di sebuah sekolah yang berusaha memberikan pekerjaan rumah kepada anak didik-nya melalui tablet. Di tengah jalan, sang guru dan anak merasa tidak siap untuk beralih dari kertas menuju gadget dalam menuntaskan proses belajar dan mengajar.

Kertas sudah menjadi bagian hidup manusia yang mungkin tidak terpisahkan. Semenjak sebuah komunikasi dapat dituangkan menjadi tulisan, maka di sana fungsi kertas mulai menjadi primadona.

Selain untuk media tulis menulis dan membaca, dewasa ini kertas juga beralih fungsi menjadi alat yang tak umum seperti pembungkus jajanan, barang jualan, kotak kemasan sampai kepada kerajinan tangan. Alhasil, peranan kertas menjadi penting dan dibutuhkan untuk beberapa sektor industri.

Jenis kertas pun bermacam-macam mengikuti kegunaanya. Namun, jenis HVS (HourVrij Schrijfpapier) yang memang sering digunakan untuk berbagai kebutuhan di banyak sektor. Sebut saja dunia pendidikan dan perkantoran.    

Ketika memasuki semester akhir dan harus menuntaskan perkuliahan maka mahasiswa akan membuat sebuah penelitian dalam bentuk skripsi. Satu mahasiswa dari outline hingga sidang akhir rata-rata menghabiskan sekitar 5-6 rim kertas.

Untuk mendapatkan 1 rim kertas dibutuhkan 1 pohon usia 5 tahun. Bayangkan, berapa jumlah pohon yang harus dihabiskan setiap tahunnya untuk memenuhi semua kebutuhan para mahasiswa/i di seluruh kampus negeri ini.


Pemandangan yang sama terlihat di perkantoran, pengadilan dan sebagainya dengan tumpukan berkas. Lautan kertas akan terlihat jelas dan fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan kertas selalu meningkat setiap tahunnya.

Tak hanya domestik, kebutuhan akan kertas juga meningkat di negara-negara lain. Sehingga Indonesia menjadi salah satu pemasok kertas terbesar untuk negara seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, India dan Amerika Serikat. Sedangkan untuk pulp (bahan baku kertas) ditujukan ke Korea Selatan, India, Bangladesh dan Jepang.

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Lina Bratasida bahwa di Januari – Februari 2019 ekspor kertas mencapai 780,04 ton terjadi kenaikan sekitar 0,92%. Volume ekspor tersebut diharapkan naik terus menerus hingga akhir tahun 2019.

Hal ini dilatarbelakangi karena Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan pulp yang lebih baik dibanding dengan negara-negara lainnya. Produktivitas tanaman penghasil kertas di Indonesia jauh lebih tinggi dan lebih baik karena berada di iklim tropis.

Dilema Kertas Menjadikan Lingkungan Kertas (Kering-Tandus)

Awal mula kertas dikenal dalam peradaban bangsa Mesir Kuno dengan menggunakan papirus sebagai media tulis menulis. Alhasil, perkembangan kertas sampai kepada negara-negara maju seperti Eropa dan dikenal sebagai paper. Begitu pula sampai kepada bumi pertiwi, di mana pada abad ke 7 kertas dikenal terbuat dari kulit kayu.

Bahan baku kertas dari kulit kayu akhirnya bekembang sampai saat ini menjadi serat kayu. Pada umumnya, kayu yang digunakan adalah kayu lunak seperti pinus dan cemara.

MENPERIN menyatakan bahwa pengembangan industri pulp dan kertas sangat didukung dari ketersediaan bahan baku kayu dari hutan tanaman industri, beriklim tropis yang memungkinkan tanaman pohon kayu dapat tubuh lebih cepat.

Demand yang tinggi terhadap pulp membuat sektor swasta berusaha memenuhi agar supply tercukupi setiap tahunnya. Masalahnya, waktu pohon yang digunakan untuk memproduksi bahan baku ini dapat mencapai 3-5 tahun.

Dalam mencapai target kebutuhan kertas baik domestik dan luar negeri. Sektor swasta mengoptimalkan penanaman pohon serta mengupayakan untuk memproduksi pulp sesuai dengan umur pohon. Namun, disayangkan untuk beberapa pihak swasta harus membuka lahan baru yang masuk zona hutan lindung.

Di samping itu, beberapa sektor swasta belum terlalu piawai menghijaukan kembali lahan sehingga banyak lahan dikategorikan sebagai lahan kritis. Menurut, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK) lahan kritis di Indonesia mencapai 14 juta hektare (ha) dan masih cukup rendah usaha dalam merehabilitasi lahan tersebut.


Lahan kritis tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, Sulawesi dan Papua. Upaya seperti rehabilitasi, reboisasi, pembangunan persemaian, konservasi dan sebagainya setidaknya dapat dilakukan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Jika tidak segera dilaksanakan maka lahan kritis, kering dan tandus di Indonesia akan meningkat setiap tahunnya. Ibarat–memakan buah simalakama, di satu sisi kebutuhan akan kertas meningkat dan di sisi lain, bahan baku yang digunakan dapat meninggalkan jejak yang buruk untuk lahan di bumi pertiwi.

Oleh karena itu, dibutuhkan adanya kerjasama dan kebijakan dari berbagai pihak. Pertama, pemerintah dengan ketentuan yang mengatur proses penanaman dan memproduksi hutan kayu dengan lahan yang dipakai. 

Kedua, pihak swasta mampu menghijaukan dan merawat lahan dengan teknologi yang mumpuni dan tidak hanya sekedar ‘meraup’ keuntungan. Terakhir, konsumen yang memakai kertas dalam kehidupan atau kegiatan sehari-hari.

3 Tanggung Jawa Konsumen terhadap Kertas 

Hemat Penggunaan

Tanggung jawab pertama adalah hemat dalam penggunaan. Sama halnya, orang tua hemat dalam menggunakan listrik untuk kebutuhan sehari-hari maka kertas juga haruslah demikian. Karena keduanya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan di masa depan.

Dimulai dari diri sendiri, di rumah sehingga terbawa ke kantor dan masyarakat. Menggunakan kertas seperlunya serta melakukan pemeriksaan ulang terhadap karya sebelum dicetak.

Hal sederhana lain adalah tidak merobek sebuah buku sehingga menghilangkan nilai estetikanya, alhasil tidak menggunakan buku tersebut lagi. Padahal isi kertas dalam buku masih banyak.

Manfaat Dua sampai Tiga Kali

Hal selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan kertas dengan fungsi yang berbeda sebanyak dua sampai tiga kali. Seperti contoh, kertas bekas dapat disusun rapi dan digunakan kembali untuk mencetak berbagai tugas dan keperluan lainnya.


Jika dirasa kertas tidak dapat digunakan lagi atau tidak ada space untuk kegiatan mencetak maka dapat dimanfaatkan atau diberikan kepada penjual untuk digunakan sebagai pembungkus barang dagangan. 

Hal lainnya, jika buku tulis yang dirasa masih penuh dengan kertas kosong, sebaiknya digunakan kembali. Apabila buku tersebut sudah penuh dapat dipisah-pisah secara baik dan diberikan kepada pedagang yang membutuhkan kertas sebagai pembungkus.  

Kreasi & Inovasi

Walaupun bukan sebagai seorang aktivitis lingkungan, setidaknya masyarakat dapat peka untuk berinovasi dan berkreasi dalam memanfaatkan kertas bekas. Seperti mendaur ulang atau membuat kertas-kertas bekas menjadi barang bernilai.

Melalui kreasi dan inovasi dan membuat kertas bekas menjadi mata pencaharian bahkan dalam skala besar dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Mengolah kertas bekas menjadi pajangan, hiasan, merchandise atau barang-barang unik lainnya.

Peranan kertas tentunya sangat penting dan tidak terlepas dari kehidupan terlebih untuk berjalannya roda perekonomian. Tak hanya sampai dibutuhkan saja, akan tetapi bagaimana upaya kita (Pemerintah, Swasta & Konsumen Akhir) dalam menjaga keseimbangan alam agar alam tidak kering dan tandus serta ‘ikhlas’ untuk selalu dapat dimanfaatkan secara positif. (AS)

Artikel Terkait