Ada saatnya kita berada pada titik nadir terendah bahkan saling bergesekan dengan dasar aspal jalan, dan pada posisi seperti itu reaksi spontan yang terlontar, “Salah saya apa?” Tidak ada yang berharap bahkan orang-orang terdekat kita sekalipun, puluhan tahun meniti anak tangga hingga tangga teratas tanpa cacat. Pencapaian tertinggi yang tidak terbayangkan sebelumnya, tiba-tiba runtuh berkeping-keping hingga bawah sadar kita.

Meskipun kita memiliki tingkat keahlian setinggi apapun dan semua orang di sekitar kita mengakui. Berbagai unjuk kebolehan dicoba untuk mendapatkan kepercayaan baru dari para pemegang kartu truf hasilnya tidak cukup menggembirakan, bahkan semakin memperburuk suasana. Frustasi, rendah diri, dan insecure bergelayut setiap berada di lingkungan mereka, upaya menghilang dan menjauh dari hiruk-pikuk kompetisi sering kali menghinggapi pilihan.

Hingga suatu ketika kita merasa tidak pantas berada di lingkungan tersebut, maka mengundurkan diri menjadi pilihan satu-satunya. Setiap diskusi selalu berakhir debat tak berujung di antara anggota keluarga untuk memulihkan kepercayaan. Hingga pada satu titik kita harus memilih dengan dilematis keluarga yang membutuhkan perhatian.

Seorang teman tiba-tiba menasehati untuk berpikir ulang sebelum keputusan gegabah diambil. Menurutnya menjadi seorang ahli, sering kali kita menukar pikiran khayalan “bagaimana jika” kita dengan kenyataan yang ada. Namun pengetahuan dan perubahan membutuhkan pikiran yang sedikit ringan. Dan, jika kamu memperbaiki asumsi bahwa apa yang diterima sebagai kebenaran memang adalah kebenaran, maka akan ada sedikit harapan untuk maju.

Sekembali di rumah, nasehat-nasehat tadi saya timbang ditambah spirit moril keluarga yang selalu berharap kejernihan bertindak, terbayang wajah iba istri dan anak-anak. Dalam kebimbangan, rasanya pilihan berpasrah menjadi pilihan yang layak diperjuangkan. Dengan segudang pengalaman seorang penyervis sepeda tidak akan mampu bertahan ketika dia tidak bersyukur, sebuah analogi yang cukup menenangkan hati saat itu.

Menjadi tukang servis sepeda tidak perlu bergelar enginer, baginya terpenting tahu teknik tambal, stel rantai, stel rem, stel gir sudah cukup. Bahkan tidak jarang temuan-temuannya dipatenkan dan dipasarkan. 

Pertanyaannya, kalau saja tukang servis sepeda menerima pendidikan yang lebih tinggi, mungkinkah mereka masih memiliki sikap yang sama seperti yang digambarkan oleh penyervis sepeda tadi? Tentu bisa berbeda.

Dalam perubahan, pengalaman yang didapatkan dengan susah payah, praktik terbaik, dan proses yang menjadi dasar kesuksesan sebuah perusahaan dapat menjadi batu sandungan yang mengancamnya tenggelam. Dengan kata lain, beban dari apa yang kita tahu, terutama apa yang sama-sama “tahu” membunuh perubahan. 

Situasi yang sama ketika saya merasa sangat berpengalaman sampai menganggap orang lain tidak ada artinya, maka fikiran itu akan menutup masukan orang lain dan program yang dihasilkan tidak akan pernah maksimal.

Langkah pembatalan pengunduran diri akhirnya saya lakukan. Awal 2019 menjadi titik balik untuk berusaha dengan meninggalkan kesombongan dan dendam. Dampak mulai terasa sejak mengikuti sebuah kompetisi dengan keberhasilan mempertahankan proposal yang dilombakan di hadapan para juri. 

Berpikir tanpa beban melalui kombinasi keahlian dan pengalaman menjadi penentu terbesar dalam penilaian tersebut, dan berhasil.

Setahap demi setahap tangga merangkak naik tanpa menanggalkan kesyukuran pada posisi yang diamanahkan. Kombinasi keilmuan dan pengalaman tetap diperlukan dan memulai dengan pikiran tanpa beban. Titik kesyukuran selalu menghiasi capaian hingga saat ini, titik terang mulai terlihat sembari berupaya agar tidak terperosok ke jurang yang sama.

Saya berpendapat bahwa kadang cara self-help seperti di atas tidak cukup. Setelah bekerja untuk dan dengan beberapa perusahaan terbaik sekalipun, saya yakin bahwa beban keahlian bisa jadi begitu berat hingga saat dihadapkan dengan perubahan, bantuan dari pihak luar kadang diperlukan. Bantuan pihak luar yang tidak terbebani oleh keahlian suatu tim untuk melampaui batasan pemikiran mereka.

Fase menutup diri yang pernah saya alami saat itu terbukti hanya merugikan diri kita sendiri. Saatnya kita membuka diri untuk menjelajahi segudang ide dan kemungkinan dalam memainkan peran di setiap perubahan. Mereka dapat membantu kita menggabungkan kekuatan pemikiran intuitif dan melepaskan beban apa yang kita tahu.

   

Tulisan ini adalah tentang sisi manusia dari sebuah inovasi, sisi yang bukan merupakan analisis keras dan cepat dimana banyak para pemimpin merasa paling nyaman, dan lebih merupakan sisi sosial dan bahkan, ya…emosi. Ini hanya mencoba mengingatkan diri saya sendiri bahwa setiap perubahan, setiap target, setiap konsep revolusioner adalah produk dari seorang manusia, atau lebih memungkinkan, produk sekelompok manusia.

Waktunya telah tiba bagi kita untuk memikirkan kembali kepercayaan-kepercayaan kita yang paling mendasar tentang siapa yang dapat memberikan nilai tambah dalam menciptakan gagasan-gagasan baru. 

Karena apa yang kita tahu, bagaimana kita telah dikondisikan untuk bekerja, bahkan apa yang ingin kita raih, semuanya menambatkan kita pada apa yang telah berjalan dan menghambat kemampuan kita untuk melihat kemungkinan baru.     

 

Wahyu Agung Prihartanto, Penulis dari Sidoarjo.